TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Semoga Perbankan Aman-Terkendali

Achmad Adhito
28 May 2026 | 07:03
rubrik: Featured
Mandiri Sekuritas  Rekomendasi Buy Saham BBTN, BSDE, dan GOTO

Sumber Ilustrasi: Dhi/Open AI

Ada optimistis bahwa, didera perang Timur Tengah, stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga. Pengalaman menghadapi krisis sebelumnya, termasuk pandemi Covid-19, menjadi bekal penting menjaga stabilitas ekonomi.

Apa hendak dikata, sebagai konsekuensi sistem ekonomi terbuka, perbankan nasional memang akrab dengan deraan ekonomi makro nasional atau bahkan global. Tercatat, ada beberapa angin ekonomi besar yang kerap datang ke bisnis bank nasional.

Yang bisa dikatakan terdahsyat adalah pada krisis nilai tukar Rupiah di 1997, yang berdampak ke robohnya perbankan nasional. Contoh lainnya yang–bisa dikatakan–tak sedahsyat krisis 1997 itu adalah badai gejolak ekonomi global akibat krisis kredit perumahan di AS. Lalu, ada juga badai akibat Covid-19.

Kini, di saat perbankan nasional siap lepas landas pasca-Covid, cobaan berikutnya bisa muncul, yakni efek goncangan dari ekonomi global akibat perang antara Iran versus AS-Israel. Memang, kini efek tersebut belum terlalu terlihat.

Kalangan regulator perbankan pun masih cenderung mengatakan bahwa perbankan nasional akan kokoh merespons efek perang tersebut.

Sebagai contoh, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan ke media belum lama ini, bahwa memang perang tersebut berpotensi memengaruhi permintaan kredit perbankan di Indonesia. Dampak tersebut terutama dirasakan oleh sektor usaha yang memiliki keterkaitan kuat dengan pasar internasional.

Tapi ia optimistis stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga. Pengalaman menghadapi krisis sebelumnya, termasuk pandemi Covid-19, menjadi bekal penting bagi pemerintah dan otoritas keuangan dalam menjaga stabilitas ekonomi.

“Kita melihat bahwa upaya-upaya yang kita lakukan, maksud saya di sektor kita paling tidak, untuk mengamankan financial stability itu, mungkin insyaallah itu tidak akan terlalu ganggu, terlalu serius. Kita pernah menghadapi krisis yang berat seperti Covid,” kata Dian.

BACA JUGA:   Intip Tuah Juragan Bank Asing

Adapun sebelum perang itu dimulai, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2026 diprediksi di kisaran 8% hingga 12% secara year on year (YoY). “Sementara itu, tahun 2025, kredit itu bisa tumbuh di 9,69% atau ada rentang prediksi di 8% hingga 11% YoY,” kata ‘pilot bank sentral Indonesia itu.

Wah, astaga, diwarnai dampak ekonomi global akibat perang Iran versus AS-Israel, akan seperti apa pertumbuhan sektor perbankan di tahun ini dan seterusnya?

Sejumlah Dampak

Dalam webinar Top BUMD Awards 2026, belum lama ini, pakar ekonomi Bhima Yudisthira, mengupas sejumlah dampak bila perang Iran versus AS-Israel berlangsung lama. Begini, ekonom muda itu membilang bahwa tekanan inflasi energi bisa berlangsung ketika perang itu digelar lama. “Bahkan, efek itu lebih besar ketimbang efek serupa dari perang Ukraina-Rusia. Sebabnya, 20% energi kan dipasok dari Selat Hormuz.”

Tekanan inflasi pangan pun bisa lahir dari berlarutnya duel Iran versus AS-Israel. Contoh nyata hal itu: naiknya harga LNG tentu menaikkan harga pangan.

Adapun di sistem moneter, Bhima memaparkan, nilai tukar Rupiah bisa terus turun; suku bunga di tahun 2026 bisa saja naik 100 basis poin. “Walhasil, tahun ini, kita mungkin sulit berharap bahwa suku bunga perbankan akan turun,” Bhima memprediksi.

Nah, dari prediksi sang ekonom tersebut, bukankah kita bisa saja secara ‘rada serampangan’ menebak bahwa laju pertumbuhan bisnis perbankan nasional bisa tersendat di tahun 2026?

Tetapi yang jelas, di minggu ketiga April 2026, para petinggi Kebun Sirih-lokasi kantor pusat Bank Indonesia-masih belum mengerek BI Rate. Ya, pada 22 April 2026, mereka memutuskan memertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.

BACA JUGA:   Saatnya UMKM dan Ritel Modern Bersanding

“Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah,” kata Perry Warjiyo, sang gubernur Bank Indonesia.

Keterangan resmi dari Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, menyebutkan bahwa perang di Timur Tengah makin memerburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Harga minyak dan komoditas dunia meningkat tinggi, dan diikuti dengan disrupsi rantai pasok perdagangan antarnegara yang makin dalam.

Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 makin melambat menjadi 3,0% dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,1%. Inflasi global juga diprakirakan lebih tinggi menjadi 4,2% dari prakiraan sebelumnya sebesar 4,1%, sehingga makin memersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global.

Anton pun mengatakan bahwa penurunan Fed Funds Rate (FFR) diprakirakan mundur atau bahkan bertahan hingga akhir 2026. Imbal hasil (yield) US Treasury juga terus meningkat dipengaruhi dampak prakiraan defisit fiskal AS yang lebih besar.

Merespons hal itu, bank sentral Indonesia terus memerkuat pertumbuhan kredit perbankan guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh sebesar 9,49% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 9,37% (yoy).

“Ketahanan perbankan tetap kuat untuk memitigasi risiko dampak dari perang Timur Tengah,” kata Anton. Perkembangan ini ditandai dengan likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah. 

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Februari 2026 tercatat tinggi sebesar 25,83%, yang tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,17% (bruto) dan 0,83% (neto) pada Februari 2026.

BACA JUGA:   Tiga Tantangan Perbankan Nasional Hadapi MEA

“Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan gejolak global dari perang Timur Tengah, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga,” kata Anton pula.

Mudah-mudahan, walau perang tersebut tak menyurut, bisnis perbankan nasional atau pun ekonomi nasional, tetap aman-terkendali, ya.

*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di Majalah TopBusiness Edisi Mei 2026

Perang Timur Tengah dan Perbankan

NoIndikator / PeristiwaTahun / PeriodeNilai / AngkaKeterangan
1Proyeksi pertumbuhan kredit20268% – 12% (YoY)Disampaikan Bank Indonesia
2Realisasi/proyeksi kredit20259,69% (range 8%–11%)Pertumbuhan tahunan
3Potensi kenaikan suku bunga2026+100 basis poinPrediksi Bhima Yudisthira
4Pasokan energi global via Selat Hormuz–20%Faktor risiko inflasi energi
5BI RateApril 20264,75%Dipertahankan
6Pertumbuhan ekonomi global (revisi)20263,0%Turun dari 3,1%
7Inflasi global (revisi)20264,2%Naik dari 4,1%
8Pertumbuhan kredit perbankanMaret 20269,49% (YoY)Naik dari Februari
9Capital Adequacy Ratio (CAR)Feb 202625,83%Modal perbankan kuat
10Non-Performing Loan (NPL) netoFeb 20260,83%Lebih rendah (net)
11Yield US Treasury2026MeningkatDipicu defisit fiskal AS
Dari Berbagai Sumber; Diolah Menggunakan Open AI)

Tags: dampak perang timur tengahperbankan
Previous Post

Hutama Karya Pantau Trafik JTTS Selama Libur Panjang Idul Adha, Waisak, dan Hari Lahir Pancasila Periode 26 Mei 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR