TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Jaga Kepercayaan di Era Digital, Easycash Perkuat GRC Berbasis Teknologi

Irawan Djoko Nugroho
19 August 2026 | 08:27
rubrik: Event, GCG
Jaga Kepercayaan di Era Digital, Easycash Perkuat GRC Berbasis Teknologi

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness — PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) menjadikan Governance, Risk and Compliance (GRC) bukan semata sebagai kewajiban memenuhi regulasi, melainkan sebagai fondasi untuk menjaga kepercayaan sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri PINDAR menghadapi tantangan berupa regulasi yang terus berkembang, risiko digital yang semakin kompleks, ancaman siber, perlindungan data pribadi, fraud, third party risk, serta persepsi masyarakat yang masih dipengaruhi keberadaan pinjaman online ilegal.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Harza Sandityo dalam Penjurian TOP GRC 2026 yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, (14/8/2026). Hadir pula dalam Penjurian, Komisaris Utama Jimmy Muhamad Rifai Gani, Head of Internal Audit Hardi, Head of Internal Control Enisa, dan Head of Regulatory & Compliance Rahmat Adrian. Selain itu, Manager Policy & Strategic Affairs Neta, Head of Corporate Affairs Wildan, serta Head of Human Resources Renda.

Menurut Harza Sandityo kembali, sebagai platform terbesar kedua berdasarkan roadmap OJK 2023–2028 dengan pangsa pasar lebih dari 9 persen dan tingkat complaint sebesar 2 persen pada 2025, Easycash membangun struktur pengelolaan GRC dengan pendekatan Three Lines of Defense.   

“Lini pertama berada pada operasional bisnis yang terlibat langsung dalam aktivitas manajemen risiko dan menerapkan internal control. Lini kedua menjalankan fungsi manajemen risiko dan kepatuhan, termasuk memberikan panduan, mengembangkan framework, serta mengawasi dan menguji aktivitas manajemen risiko. Lini ketiga melalui internal audit, melakukan peninjauan secara objektif terhadap lini pertama dan kedua serta memberikan perspektif independen dan assurance atas proses yang dijalankan,” kata Harza Sandityo.

Penerapan GRC di Easycash

Dalam menerapkan GRC di perusahaan, para pemimpin baik itu Dewan Komisaris, Direktur Utama, dan Sekretaris Perusahaan, ditempatkan sebagai bagian penting dari keberhasilan GRC. Mereka saling menjaga koordinasi lintas fungsi agar GRC terintegrasi ke dalam seluruh proses bisnis.

BACA JUGA:   TOP GRC Awards 2026 Siap Digelar 3 September, Angkat Tema Sustainability

Sementara itu pada pelaksanaan tata kelola, Easycash menerapkan prinsip Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness.

Transparansi diwujudkan antara lain melalui penyediaan informasi mengenai rincian pinjaman, biaya administrasi dan potensi return sebelum borrower maupun lender melakukan transaksi, serta publikasi laporan keuangan di website. Sepanjang 2025 hingga semester pertama 2026, perusahaan dicatat telah menyampaikan lebih dari 30 jenis laporan perlindungan konsumen dengan ketepatan waktu 100 persen.

Pada sisi integritas, Easycash memiliki Code of Conduct, deklarasi Conflict of Interest, Whistleblowing System, mandatory ethics training, Learning Management System, serta program Anti-Fraud Awareness. Pada manajemen risiko, Easycash bertumpu pada framework COSO Enterprise Risk Management (ERM).

Secara keseluruhan, Easycash telah mengimplementasikan GRC secara terintegrasi. Di mana, mencakup kepatuhan terhadap POJK LPBBTI, UU Pelindungan Data Pribadi, AML/CFT dan kode etik AFPI, sekaligus pengelolaan risiko kredit, fraud, operasional, keamanan siber dan keamanan informasi.

Teknologi Easycash di Level Risk Maturity

Guna memperkuat penerapan GRC, Easycash dicatat mengembangkan teknologi. Dalam pengembangan teknologi tersebut, perusahaan dicatat telah mencapai level risk maturity atau disebut Quantitatively Managed, atau advanced.

Hal ini ditandai dengan pengelolaan risiko berbasis data dan Key Risk Indicator (KRI), analitik prediktif serta integrasi lintas fungsi.

Easycash juga menempatkan pemanfaatan AI, machine learning dan big data untuk menjaga kualitas credit scoring sebagai bagian dari bukti penerapan tersebut. Sistem operasi yang adaptif serta dukungan tim profesional juga menjadi bagian dari pendekatan itu.

Pada sisi keamanan, Easycash menerapkan proactive threat detection, termasuk pembatasan percobaan autentikasi Two Factor Authentication (2FA) yang salah secara berulang untuk mengurangi risiko akses tidak sah.

Bukukan Penguatan Fundamental Bisnis

BACA JUGA:   Tata Kelola CSR Bumi Siak Pusako adalah Jalan Menuju Perusahaan Global

Sebagai platform pinjaman daring yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Easycash yang berdiri sejak 2017 berkat menerapkan GRC, membukukan banyak capaian bisnis. Seperti misalnya, total peminjam dicatat sebesar 10,44 juta dan total pinjaman akumulatif Rp99,96 triliun.

Selain itu, sebanyak 1,38 juta peminjam aktif dan total pinjaman yang masih terutang dicatat sebesar Rp6,82 triliun. Tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB90) dicatat mencapai 99,01 persen.

Easycash juga berhasil membukukan penguatan fundamental bisnis. Pada 2025, pendapatan bersih Easycash meningkat dari Rp13,98 miliar pada 2024 menjadi Rp29,17 miliar atau tumbuh 108,66 persen.

Total aset meningkat dari Rp283,41 miliar menjadi Rp507,36 miliar, sedangkan total ekuitas naik dari Rp140,47 miliar menjadi Rp169,65 miliar.

“Semua data tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola dan manajemen risiko berjalan bersamaan dengan penguatan skala bisnis, aset, dan struktur permodalan perusahaan,” kata Harza Sandityo.

Miliki Dimensi Sosial

Penerapan GRC, selain berimbas pada kinerja juga memiliki dimensi sosial. Terlebih Easycash juga memasukkan aspek ESG ke dalam proses bisnis, mulai dari operasional digital, perluasan akses keuangan hingga tata kelola teknologi dan data.

Dimensi sosial tersebut, salah satunya tampak pada inovasi ChatPindar. Inovasi ini, merupakan edukasi keuangan berbasis AI yang telah diakses lebih dari 5.000 pengguna di 110 kabupaten dan kota serta menjawab lebih dari 6.000 pertanyaan.

Demikian pula Modul Bijak Keuangan (MOJANG), dicatat telah menjangkau 295 ribu orang di 50 kota di Indonesia. Sementara itu, Fintopia Corporate University (FCU) menjadi sarana pengembangan karyawan secara berkelanjutan.

FCU sejak diluncurkan pada Mei 2025, bahkan menjadi platform pembelajaran strategis untuk memperkuat kompetensi talenta yang adaptif terhadap dinamika industri PINDAR.

BACA JUGA:   Lewat GRC Terintegrasi, Semen Baturaja Bangun Ketahanan Bisnis di Tengah Ketatnya Industri Semen

Selama periode Mei 2025–Juli 2026 dicatat diselenggarakan 36 sesi pelatihan, 25 program pelatihan dan sertifikasi individu, serta 666 peserta training dari mitra dan institusi. Adapun rata-rata tingkat kepuasan peserta mencapai 3,69 dari 4,00.

Tags: EasycashTOP GRC Awards 2026
Previous Post

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham YPAS

Next Post

Lintasarta Jadikan GRC sebagai Strategic Enabler untuk Kawal Bisnis Digital

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR