TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Sudah Pulih Namun Bertahap, Kok

Agus Haryanto
3 July 2026 | 08:19
rubrik: Featured
Prediksi Ekonomi Global 2026 dari KKSK

Sumber Ilustrasi: Freepik

Ada kondisi yang menunjukkan bahwa pemulihan di sisi rumah tangga sebagai pengguna utama kredit konsumsi belum sepenuhnya solid.

Kinerja kredit ritel atau konsumer perbankan dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan sinyal pemulihan, meskipun lajunya masih relatif terbatas. Di tengah tekanan suku bunga yang masih tinggi dan meningkatnya kehati-hatian perbankan, ekspansi kredit di segmen ini belum sepenuhnya kembali menjadi motor utama pertumbuhan industri perbankan.

Secara agregat, pertumbuhan kredit perbankan nasional masih berada dalam tren positif. Pada Januari 2026, total penyaluran kredit mencapai sekitar Rp7.400 triliun, atau tumbuh 9,96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini meningkat dibandingkan posisi Januari 2025 yang sebesar Rp6.700 triliun, sekaligus melanjutkan momentum ekspansi yang telah terbentuk sejak akhir 2025. Sebagai perbandingan, pada Desember 2025 kredit perbankan masih mencatatkan pertumbuhan 9,69 persen yoy.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan bahwa permintaan pembiayaan secara umum tetap terjaga, didukung oleh stabilitas sektor keuangan dan aktivitas ekonomi yang mulai pulih. Namun demikian, jika ditelusuri lebih rinci, terdapat disparitas pertumbuhan antarsegmen kredit, di mana kredit konsumsi masih tertinggal dibandingkan kredit investasi maupun kredit modal kerja.

Sepanjang 2025, outstanding kredit konsumsi tercatat sebesar Rp2.339,6 triliun, tumbuh 6,58 persen yoy dari posisi Rp2.195,1 triliun pada akhir 2024. Secara nominal, kenaikan kredit konsumsi hanya sekitar Rp144,5 triliun—angka yang relatif terbatas jika dibandingkan dengan lonjakan kredit investasi yang mampu tumbuh di atas 20 persen yoy dalam periode yang sama.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan di sisi rumah tangga sebagai pengguna utama kredit konsumsi belum sepenuhnya solid. Sementara sektor korporasi mulai meningkatkan aktivitas investasi, rumah tangga masih cenderung berhati-hati dalam mengambil utang baru.

BACA JUGA:   Gurihnya Properti di Jalur MRT

Memasuki 2026, segmen kredit konsumer mulai memperlihatkan arah pemulihan secara bertahap. Perbaikan ini didorong oleh ekspektasi konsumsi masyarakat yang mulai meningkat, seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi domestik dan potensi pelonggaran kebijakan moneter ke depan.

Segmen kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) diperkirakan akan menjadi penggerak utama pertumbuhan kredit ritel. Permintaan terhadap perumahan tetap tinggi, didorong oleh kebutuhan hunian yang masih besar, terutama dari kelompok usia produktif. Di sisi lain, kebutuhan mobilitas yang meningkat pascapandemi turut mendukung permintaan kendaraan bermotor.

Meski demikian, tidak semua jenis kredit konsumsi mengalami pemulihan yang seragam. Kredit tanpa agunan (KTA), misalnya, masih cenderung disalurkan secara selektif oleh perbankan. Tingkat risiko yang relatif lebih tinggi, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi, membuat bank lebih berhati-hati dalam memperluas portofolio di segmen ini.

Pengamat perbankan Piter Abdullah menilai bahwa faktor utama yang menahan laju kredit konsumer berasal dari sisi permintaan. “Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menjadi kendala utama dalam mendorong ekspansi kredit,” kata Pieter ke media massa.

Selain itu, perubahan perilaku konsumen juga turut memengaruhi. Rumah tangga kini cenderung lebih konservatif dalam mengelola keuangan, dengan prioritas pada kebutuhan pokok dan penguatan tabungan, dibandingkan mengambil kewajiban kredit baru.

Suku Bunga dan Likuiditas

Salah satu faktor kunci yang masih membayangi pertumbuhan kredit konsumer adalah tingkat suku bunga yang relatif tinggi. Sepanjang 2025, suku bunga kredit berada di kisaran 9 persen, yang dinilai cukup menahan minat masyarakat untuk mengambil pembiayaan, khususnya untuk pembelian rumah dan kendaraan.

Tingginya suku bunga tidak hanya meningkatkan biaya pinjaman, tetapi juga memengaruhi kemampuan cicilan (affordability) rumah tangga. Dalam kondisi ini, banyak calon debitur memilih untuk menunda keputusan kredit hingga terdapat kepastian penurunan suku bunga.

BACA JUGA:   Saham Syariah, Alternatif yang Kian Berkilau

Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan juga menjadi faktor penentu. Persaingan dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK) mendorong bank menawarkan suku bunga deposito yang relatif tinggi. Hal ini berdampak pada meningkatnya cost of fund, yang pada akhirnya membatasi ruang perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit secara agresif.

Tekanan eksternal turut mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter. Ketidakpastian global, fluktuasi nilai tukar, serta tekanan inflasi internasional membuat otoritas moneter perlu menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk melalui kebijakan suku bunga yang berhati-hati.

Dalam konteks ini, sikap kehati-hatian perbankan menjadi semakin menonjol. Bank cenderung memperketat standar penyaluran kredit (underwriting) guna menjaga kualitas aset. Langkah ini dinilai sebagai respons yang wajar untuk memitigasi potensi peningkatan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Secara keseluruhan, kinerja kredit ritel atau konsumer menunjukkan arah pemulihan yang positif, tetapi belum sepenuhnya kuat. Pertumbuhan masih bersifat gradual dan selektif, dengan segmen KPR dan KKB sebagai penopang utama. (AI)

*Tulisan Ini juga Dimuat di Majalah TopBusiness Beberapa Waktu Lalu

Tags: Kredit konsumerkredit ritel
Previous Post

PP Properti: Alihkan Hotel Rp133 Miliar ke Hotel Indonesia dan InJourney

Next Post

Ada Kans Lanjutkan Rebound, Empat Saham Ini Direkomendasikan: BRPT, PTRO, BNBR, dan SCMA

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR