Jakarta, TopBusiness – PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (Perseroda) atau PT JIEP terus memperkuat peran Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bagian integral dari strategi bisnis berkelanjutan.
Tidak sekadar menjalankan kewajiban sosial, perusahaan menjadikan TJSL sebagai instrumen strategis dalam menciptakan nilai (value creation), memitigasi risiko, sekaligus memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan di sekitar kawasan industri.
Corporate Secretary & TJSL PT JIEP, Medik Endra Wahyudi, menegaskan bahwa implementasi TJSL perusahaan mengacu pada prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) serta selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
“Program TJSL kami tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rencana strategis perusahaan. Kami menjadikannya sebagai risk mitigation tools untuk mengelola dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas industri, sekaligus menjadi value creation driver bagi perusahaan,” ujar Medik dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2026.
Sebagai BUMD dengan kepemilikan mayoritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar 53,06%, JIEP mengelola kawasan industri seluas 433 hektare di Jakarta Timur dengan lebih dari 400 tenant nasional dan multinasional. Dalam konteks tersebut, pengelolaan dampak operasional menjadi krusial agar keberlanjutan bisnis tetap terjaga.
Menurut Medik, perusahaan menghadapi berbagai potensi risiko, mulai dari perubahan iklim, pencemaran lingkungan, hingga tekanan sosial di sekitar kawasan industri. Oleh karena itu, program TJSL difokuskan pada pengurangan risiko tersebut melalui pendekatan preventif dan kolaboratif.
“Melalui TJSL, kami ingin memastikan tidak terjadi resistensi sosial, sekaligus memperkuat hubungan dengan stakeholder. Ini penting untuk menjaga keberlangsungan operasional kawasan industri,” jelasnya.
Tujuh Program TJSL Unggulan
Strategi tersebut diwujudkan melalui sejumlah program TJSL unggulan yang menyasar tiga pilar utama ESG, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Ada tujuh program CSR unggulan PT JIEP, yaitu JIEP Green Industry, JIEP Waste Management, JIEP Peduli, JIEP INISIASI, JIEP Clean Sanitation, JIEP Goes to School, dan JIEP Beasiswa.
Di aspek lingkungan, JIEP menjalankan program JIEP Green Industry dengan penanaman lebih dari 2.000 pohon serta pengembangan urban farming untuk meningkatkan kualitas udara dan menekan emisi di kawasan industri. Program ini juga berkontribusi pada pencapaian SDG 13 (penanganan perubahan iklim) dan SDG 15 (ekosistem daratan).
Selain itu, program JIEP Waste Management menjadi langkah konkret perusahaan dalam mengelola limbah berbasis ekonomi sirkular. Melalui fasilitas TPS3R, JIEP mencatat pengelolaan sampah mencapai 83.019,6 kg pada 2024 dan meningkat menjadi 117.155 kg pada 2025. Limbah organik diolah menjadi kompos, sementara limbah bernilai ekonomi dijual ke pihak ketiga.
“Pengelolaan sampah ini tidak hanya mengurangi beban ke TPA, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Medik.
Di bidang sosial, JIEP mengembangkan program JIEP INISIASI yang fokus pada penanganan stunting melalui intervensi gizi dan edukasi bagi ibu hamil serta balita. Program ini menjangkau 30 balita dan 20 ibu hamil/menyusui di wilayah Jatinegara dan Rawaterate, dengan pemberian makanan tambahan selama 50 hari serta pemantauan berkala.
Sementara itu, program JIEP Clean Sanitation menghadirkan inovasi sanitasi berbasis biogas melalui pembangunan septic tank komunal berkapasitas 20 m³. Program ini telah memberikan akses sanitasi layak bagi 2.064 jiwa atau 688 kepala keluarga, sekaligus menghasilkan energi alternatif bagi 20 rumah tangga dengan potensi penghematan Rp250.000 per tahun.
Menariknya, program ini juga mencatat nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,73, yang menunjukkan manfaat sosial-ekonomi lebih besar dibandingkan investasi yang dikeluarkan.
Dalam penguatan SDM, JIEP menjalankan program JIEP Goes to School dan JIEP Beasiswa. Melalui program ini, perusahaan memberikan edukasi kesiapan kerja kepada 220 siswa di SMAN 89 Jakarta Timur serta menyalurkan beasiswa kepada siswa berprestasi.
Hasilnya cukup signifikan. Dari 10 penerima beasiswa, sebanyak 7 siswa berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri melalui jalur UTBK.
“Program ini merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan SDM unggul, sekaligus memperkuat hubungan kami dengan masyarakat sekitar,” ujar Medik.
Tata Kelola dan Integrasi ISO 26000
Dari sisi tata kelola, JIEP menerapkan siklus manajemen TJSL yang komprehensif, mulai dari identifikasi stakeholder, analisis isu, perencanaan, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi. Seluruh program juga diintegrasikan dengan standar ISO 26000, khususnya pada aspek community involvement, pendidikan, dan hak asasi manusia.
Pelaporan dilakukan secara transparan melalui sustainability report, sebagai bentuk akuntabilitas kepada publik dan pemangku kepentingan.
Berbagai inisiatif tersebut turut mengantarkan JIEP meraih sejumlah penghargaan, antara lain TOP CSR Awards 2025 dan Best Green CEO Awards 2025.
Ke depan, perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus mengintegrasikan TJSL dengan strategi bisnis, sejalan dengan visinya menjadi kawasan industri terpadu, cerdas, dan berkelanjutan.
“Keberhasilan bisnis saat ini tidak hanya diukur dari profit, tetapi juga dari kontribusi nyata terhadap lingkungan dan masyarakat. Di situlah peran TJSL menjadi sangat strategis,” ucap Medik.
