TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Industri Tekstil Stabil Walau Harga Bahan Baku Naik

Achmad Adhito
21 April 2026 | 13:17
rubrik: Ekonomi
BI: Perbankan Longgarkan Standar Penyaluran Kredit Q4 2025

Ilustrasi Perjanjian Bisnis (Sumber: Freepik/PikiSuperStar)

Jakarta, TopBusiness—Pemerintah melalui Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional hingga saat ini masih beroperasi secara relatif stabil, meskipun dihadapkan pada dinamika global yang memengaruhi harga dan ketersediaan bahan baku.

“Kami terus mencermati fluktuasi harga bahan baku global yang berdampak pada industri TPT nasional, dengan memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan kelancaran rantai pasok,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Dalam rapat koordinasi bersama asosiasi industri dan pelaku usaha, teridentifikasi bahwa tekanan utama saat ini berasal dari kenaikan harga bahan baku berbasis energi yang terjadi secara global. Harga paraxylene (PX) domestik, misalnya, mengalami kenaikan sekitar 40 persen mengikuti pergerakan harga internasional.

Di sisi lain, pasokan bahan baku kimia seperti monoethylene glycol (MEG) masih dalam kondisi aman hingga April, meskipun untuk periode setelahnya masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Kenaikan harga tersebut secara alami berdampak pada struktur biaya di sepanjang rantai produksi, mulai dari industri hulu hingga hilir. Hal ini pun turut memengaruhi harga kain dan produk intermediate, serta biaya komponen pendukung seperti kemasan berbasis plastik. Selain itu, dalam beberapa kasus juga ditemukan adanya penyesuaian pada aktivitas ekspor, termasuk retur barang akibat dinamika pasar global.

Namun demikian, industri nasional menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. Pelaku usaha tetap menjaga keberlangsungan produksi melalui pengelolaan stok, penyesuaian strategi pengadaan, serta penguatan koordinasi dengan pemasok bahan baku. Permintaan domestik juga masih menunjukkan aktivitas, sementara peluang ekspor tetap terbuka seiring dengan perubahan kondisi di negara pesaing.

BACA JUGA:   Industri Makanan-Minuman Mulai Pulih Pasca-Covid

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya mengatakan, dalam penguatan struktur industri, keberadaan serat rayon sebagai produk berbasis sumber daya alam dalam negeri menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga keseimbangan industri.

“Di tengah tekanan pada bahan baku berbasis petrokimia seperti polyester, pemanfaatan rayon yang diproduksi di dalam negeri memberikan alternatif bahan baku yang kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri,” ujarnya.

Rizky menuturkan, sinergi antara serat alam dan serat sintetis ini menjadi bagian dari strategi adaptasi industri nasional dalam merespons dinamika global, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi di sektor hilir.

Rizky mengungkapkan, beberapa subsektor memang memerlukan perhatian lebih, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku spesifik tanpa substitusi. Sebagai contoh, industri hygiene seperti popok (diapers) memiliki ketergantungan pada beberapa komponen utama, sehingga ketersediaan setiap bahan menjadi sangat krusial dalam menjaga keberlanjutan produksi.

Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku industri memandang periode saat ini sebagai fase penting untuk mengamati dampak lanjutan dari dinamika global ini. Langkah antisipasi terus dilakukan, termasuk melalui pemetaan komoditas bahan baku kritikal serta identifikasi potensi risiko secara dini, guna memastikan kesiapan industri menghadapi berbagai kemungkinan.

Sebagai bagian dari upaya penguatan respons kebijakan, Kemenperin tengah mengembangkan sistem monitoring terpadu untuk melakukan pemantauan dan analisis berbasis data secara real-time. Selain itu, berbagai opsi kebijakan juga tengah dikaji secara komprehensif, antara lain pemberian insentif fiskal untuk bahan baku strategis, dukungan efisiensi energi, serta penyesuaian kebijakan perdagangan untuk menjaga kelancaran pasokan.

Pemerintah juga menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan secara menyeluruh, baik dari sisi tarif, fasilitas fiskal, energi, maupun instrumen perdagangan, agar mampu mendukung keseimbangan rantai nilai industri dari hulu hingga hilir.

BACA JUGA:   Pengembangan KSPN Borobudur Tingkatkan Kualitas Rumah Untuk Pondok Wisata

“Industri TPT kita memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi struktur, pasar domestik, maupun pengalaman menghadapi berbagai siklus global. Dengan langkah antisipatif yang terukur dan kolaborasi yang erat, kami optimis industri ini akan tetap tumbuh dan semakin resilien,” katanya.

Tags: agus kartasasmitaharga bahan baku tekstilindustri tekstilkemenperin
Previous Post

Dari Inovasi ke Pengujian Nyata, Semen Merah Putih Uji Implementasi MPTree

Next Post

Pertumbuhan Reksadana Tahun Ini Dibayangi Isu Panas Perang Iran-AS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR