Jakarta, TopBusiness – PT Multi Harapan Utama (MHU) merupakan perusahaan tambang batu bara yang memiliki wilayah operasi di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai perusahaan yang bergerak di industri pertambangan, MHU memiliki komitmen yang besar dalam hal CSR (Corporate Social Responsibility).
“PT MHU memiliki komitmen yang besar di dalam mendukung program Corporate Social Responsibility maupun dalam konteks pertambangan disebut sebagai PPM (Program Pemberdayaan Masyarakat), karena di dalam visi kami, kami ingin menjadi suatu good corporate citizen,” ungkap Wijayono Sarosa GM Mining Support PT Multi Harapan Utama dalam sesi Penjurian TOP CSR Awards 2022 yang digelar Majalah Top Business secara virtual.
Dalam menjalankan CSR-nya, PT MHU lebih menekankan pada aspek yang disebutnya 3P (Public Private Partnership). Bukan tanpa alasan, menurut Wijayono, PT MHU agak berbeda dengan banyak perusahaan pertambangan, di mana perusahaan melakukan pertambangan di area yang relative masuk wilayah perkotaan.
“Jadi, di sini konteks di dalam CSR-nya lebih menekankan kepada Public Private Partnership, sehingga (terjalin) kemitraan antara perusahaan dengan pemerintah dan juga dengan private company di sekitarnya serta public (masyarakat) yang lebih utama,” ungkapnya.
Dengan demikian, seperti dikatakan Wijayono, program CSR PT MHU akan menjadi bagian dari program pemerintah dan program masyarakat yang telah dikompilasi dalam rencana induk PPM (Program Pemberdayaan Masyarakat).
“Dan untuk mendukung sustainability, penekanan kepada public, private, partnership di sini adalah sangat kuat, sehingga kami tidak menjadi satu menara gading, tetap masih ada private company yang lain serta pemerintah (untuk) membangun wilayah ini,” tandasnya.
Rekrut Warga Lokal & Berdayakan UMKM
Selaras dengan pembangunan dan bisnis berkelanjutan yang menjadi concern perusahaan, PT MHU juga memiliki perhatian yang lebih terhadap pertumbuhan ekonomi di desa tempat perusahaan beroperasi. Hal itu, misalnya, dilakukan dengan merekrut karyawan yang sebagian besar berasal warga lokal.
“Sesuai dengan misi kita, (perusahaan) juga merekrut sebanyak mungkin warga lokal, ada 83% dari total 7.179 karyawan merupakan warga lokal,” imbuh Muslim Gunawan, Community Development Superintendent.
Selain itu, seperti ditegaskan Muslim, PT MHU juga kuat dalam pembedayaan UMKM (untuk) menjadi kekuatan ekonomi yang baru di lingkar tambang.
Sejatinya, ada tiga aspek yang menjadi titik fokus PT MHU dalam menjalankan peran dan kontribusinya terkait isu pembangunan berkelanjutan. Ketiga aspek tersebut adalah ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Secara tegas Muslim mengatakan bahwa aspek ekonomi sudah dilakukan perusahaan dan semuanya mengacu pada SDGs, ISO 26000, Kepmen ESDM, serta tidak lepas dari RPJMD Provinsi dan Kabupaten.
“Kita sudah melakukan banyak hal. Ada pemberdayaan ekonomi di BUMDes, UMKM, ada peternakan sapi (Miniranch Jayatama) kami yang pertama di Kalimantan Timur, juga pengembangan Kawasan Agrowisata Mapantama, dan lain-lain,” tandasnya.
Untuk aspek sosial, selain dalam bentuk filantropi, PT MHU juga melakukan aktivitas dalam bentuk pemberdayaan, seperti misalnya program pelestarian budaya Suku Dayak Kenyah, atau pelestarian senjata khas Mandau (MHU support pembuatan Mandau Raksasa sepanjang 6 meter), dan lain-lain.
Sementara untuk aspek lingkungan, seperti dikatakan Muslim, sebagai perusahaan kontraktor pemerintah, PT MHU sangat concern terhadap aspek lingkungan.
“Di sini kita ada reklamasi lahan pasca tambang, yang memang amanat dari pemerintah. Kita ada membuat Arboretum untuk pelestarian plasma nuthfah, penangkaran Rusa Sambar (rusa khas dari Kalimantan), pemanfaatan void untuk irigasi & air bersih, pengelolaan Sedimen Pond oleh warga lokal agar air yang keluar dari tambang sesuai standar baku mutu, dan lain-lain,” beber dia.
Program CSR Unggulan
Menyadari bahwasanya wilayah operasi PT MHU yang berada di kota, Muslim tak menampik adanya risiko, baik risiko sosial dan risiko lingkungan di masyarakat sebagai imbas dari aktivitas perusahaan.
Untuk itu, lanjut Muslim, selain harus memiliki SOP untuk penangangan di masyarakat, program CSR perusahaan juga harus benar-benar bagus, tepat sasaran, berkesinambungan dan harus kolaborasi dengan pemerintah dan stakeholder setempat. Hal tersebut diharapkan bisa menjamin keberlangsungan operasional tambang.
“Pengelolaan CSR yang baik, tepat sasaran, dengan penerima manfaat yang banyak itu menjadi strategi kita juga agar bisnis kita bisa berkelanjutan, karena tambang kita tambang di kota,” ungkap Muslim.
Lebih lanjut mengenai inisiatif CSR, utamanya dilakukan dalam rangka mendukung bisnis berkelanjutan, PT MHU memiliki sejumlah program unggulan. Seperti program air bersih Void yang disebut masuk di SDGs-6 & SDGs-17. Program ini dilaksanakan di WTP Margahayu.
“Ada 750 KK (kepala keluarga) yang menikmati layanan air bersih ini setara PDAM mini. Kami juga ada membangun water treatment dengan pompa hidran (tidak pakai solar/listrik) jadi memang itu ramah lingkungan,” kata Muslim.
Program selanjutnya adalah Miniranch Jayatama-Peternakan Sapi Modern (SDGs-2, SDGs-8 & SDGs-17) yang merupakan pengelolaan sapi secara intensif di areal pasca tambang sangat membantu pengembangan ternak sapi peternak lokal secara kuantitas dan kualitas, sehingga mampu meningkatkan perekonomian peternak. “Ada sekitar 1600 ekor sapi masyarakat yang berkolaborasi dengan kita di sana,” tandasnya.
PT MHU juga menjalankan program CSR berupa rumah layak huni yang merupakan program unggulan dari Gubernur Kalimantan Timur dan Bupati Kutai Kartanegara termasuk di RPJMD Kaltim dan RPJMD Kabupaten Kutai Kartanagara. “Kita sudah membangun 30 unit rumah layak huni yang sempat di-launching juga oleh Pak Bupati,” kata Muslim.
Sebagai bentuk pembuktian bahwasanya tambah ramah terhadap pertanian, PT MHU juga menggelar program CSR Agrowisata Mapantama (SDGs-2, SDGs-17) yang berada area di kanan-kiri jalan hauling batubara perusahaan.
“Jadi kita mencoba untuk membuktikan bahwa tambang itu sebetulnya ramah dengan petani. Kita hidup berdampingan dengan pertanian berkelanjutan dengan disisipi suasana wisatanya. Ini juga program CSR yang kami MoU-kan dengan Pak Bupati dan Menteri Desa PDTT tahun 2018 lalu. Dan sampai sekarang, sesuai dengan rencana kita di 2022 sampai 2023 kita ingin mereka mandiri, jadi sesedikit mungkin support dari kita,” lanjutnya.
Ada juga program Industri Pertukangan Berbahan Kayu Lokal. Ini juga merupakan andalan perusahaan yang sudan masuk di SDGs-1, SDGs-8, SDGs-17.
“(Program) ini kita berkolabaorasi dengan Ketua DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan Pak Bupati juga lewat Disperindag-nya, Dinsos-nya, dan pembelinya sudah clear dari Komunitas Pecinta Kutai. Jadi, semua produk yang dihasilkan dari kelompok ini dibeli,” katanya.
Selain program CSR yang telah disebut, masih ada program CSR unggulan PT MHU lainnya, seperti Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B & C (SDGs-4, SDGs-17); Pembangunan Pabrik Kompos di Desa Sungai Payang (SDGs-8, SDGs-17); dan Lung Anai, Surga Budaya Dayak Kenyah (SDGs-5, SDGs-8 & SDGs-17).
Penulis: Fauzi
