Jakarta, TopBusiness — Direktur Utama Made Arya Amitaba menegaskan bahwa keikutsertaan PT BPR Sukawati Pancakanti atau BPR Kanti dalam ajang TOP CSR Awards 2026 bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan menjadi strategi pembelajaran untuk memperkuat dampak sosial perusahaan.
Menurutnya, partisipasi tersebut lebih difokuskan sebagai sarana pembelajaran untuk memperkaya wawasan dan meningkatkan kualitas program perusahaan, khususnya dalam bidang tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR).
“Sejak awal kami mengikuti kegiatan ini bukan dalam konteks mengejar penghargaan. Kami melihatnya sebagai ajang pembelajaran untuk mendapatkan insight baru yang tidak kami temukan dalam aktivitas rutin perusahaan,” ujar Made Arya Amitaba alias Made Arya, kepada Dewan Juri TOP CSR Awards 2026 yang berlangsung daring di Jakarta, Jumat (17/04/2026).
Turut hadir dalam penjurian kali ini ada Ni Wayan Tantri selaku Komisaris, I Ketut Tantra (Direktur Kepatuhan), Ketut Derestayasa (Kadiv SDM Umum Treasury), I Gede Agus Atmaja (Kadiv Humas & TI), dan Ni Made Ayu Suni Yulianti (Kabag SDM), serta Made Prajna Paramitha Dewi atau sapaan akrabnya, Ajna sebagai Wakadiv Humas & TI.
Ia menjelaskan, sebagai lembaga keuangan mikro berbasis komunitas, BPR Kanti memiliki aktivitas operasional yang padat dan berulang. Namun, tanpa membuka diri terhadap praktik dan perspektif dari luar, perusahaan berisiko kehilangan peluang untuk berkembang dan berinovasi.
Melalui keterlibatan dalam forum CSR dan penjurian, pihaknya memperoleh berbagai perspektif baru yang dinilai berdampak langsung terhadap penguatan bisnis inti perusahaan.
Lebih lanjut, Made Arya mengungkapkan bahwa komitmen perusahaan terhadap program CSR juga semakin diperkuat melalui keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dalam keputusan tersebut, alokasi dana CSR ditingkatkan menjadi 5 persen dari total yang sebelumnya.
“Kami sudah menetapkan bahwa dana CSR ditingkatkan menjadi 5 persen. Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran BPR Kanti dalam mendukung lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa arah pemanfaatan dana CSR tersebut difokuskan pada penguatan kemandirian komunitas, khususnya dalam konteks perekonomian Bali yang sangat erat dengan sektor pariwisata dan struktur sosial berbasis adat.
Sebagaimana diketahui, komitmen terhadap CSR terus diperkuat oleh BPR Kanti melalui pendekatan strategis yang terintegrasi dengan bisnis serta berlandaskan tata kelola yang baik. Dalam dokumen presentasi program CSR untuk ajang penghargaan, perusahaan menegaskan bahwa aspek kepemimpinan dan tata kelola menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan program sosialnya.
Pada fokus pertama bertajuk Leadership & Tata Kelola, BPR Kanti menempatkan peran direksi dan komisaris sebagai penggerak utama dalam memastikan CSR tidak sekadar aktivitas filantropi, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Pendekatan ini dikenal sebagai tone from the top, di mana pimpinan perusahaan secara aktif mengarahkan kebijakan CSR agar selaras dengan tujuan perusahaan sekaligus kebutuhan masyarakat.
Direksi dan komisaris disebut telah memposisikan CSR sebagai alat manajemen risiko sosial sekaligus sarana memperkuat reputasi perusahaan di tengah masyarakat. Hal ini tercermin dari berbagai program berbasis adat dan komunitas yang dijalankan, seperti Masyarakat Desa Adat (MDA) Kanti Kertha Bali Nugraha, program “Tahu Diri Berbalas Budi”, hingga pencetakan buku hukum adat dan penataan perkawinan. Program-program tersebut dirancang untuk menjaga harmoni sosial sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal.
Dalam implementasinya, pengelolaan CSR dilakukan secara lintas divisi. Tidak hanya menjadi tanggung jawab satu unit, program ini melibatkan berbagai bagian seperti Divisi SDM, Umum, Treasury, Humas, hingga Teknologi Informasi. Kolaborasi ini bertujuan memastikan program berjalan efektif, terukur, dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Dari sisi kebijakan, BPR Kanti menegaskan nilai-nilai utama yang menjadi landasan pelaksanaan CSR, yaitu integritas, tanggung jawab, dan independensi. Nilai-nilai tersebut diperkuat melalui penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG), penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta sistem kontrol internal yang ketat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada hasil program, tetapi juga proses yang transparan dan akuntabel.
Keputusan strategis perusahaan dalam menjalankan CSR juga diarahkan pada program-program yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan stabilitas sosial. Investasi CSR difokuskan pada kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam menjaga keseimbangan sosial di lingkungan operasional perusahaan.
Selain itu, BPR Kanti mengedepankan ekspansi berbasis komunitas dengan menjalin kemitraan bersama desa adat. Strategi ini dinilai efektif untuk meminimalisasi potensi konflik sosial sekaligus membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat.
Pendekatan berbasis adat yang diusung perusahaan juga menjadi keunggulan tersendiri. Dengan memahami struktur sosial dan budaya lokal, program CSR tidak hanya diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih mendalam dan berkelanjutan.
Melalui strategi ini, BPR Kanti menunjukkan bahwa CSR dapat menjadi instrumen penting dalam mendukung keberlanjutan bisnis sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Integrasi antara kepemimpinan, tata kelola, dan pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci dalam memastikan program CSR berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata.
Perusahaan diharapkan terus mengembangkan inovasi program CSR yang adaptif terhadap dinamika sosial, sehingga mampu memperkuat peran sektor keuangan dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai wilayah yang bertumpu pada pariwisata, ekonomi Bali sangat dipengaruhi oleh keberlangsungan budaya, adat istiadat, serta peran desa adat sebagai fondasi utama. Dalam hal ini, BPR Kanti berupaya mengambil peran untuk membantu komunitas agar tidak sepenuhnya bergantung pada satu sektor saja.
“Melalui CSR, kami ingin membantu komunitas agar bisa lebih mandiri, tidak hanya bergantung pada desa adat sebagai penopang ekonomi. Ini penting untuk keberlanjutan jangka panjang,” tambahnya.
Partisipasi dalam CSR Awards, lanjutnya, memberikan pemahaman yang lebih komprehensif terkait praktik terbaik dalam pelaksanaan program CSR. Hal ini menjadi bekal penting bagi perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas program di masa mendatang.
Made Arya optimistis, dengan kombinasi antara komitmen internal dan pembelajaran eksternal, BPR Kanti dapat menghadirkan program CSR yang lebih berdampak, terarah, dan berkelanjutan.
“Ke depan, kami ingin melakukan lebih banyak dan lebih baik lagi. Insight yang kami dapatkan dari kegiatan ini akan menjadi dasar untuk pengembangan program CSR kami di tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.
