Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina Gas (Pertagas) terus memperkuat implementasi Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) sebagai fondasi tata kelola perusahaan dalam mendukung keberlanjutan bisnis dan ketahanan energi nasional.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama Pertagas, Indra P. Sembiring, saat memaparkan presentasi bertajuk “Sustainability by Design: Journey Through Intelligent GRC” di hadapan Dewan Juri TOP GRC Awards 2026 yang berlangsung secara online, di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Dalam paparannya, Indra menyampaikan bahwa Pertagas memandang penerapan GRC sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari strategi perusahaan untuk mewujudkan pengelolaan infrastruktur energi yang andal, efisien, inovatif, serta mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Melalui Sustainability by Design: Journey Through Intelligent GRC, kami ingin menunjukkan bagaimana Pertagas membangun tata kelola perusahaan yang kuat sebagai bagian dari perjalanan menuju keberlanjutan,” ujar Indra.
Selain pimpinan tertinggi di Pertagas, tampak hadir Lafrik Bano Rangkuty sebagai Komisaris dan Ketua Komite Manajemen Risiko, diikuti Muhammad Suryadi (Direktur Manajemen Risiko).
Selanjutnya, Indrian Pratama selaku VP Risk, Quality and Management, M. Irfan Asruri (Manajer Risk Operation), Abesaji (Manajer Quality Manajemen), Ika Kusuma Wardhani (Senior Project Risk Officer), dan Novan Nurjaman (Risk and Quality Management), serta Aurellia Putri (Risk and Quality Management).
Indra menjelaskan, Pertagas memiliki visi menjadi perusahaan infrastruktur energi berkelas dunia yang mendukung ketahanan energi nasional. Visi tersebut diwujudkan melalui tiga misi utama, yakni mengembangkan dan mengelola infrastruktur energi yang andal, efisien, dan inovatif, mendorong penciptaan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dengan tetap memperhatikan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), serta memperkuat daya saing perusahaan melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, dan kemitraan strategis.
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa Pertagas merupakan salah satu Subholding Gas Pertamina yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan dan pengembangan infrastruktur energi nasional. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transmisi, distribusi, serta pengolahan gas bumi, Pertagas tidak hanya bertugas mengalirkan energi kepada pelanggan, tetapi juga memastikan ketersediaan energi yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan. Dalam menghadapi tantangan industri energi pada periode 2025–2026, perusahaan mengembangkan strategi bisnis yang berorientasi pada pertumbuhan, inovasi, digitalisasi, serta penguatan tata kelola perusahaan (GRC).
Model Bisnis
Model bisnis Pertagas menggambarkan bagaimana perusahaan menciptakan nilai dari hulu hingga hilir sektor gas bumi. Kegiatan bisnis diawali dengan proses Gas Sourcing, yaitu memperoleh pasokan gas dari berbagai produsen untuk menjamin ketersediaan energi.
Selanjutnya, gas dialirkan melalui jaringan infrastruktur energi, yang meliputi pipa transmisi, fasilitas pengolahan, terminal LNG, fasilitas CNG, serta berbagai sarana pendukung lainnya. Infrastruktur tersebut memungkinkan distribusi energi berlangsung secara efisien dan aman.
Tahap berikutnya adalah Retail dan Trading, yaitu kegiatan penjualan dan perdagangan gas maupun produk energi lainnya kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari industri, pembangkit listrik, hingga sektor komersial. Ketiga tahapan tersebut saling terintegrasi sehingga membentuk rantai bisnis yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Menurutnya, transformasi perusahaan juga tercermin dari penguatan budaya kerja. Pertagas sebelumnya mengimplementasikan nilai-nilai AKHLAK dan selanjutnya bertransformasi menuju nilai perusahaan One Pertamina sebagai bagian dari penyelarasan budaya di lingkungan Grup Pertamina.
Seluruh strategi dan aktivitas Pertagas dilaksanakan berdasarkan nilai-nilai AKHLAK, yaitu Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Nilai tersebut menjadi budaya kerja perusahaan dalam memberikan pelayanan terbaik, meningkatkan profesionalisme, memperkuat kerja sama, serta mendorong inovasi yang berkelanjutan.
Melalui penerapan nilai AKHLAK dan transformasi One Pertamina, Pertagas berupaya menjadi perusahaan energi yang semakin kompetitif, adaptif terhadap perubahan, dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Pertagas berperan pada sektor midstream dengan menghubungkan sumber pasokan gas (gas sourcing) kepada para pelanggan melalui pengelolaan infrastruktur energi. Aktivitas bisnis tersebut dijalankan melalui lima lini usaha utama, yaitu gas transportation, oil transportation, terminal usage, LPG sales, dan facility usage.
Untuk mendukung operasional bisnis tersebut, Pertagas didukung oleh anak perusahaan dan perusahaan patungan yang menjadi bagian dari ekosistem bisnis perusahaan sehingga mampu memperkuat pengelolaan infrastruktur energi secara terintegrasi.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Pertagas didukung oleh sejumlah anak perusahaan dan perusahaan patungan yang memiliki spesialisasi di berbagai bidang, seperti pengelolaan jaringan pipa, LNG, CNG, terminal energi, hingga perdagangan energi. Sinergi antarperusahaan tersebut memungkinkan Pertagas memperluas cakupan bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat daya saing perusahaan di tingkat nasional maupun internasional.
Lebih lanjut, Indra menjelaskan bahwa Pertagas menjalankan strategi bisnis melalui konsep Grow, Adapt, Step Out yang diperkuat dengan Operation Excellence.
Strategi Grow diarahkan untuk mendorong pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan. Strategi Adapt menjadi upaya perusahaan dalam merespons berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis.
Sementara Step Out difokuskan pada ekspansi usaha dan penciptaan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Seluruh strategi tersebut dijalankan dengan mengedepankan Operation Excellence, yaitu memastikan seluruh kegiatan operasional berlangsung secara aman, andal, dan efisien.
Dalam kesempatan tersebut, Indra juga menegaskan bahwa implementasi Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pencapaian strategi perusahaan. Menurutnya, penerapan GRC dilakukan secara konsisten agar tata kelola perusahaan berjalan semakin kuat, pengelolaan risiko dapat dilakukan secara terintegrasi, serta mampu mendukung pencapaian target-target strategis perusahaan.
“Penerapan prinsip GRC kami lakukan secara konsisten untuk membangun tata kelola yang kuat, mengelola risiko secara terintegrasi dalam mendukung pencapaian target strategis, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Indra.
Ia menambahkan bahwa penerapan GRC tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya Pertagas dalam membangun operasi yang unggul (Operation Excellence). Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berupaya menjaga keberlangsungan operasional, meningkatkan keandalan layanan, serta memperkuat daya saing di tengah dinamika industri energi.
Melalui pendekatan Sustainability by Design: Journey Through Intelligent GRC, Pertagas menegaskan komitmennya untuk terus mengintegrasikan tata kelola perusahaan, manajemen risiko, dan kepatuhan ke dalam strategi bisnis guna mendukung keberlanjutan perusahaan sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional.
