Jakarta, TopBusiness — Permukaan Waduk Cengklik di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pernah dipenuhi hamparan eceng gondok. Tanaman air yang tumbuh cepat itu menutup sebagian perairan, mengganggu ekosistem, sekaligus mempersulit aktivitas masyarakat di sekitar waduk.
Bagi sebagian orang, eceng gondok adalah gulma yang harus dibersihkan. Namun bagi PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Sumarmo, tanaman ini justru menjadi peluang inovasi.
Melalui program Gondok Serap Limbah Polusi (GOSIP), eceng gondok diolah menjadi bioabsorben ramah lingkungan yang mampu menyerap ceceran minyak dalam kegiatan operasional perusahaan.
Inovasi tersebut dipaparkan dalam penjurian TOP CSR Awards 2026 yang berlangsung secara daring pada Jumat (6/3/2026). Materi dipresentasikan oleh Aviation Fuel Terminal Manager (AFT) Adi Sumarmo, Hendra Permana Hermanto, bersama tim CSR perusahaan.
Dalam penjurian tersebut, Dewan Juri terdiri atas Thendri Supriatno (CFCD), Dwinda Ruslan (Yayasan Pakem), AJ Boesra (Yayasan Kepak Sayapku), dan Teguh Imam Suyudi (TopBusiness).
TOP CSR Awards sendiri merupakan ajang apresiasi nasional yang memberikan penghargaan kepada perusahaan dengan implementasi CSR yang dinilai efektif dan berdampak luas. Tahun ini, ajang tersebut mengangkat tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development.”
Menurut Hendra Permana Hermanto, program GOSIP lahir dari proses pemetaan sosial yang dilakukan perusahaan di wilayah ring satu operasional, khususnya Desa Sobokerto yang berada di sekitar Waduk Cengklik.
Pemetaan tersebut menemukan dua kondisi utama. Di satu sisi, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali mengancam ekosistem waduk serta mengganggu aktivitas masyarakat. Di sisi lain, masyarakat di sekitar waduk juga membutuhkan peluang ekonomi baru.
“Dari situ kami melihat bahwa masalah lingkungan ini sebenarnya menyimpan potensi. Eceng gondok bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi operasional perusahaan,” ujar Hendra.
Sebagai terminal penyimpanan dan distribusi bahan bakar pesawat (avtur), AFT Adi Sumarmo memiliki potensi risiko operasional berupa ceceran minyak dalam proses distribusi.
Absorben untuk menyerap ceceran tersebut biasanya menggunakan produk pabrikan. Namun melalui inovasi GOSIP, perusahaan mencoba menghadirkan alternatif berbasis bahan alami yang lebih ramah lingkungan.
Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Pengembangan bioabsorben dari eceng gondok tidak dilakukan sendiri. Perusahaan menggandeng kalangan akademisi untuk memastikan kualitas produk yang dihasilkan.
Pertamina AFT Adi Sumarmo bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam pelatihan teknis serta pengembangan formulasi bioabsorben.
Selain itu, pengujian laboratorium juga dilakukan bersama Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman untuk mengukur kemampuan penyerapan minyak dari material tersebut.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa bioabsorben berbahan eceng gondok memiliki kemampuan penyerapan minyak yang cukup kompetitif dibandingkan produk komersial.
“Ini membuktikan bahwa bahan lokal yang sederhana sekalipun dapat menjadi solusi inovatif jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah,” kata Hendra.
Masyarakat sebagai Produsen
Salah satu kekuatan utama program GOSIP adalah keterlibatan masyarakat.
Warga Desa Sobokerto tidak hanya dilibatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai produsen bioabsorben yang diproduksi secara mandiri.
Proses produksi dimulai dari pengumpulan eceng gondok, pencacahan, pengeringan, penggilingan, hingga pengemasan menjadi kantong bioabsorben.
Dalam satu siklus produksi, sekitar 625 kilogram eceng gondok dapat diolah menjadi 167 kantong bioabsorben yang kemudian digunakan dalam operasional perusahaan.
Produk tersebut memberikan nilai ekonomi baru bagi kelompok masyarakat binaan.
Dari satu kali produksi, kelompok masyarakat dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp 4,17 juta, sementara perusahaan juga memperoleh efisiensi biaya karena dapat mengurangi penggunaan absorbent pabrikan.
“Program ini kami rancang agar menciptakan shared value. Perusahaan mendapatkan solusi operasional yang lebih ramah lingkungan, sementara masyarakat memperoleh sumber pendapatan baru,” ujar Hendra.
Dampak Lingkungan
Selain memberi manfaat ekonomi, program ini juga berkontribusi terhadap upaya pemulihan lingkungan di Waduk Cengklik.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku bioabsorben membantu mengurangi tutupan gulma di perairan waduk.
Program ini tercatat mampu menurunkan tutupan eceng gondok sekitar 0,016 hektare per tahun serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 43,6 kilogram CO₂e per tahun.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung prinsip keberlanjutan lingkungan.
Membangun Kepercayaan Masyarakat
Program GOSIP juga memperkuat hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar.
Berdasarkan hasil pengukuran Social License Index, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan mencapai skor 9,53 atau masuk kategori “Full Trust.”
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menerima kehadiran perusahaan, tetapi juga merasa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan lingkungan dan kesejahteraan bersama.
“Kepercayaan masyarakat adalah fondasi penting bagi keberlanjutan operasional perusahaan. Karena itu kami berupaya menjalankan program CSR yang benar-benar memberikan manfaat nyata,” kata Hendra.
Menuju Ekonomi Sirkular
Program GOSIP merupakan bagian dari inisiatif besar Masyarakat Sobokerto Peduli Waduk Cengklik (MASOPILI) yang bertujuan memulihkan ekosistem waduk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain bioabsorben, masyarakat juga mengembangkan berbagai produk turunan dari eceng gondok, seperti: biogas, pupuk organik, energi listrik terbarukan, dan pakan ikan organik.
Diversifikasi produk tersebut diharapkan dapat memperkuat model ekonomi sirkular di kawasan Waduk Cengklik.
Untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat, juga telah dibentuk koperasi pemasaran Ngudi Makmur Mandiri sebagai wadah pengembangan usaha kelompok masyarakat.
CSR sebagai Strategi Berkelanjutan
Bagi Pertamina Patra Niaga AFT Adi Sumarmo, program CSR bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi bagian dari strategi bisnis berkelanjutan.
Melalui program GOSIP, perusahaan tidak hanya mengurangi potensi risiko lingkungan operasional, tetapi juga memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan akademisi dapat menciptakan solusi inovatif yang memberikan manfaat bersama.
“Program ini membuktikan bahwa CSR bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi jangka panjang untuk keberlanjutan perusahaan dan masyarakat,” ujar Hendra.
Ke depan, inovasi GOSIP diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa.
Dengan pendekatan tersebut, gulma eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai masalah lingkungan justru dapat menjadi sumber solusi bagi keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
