Jakarta, TopBusiness – Sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di Indonesia, PT Prodia Widyahusada Tbk (IDX: Prodia) atau Prodia dicatat memiliki jaringan luas dengan lebih dari 400 outlet yang tersebar di berbagai provinsi dan kota.
Setiap tahun perusahaan melayani jutaan pelanggan dan menjalankan puluhan juta pemeriksaan laboratorium. Skala operasional tersebut menjadi landasan penting bagi perusahaan untuk memperluas dampak sosial melalui program CSR yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan edukasi preventif.
Hal tersebut disampaikan AVP Legal IR & Corporate Secretary, Marina Eka Amalia dalam Penjurian TOP CSR Award 2026, Jumat (13/3/2026). Dalam Penjurian yang juga dihadiri oleh Corsec Assistant Manager Fenty Diah Pusparini, Marina Eka Amalia menyatakan jika Prodia menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat sekaligus memperkuat kinerja Perusahaan.
Penempatan keberlanjutan tersebut, bahkan didukung dengan keterlibatan aktif Direksi atau Komisaris dalam isu CSR/ESG. Baik dalam prosedur penanganan pencemaran lingkungan dan isu kepatuhan; Proses perumusan program CSR/ESG; Kajian Risiko terkait Perubahan Iklim, Teknologi, dan Regulasi; hingga dalam menghadirkan ESG Blueprint 2024-2030.
“Dukungan aktif Direksi atau Komisaris berdampak langsung pada terukur banyaknya indikator yang berkaitan dengan ESG. Beberapa diantaranya misalnya, Reduksi (Peningkatan) Emisi GRK, Pemakaian Air, dan Biaya Lingkungan Hidup,” kata Marina.
Reduksi (Peningkatan) Emisi GRK tahun 2023 dicatat sebesar (42,01) Ton CO2eq,tahun 2024 sebesar (406,20) Ton CO2eq, dan tahun 2025 menjadi sebesar 151,03 Ton CO2eq. Pemakaian Air tahun 2023 sebesar 13,21 Megaliter, tahun 2024 sebesar 13,54 Megaliter, dan tahun 2025 menjadi 13,05 Megaliter. Sementara itu, Biaya Lingkungan Hidup tahun 2023 sebesar 296.983,00 Ribu Rupiah, tahun 2024 sebesar 345.803,60 Ribu Rupiah, dan tahun 2025 menjadi 342.319,60 Ribu Rupiah.
CSR sebagai Strategi Keberlanjutan
Prodia mengintegrasikan program CSR dengan kerangka ESG yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Program ini dirancang dengan menyesuaikan karakteristik bisnis perusahaan di bidang layanan kesehatan.
Pada aspek lingkungan, fokus utama diarahkan pada pengelolaan limbah medis dan laboratorium serta penerapan prinsip bangunan ramah lingkungan di berbagai cabang. Dari sisi sosial, program difokuskan pada peningkatan kesehatan preventif masyarakat yang didahului dengan survei kebutuhan komunitas sekitar.
Sementara itu pada aspek tata kelola, seluruh kegiatan CSR dijalankan dengan mengacu pada kepatuhan regulasi, penerapan standar operasional perusahaan, serta penguatan sistem pengendalian internal dan whistleblowing system.
Pendekatan ini membuat CSR tidak hanya menjadi kegiatan sosial yang bersifat insidental, tetapi menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Capaian Program CSR
Sepanjang 2025, Prodia melaksanakan berbagai kegiatan tanggung jawab sosial yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut dilaksanakan berdasarkan standar operasional perusahaan dalam pengelolaan kegiatan sosial dan CSR.
Target program CSR perusahaan pada tahun tersebut adalah minimal satu kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan di setiap wilayah kerja dengan sasaran penerima manfaat minimal 3.000 orang. Realisasinya melampaui target tersebut. Tercatat 20 kegiatan CSR berhasil dilaksanakan di berbagai wilayah dengan lebih dari 30.000 penerima manfaat. Total dana yang dialokasikan untuk program ini mencapai lebih dari Rp1,5 miliar.
Kegiatan tersebut antara lain mencakup pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak panti asuhan serta dukungan peralatan laboratorium bagi fasilitas kesehatan daerah yang terdampak bencana. Program-program ini menunjukkan bagaimana peran perusahaan dapat hadir secara langsung dalam membantu meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat.
Program Unggulan: Skrining Demensia Gratis
Salah satu program CSR unggulan Prodia adalah program skrining demensia gratis yang ditujukan bagi masyarakat berusia 50 tahun ke atas. Program ini berlangsung sepanjang tahun 2025 di seluruh cabang Prodia yang memiliki izin klinik.
Tujuan utama program ini adalah mendorong deteksi dini demensia sehingga kualitas hidup lansia dapat dipertahankan lebih baik. Melalui program ini masyarakat tidak hanya mendapatkan pemeriksaan, tetapi juga edukasi mengenai risiko demensia serta pentingnya deteksi dini.
Hasilnya menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi. Program ini berhasil menjangkau hampir 30.000 peserta. Dari jumlah tersebut, 747 peserta melanjutkan pemeriksaan lanjutan menggunakan tes MOCA-INA setelah melalui skrining awal.
Kegiatan ini juga didukung oleh berbagai aktivitas edukasi seperti seminar, open booth, kunjungan komunitas, serta kampanye media sosial yang meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan kognitif pada usia lanjut.
Melalui pendekatan tersebut, program skrining demensia tidak hanya memberikan layanan kesehatan, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan deteksi dini penyakit.
Program Unggulan: Pemeriksaan Genetik Penyakit Langka
Program CSR unggulan lainnya adalah pemeriksaan genetik gratis bagi penderita penyakit langka. Program ini telah dijalankan sejak 2019 dan terus berkembang hingga 2026.
Pada tahap awal, pemeriksaan dilakukan menggunakan teknologi Chromosomal Microarray Analysis (CMA). Pada 2019 sebanyak 60 penerima manfaat mendapatkan pemeriksaan tersebut, kemudian meningkat menjadi 150 penerima manfaat pada 2023. Program ini bahkan memperoleh pengakuan dari Museum Rekor Indonesia sebagai penyedia pemeriksaan genetik terbanyak bagi komunitas penyakit langka di Indonesia.
Melalui pemeriksaan ini tingkat deteksi kelainan genetik meningkat hingga 28 persen. Nilai kontribusi program CMA pada periode 2019 dan 2023 mencapai lebih dari Rp1,4 miliar.
Pada 2025 hingga 2026, program ini diperluas dengan teknologi Whole Exome Sequencing (WES) yang memungkinkan analisis genetik lebih mendalam. Sebanyak 36 penerima manfaat mengikuti program ini dan hasil evaluasinya direncanakan dipaparkan pada awal 2026.
“Dampak dari program tersebut tidak hanya membantu proses diagnosis dan perencanaan perawatan pasien, tetapi juga membuka akses terhadap layanan genetik yang selama ini memiliki biaya tinggi. Selain itu, kegiatan edukasi seperti seminar, diskusi, dan webinar turut meningkatkan pemahaman keluarga pasien, tenaga medis, serta masyarakat mengenai penyakit langka,” kata Marina.
Dampak Positif bagi Masyarakat dan Perusahaan
Melalui berbagai program CSR/ESG, Prodia berupaya memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan kesehatan masyarakat. Program-program tersebut membantu memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan preventif, serta mendukung deteksi dini berbagai penyakit.
Dari sisi perusahaan, implementasi ESG juga memberikan manfaat strategis. Efisiensi energi dan pengelolaan limbah medis membantu menekan biaya operasional sekaligus mengurangi risiko lingkungan. Di sisi sosial, peningkatan kualitas layanan kesehatan serta kontribusi kepada masyarakat memperkuat reputasi perusahaan dan meningkatkan loyalitas pelanggan. Sementara itu tata kelola yang transparan dan patuh terhadap regulasi memperkuat kepercayaan investor dan pemangku kepentingan.
“Dengan semua pendekatan tersebut, keberlanjutan tidak hanya menjadi komitmen moral, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Melalui integrasi CSR/ESG, perusahaan berupaya menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkas Marina.*
