TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Dari Mangrove hingga Cacao Plantation, Strategi CSR ABL Group Bangun Masa Depan Masyarakat Pesisir

Busthomi
13 May 2026 | 16:25
rubrik: CSR, Event
Dari Mangrove hingga Cacao Plantation, Strategi CSR ABL Group Bangun Masa Depan Masyarakat Pesisir

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Asian Bulk Logistics (ABL Group) terus memperkuat implementasi program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan, perusahaan pelayaran dan logistik maritim tersebut berupaya menciptakan dampak berkelanjutan di wilayah operasionalnya.

Dalam presentasi pada ajang TOP CSR Awards 2026, ABL Group memaparkan berbagai inisiatif sosial dan lingkungan yang dijalankan perusahaan, mulai dari penanaman mangrove, penyediaan akses air bersih, pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, hingga inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Hermawan selaku Chief Human Resources Officer (CHRO) ABL Group mengatakan, perusahaan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan keberadaan operasional perusahaan memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.

“Di setiap area operasi kami, kami selalu berupaya memberikan value added kepada komunitas sekitar. Kami ingin keberadaan perusahaan benar-benar membawa manfaat bagi stakeholder, khususnya masyarakat pesisir,” ujar Hermawan di depan dewan juri saat penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Rabu (13/5/2026).

Hadir dalam penjurian kali ini menemani Hermawan yakni Edward selaku Head of Learning and Development, Arya sebagai Head of Recruitment and CSR, dan Reindi sebagai Head of Performance Management and CSR.

Menurut Hermawan, semangat tersebut menjadi bagian penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan, terutama karena ABL bergerak di sektor maritim yang bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat pesisir.

ABL Group sendiri memiliki wilayah operasional yang tersebar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara seperti Australia, Singapura, Timur Tengah, hingga Afrika Barat. Perseroan menargetkan menjadi perusahaan multi-billion USD enterprise pada 2030 dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Fokus pada Tiga Pilar ESG

Dalam implementasi CSR dan ESG, ABL Group memetakan program keberlanjutan ke dalam tiga pilar utama, yakni lingkungan, sosial, dan tata kelola.

BACA JUGA:   PT Indo Makmur Foods Luncurkan Inisiatif CSR “Makmur Bersama” untuk Mendukung Komunitas Lokal

Pada aspek lingkungan, perusahaan menjalankan berbagai program konservasi dan pengurangan dampak ekologis di wilayah pesisir dan laut. Salah satu program unggulan ialah penanaman 3.945 bibit mangrove di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Program tersebut dinilai penting untuk mencegah abrasi yang berpotensi mengancam permukiman masyarakat pesisir di masa mendatang.

“Kalau mangrove tidak ditanam, beberapa tahun ke depan abrasi akan mulai terjadi dan berdampak pada desa-desa di sekitar wilayah pesisir. Karena itu kami fokus menjaga ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan biota laut,” kata Hermawan.

Selain mangrove, perusahaan juga menjalankan program konservasi terumbu karang bekerja sama dengan sejumlah pihak di Kalimantan Timur. Langkah itu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem bawah laut di sekitar area operasional perusahaan.

ABL juga memperkuat pengelolaan lingkungan melalui inovasi waste management berbasis teknologi. Salah satunya dengan pengembangan alat PITARA (Plastik Jadi BBM) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Program tersebut dikembangkan di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, guna membantu mengatasi persoalan sampah plastik di kawasan wisata.

Melalui teknologi tersebut, sampah plastik diolah menjadi bahan bakar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan genset masyarakat maupun fasilitas umum.

“Kami mencoba menciptakan solusi agar sampah plastik memiliki nilai tambah. Ini sejalan dengan program pemerintah terkait pengelolaan sampah,” ujar Hermawan.

Menurut dia, mesin pengolahan sampah plastik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 20 liter dan diharapkan mulai diimplementasikan secara penuh pada pertengahan 2026.

Penyediaan Air Bersih bagi Warga Pulau

Selain fokus pada lingkungan, ABL Group juga memperkuat infrastruktur dasar masyarakat melalui pembangunan embung air bersih di Pulau Maratua, salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Embung berukuran 25 x 25 meter tersebut dilengkapi sistem filtrasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 3.500 warga atau sekitar 22 kepala keluarga yang sebelumnya sangat bergantung pada air hujan.

BACA JUGA:   PT Kaltim Nitrate Indonesia Berdayakan Istri Nelayan plus Wujudkan Batik Khas Bontang

“Kondisi musim kemarau cukup menyulitkan masyarakat di pulau. Karena itu kami membangun embung dan sistem filtrasi agar masyarakat memiliki akses air bersih yang lebih baik,” jelas Hermawan.

Program tersebut kini dikelola bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat agar keberlanjutan operasionalnya tetap terjaga.

Tidak hanya itu, perusahaan juga membangun fasilitas wisata berupa pondok istirahat “Bulk Borneo” di kawasan tracking mangrove yang disebut sebagai salah satu tracking mangrove terpanjang kedua di Indonesia.

Pembangunan fasilitas tersebut bertujuan mendukung pengembangan wisata berbasis lingkungan sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat lokal.

Dorong Kemandirian Ekonomi Nelayan

Pada aspek sosial dan ekonomi, ABL Group mengembangkan program pemberdayaan masyarakat pesisir melalui budidaya kakao atau cacao plantation, di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Berau.

Perusahaan mengembangkan lahan kakao seluas 20 hektare sebagai alternatif sumber penghasilan bagi masyarakat nelayan, khususnya saat kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut.

ABL menyediakan bibit, pupuk, pendampingan, hingga akses pasar bagi masyarakat penerima manfaat.

“Kami ingin nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut. Ketika ombak tinggi dan tidak bisa melaut, mereka tetap memiliki sumber penghasilan dari kebun kakao,” kata Hermawan.

Perusahaan bahkan menggandeng perusahaan cokelat di Bandung, Jawa Barat untuk memastikan hasil panen masyarakat terserap pasar.

Program tersebut dirancang sebagai kebun keluarga yang dapat dikelola bersama oleh anggota keluarga nelayan dan diharapkan menjadi sumber ekonomi jangka panjang karena tanaman kakao memiliki usia produktif hingga puluhan tahun.

Selain itu, ABL juga menjalankan program hatchery ikan kerapu di SMKN 3 Berau. Program ini menjadi pusat pembibitan sekaligus pelatihan bagi sekitar 200 siswa dan sembilan kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan).

Melalui program tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pembelajaran teori, tetapi juga praktik langsung mengenai budidaya ikan, pengelolaan hatchery, hingga pemasaran hasil budidaya.

BACA JUGA:   CSR Unggulan PT PLN Puslitbang Dukung Transisi Energi Berkelanjutan

“Anak-anak nelayan perlu memiliki keterampilan yang siap pakai. Karena itu kami mendukung sekolah-sekolah agar siswa memiliki pengalaman praktik dan nilai tambah setelah lulus,” ujar Hermawan.

Pendidikan dan Literasi Digital

ABL Group juga memperkuat sektor pendidikan melalui program literasi digital dan pemberian beasiswa bagi anak-anak masyarakat pesisir.

Perusahaan secara rutin mendonasikan lebih dari 400 buku dan perangkat laptop kepada siswa di Pulau Maratua melalui program Sekolah Alam.

Selain itu, ABL memberikan beasiswa kepada anak-anak nelayan, guru honorer, dan guru mengaji dari keluarga kurang mampu.

Perusahaan juga menjalankan program cadetship atau magang teknis bagi siswa sekolah pelayaran di berbagai wilayah operasional perusahaan.

Menurut Hermawan, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun masa depan masyarakat pesisir.

“Kami ingin anak-anak pesisir memiliki kesempatan menjadi pemimpin di daerahnya masing-masing. Pendidikan menjadi salah satu investasi sosial jangka panjang yang kami dorong,” katanya dengan menambahkan, pihaknya juga bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi swasta di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat untuk memberikan pendidikan terhadap anak-anak di sana melalui kuliah online.

Integrasi ESG dalam Budaya Perusahaan

ABL Group menegaskan bahwa implementasi CSR dan ESG dijalankan secara terintegrasi dalam budaya perusahaan.

Perusahaan memiliki roadmap ESG lima tahunan yang menjadi dasar implementasi strategi keberlanjutan di seluruh lini bisnis.

ABL juga mengembangkan green jobs melalui peningkatan kompetensi karyawan dan membangun budaya kerja berkelanjutan.

Selain itu, perusahaan memperkuat prinsip Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) melalui kebijakan kesetaraan kesempatan kerja, lingkungan kerja inklusif, dan sistem remunerasi yang adil.

Komitmen tersebut dijalankan melalui inisiatif ABL HR Green yang mulai diterapkan sejak 2024.

“Bagi kami, ESG bukan sekadar program, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi bisnis dan budaya perusahaan,” Hermawan mengakhiri.

Tags: PT Asian Bulk LogisticsTOP CSR Awards 2026
Previous Post

CSR sebagai Strategi Bisnis Berkelanjutan, BPR Bahteramas Konawe Perkuat Dampak Sosial dan Ekonomi Daerah

Next Post

IHSG Ambruk di Penutupan Perdagangan, Saham Big Caps Jadi Penekan Indeks

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR