Jakarta, TopBusiness – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai fondasi untuk menjaga keandalan pasokan energi primer nasional.
Penguatan tersebut dilakukan melalui integrasi tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, pengendalian internal, serta pemanfaatan teknologi digital dalam proses bisnis perusahaan.
Dalam penjurian TOP GRC Awards 2026, Vice President Manajemen Risiko dan Kepatuhan PLN EPI, Yuli Fitrianingrum, mengatakan perusahaan mengusung tema “Intelligent GRC to Secure Indonesia’s Energy Future”. Tema tersebut mencerminkan upaya PLN EPI menjadikan GRC sebagai instrumen strategis dalam memastikan keberlanjutan pasokan energi primer bagi sistem kelistrikan nasional.
“Penguatan tata kelola, risiko, dan kepatuhan untuk menjamin keandalan pasokan energi primer nasional,” ujar Yuli dalam mengawali pemaparannya saat penjurian online TOP GRC Awards 2026 di depan Dewan Juri yakni Kusuma Prabandari (Dwika Consulting), Prof Satya Arinanto (Guru Besar FH UI), dan Andar (Sinergi Daya Prima), Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, bagi PLN EPI, GRC tidak ditempatkan semata sebagai fungsi administratif ataupun kepatuhan terhadap regulasi. GRC menjadi bagian dari fondasi perusahaan dalam mengelola risiko secara proaktif, memastikan kepatuhan, sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
PLN EPI sendiri memiliki mandat dalam penyediaan energi primer untuk pembangkit listrik, antara lain batu bara, gas, bahan bakar minyak (BBM), serta biomassa. Karena itu, keberlangsungan operasional perusahaan sangat berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi dan mengendalikan berbagai risiko yang dapat mengganggu rantai pasok energi.
Dalam materi penjurian, PLN EPI menyebut terdapat enam fokus utama dalam penerapan GRC. Pertama, menjamin keandalan pasokan energi primer. Kedua, memastikan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Ketiga, memperkuat pengelolaan risiko korporat. Keempat, menjamin kepatuhan terhadap regulasi. Kelima, mendukung transformasi dan transisi energi. Keenam, menciptakan nilai serta keberlanjutan.
Keenam aspek tersebut menjadi bagian dari upaya PLN EPI membangun ekosistem GRC yang terintegrasi dengan proses bisnis perusahaan. Pengelolaan risiko tidak hanya diarahkan untuk mengantisipasi gangguan operasional, tetapi juga mencakup risiko volatilitas harga komoditas, perubahan regulasi, risiko teknologi informasi, ESG, hingga risiko pengembangan bisnis.
Three Lines Jadi Fondasi Pengelolaan Risiko
Dalam penerapannya, PLN EPI telah mengatur pembagian tugas dan akuntabilitas melalui model three lines atau tiga lini pertahanan. Kerangka tersebut dituangkan dalam Edaran Direksi Nomor 013.E/DIRUT/2024 tentang standar prosedur implementasi model tiga lini dalam manajemen risiko terintegrasi dan Four Eyes Principle.
Pada lini pertama, unit atau bidang bisnis berperan sebagai risk owner yang bertanggung jawab mengelola risiko dalam area masing-masing. Lini kedua terdiri atas fungsi manajemen risiko, kepatuhan, dan tata kelola yang menjalankan fungsi pemantauan, pemberian advis, bimbingan, pengujian, analisis, serta pelaporan terkait GRC.
Sementara itu, lini ketiga dijalankan oleh fungsi internal audit yang memberikan assurance dan advis secara independen serta objektif mengenai kecukupan dan efektivitas tata kelola serta manajemen risiko pada lini pertama dan kedua.
Dengan pembagian tersebut, pengelolaan risiko tidak hanya menjadi tanggung jawab unit manajemen risiko. Setiap unit bisnis memiliki tanggung jawab langsung atas risiko yang melekat pada aktivitasnya, sementara fungsi manajemen risiko dan kepatuhan memastikan proses berjalan dalam koridor yang telah ditetapkan.
Komunikasi dan koordinasi antarlini juga dilakukan melalui mekanisme rapat manajemen, termasuk rapat Direksi secara berkala dan pembahasan bersama Dewan Komisaris. Pola tersebut dirancang untuk memastikan adanya proses pelaporan, evaluasi, pemberian rekomendasi, serta tindak lanjut yang berkesinambungan.
12 Risiko Korporasi Dipantau
Penguatan GRC tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya skala bisnis PLN EPI. Dalam materi penjurian, nilai transaksi PLN EPI pada 2025 mencapai Rp190,88 triliun, meningkat sekitar 12 kali lipat dibandingkan 2022 yang sebesar Rp15,58 triliun.
Dari sisi kinerja keuangan, PLN EPI mencatat pertumbuhan positif pada 2025. Pendapatan meningkat menjadi Rp61,87 triliun, EBITDA mencapai Rp5,52 triliun, dan laba bersih sebesar Rp2,82 triliun. Kinerja tersebut ditopang ekspansi bisnis energi primer, optimalisasi operasional, efisiensi biaya, serta penguatan sinergi dan digitalisasi proses bisnis.
Namun, pertumbuhan bisnis juga diikuti dengan semakin kompleksnya profil risiko perusahaan. Pada triwulan II 2026, PLN EPI mengidentifikasi 12 risiko korporasi. Dari jumlah tersebut, tiga risiko berada pada tingkat high, dua risiko moderate to high, tiga risiko moderate, tiga risiko low to moderate, dan satu risiko berada pada tingkat low.
Risiko tersebut antara lain berkaitan dengan pengadaan BBM untuk menjamin security of supply energi primer PLN Group, kelancaran arus kas, integrasi rantai pasok energi primer, produktivitas organisasi dan SDM, ketahanan layanan sistem teknologi informasi, penerapan K3KL berbasis ESG, kepatuhan terhadap regulasi, penyerapan anggaran investasi, hingga pengembangan bisnis.
Menariknya, sejumlah risiko berhasil ditekan tingkat residunya melalui langkah mitigasi. Risiko penurunan resiliensi layanan sistem IT, misalnya, turun dari kategori low to moderate menjadi low. Risiko kegagalan pemenuhan regulasi juga turun dari moderate to high menjadi low to moderate.
Hal ini menunjukkan bahwa manajemen risiko di PLN EPI tidak berhenti pada proses identifikasi, tetapi dilanjutkan dengan pengendalian dan evaluasi efektivitas mitigasi.
Kepatuhan Diperkuat dari Hulu ke Hilir
Di sisi kepatuhan, PLN EPI menerapkan strategi yang mencakup lima tahapan, yakni kebijakan dan peraturan, asesmen, pencegahan, pendeteksian, dan respons.
Pada tahap asesmen, perusahaan melakukan identifikasi risiko dan kewajiban kepatuhan berbasis aplikasi Comply to Regulation, asesmen risiko fraud melalui FRA-Online, pengukuran tingkat kematangan kepatuhan, serta kajian kepatuhan sebagai bagian dari kajian GRC.
Tahap pencegahan diperkuat melalui pakta integritas, deklarasi konflik kepentingan, konfirmasi bulanan, program awareness dan pelatihan, pelaporan gratifikasi melalui aplikasi KPK, pelaporan LHKPN, serta penerapan ISO 37301 untuk sistem manajemen kepatuhan dan ISO 37001 untuk sistem manajemen anti-penyuapan.
Sementara pada tahap pendeteksian, PLN EPI menjalankan review kepatuhan, audit sistem manajemen kepatuhan dan anti-penyuapan, Integrity Due Diligence terhadap mitra, whistleblowing system terintegrasi, serta Internal Control over Financial Reporting (ICOFR).
Yuli menegaskan, keseluruhan mekanisme tersebut dibangun agar penerapan GRC tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi satu kesatuan dengan proses bisnis perusahaan.
Digitalisasi Dorong GRC Lebih Terintegrasi
Penguatan GRC juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi informasi. PLN EPI mengembangkan berbagai aplikasi untuk mendukung fungsi kepatuhan, manajemen risiko, pengendalian internal, hingga tindak lanjut audit.
Digitalisasi tersebut memungkinkan data dan informasi terkait risiko serta kepatuhan dipantau secara lebih terstruktur. Bagi perusahaan dengan rantai pasok energi yang kompleks, keberadaan sistem digital menjadi penting untuk mempercepat proses pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan kualitas pengendalian.
“Pelaksanaan GRC di PLN EPI telah didukung infrastruktur yang memadai melalui pengembangan aplikasi kepatuhan, aplikasi manajemen risiko, aplikasi system pengawasan internal serta aplikasI GCG,” ungkap dia.
Salah satu pengembangan yang menjadi perhatian dalam pemaparan PLN EPI adalah integrasi proses bisnis energi primer secara end-to-end. Sistem tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan proses mulai dari perencanaan, pengendalian, hingga verifikasi dan pembayaran.
Serbut saja ada COS (Compliance Online System), Aplikasi Anti Konflik Kepentingan, FRA online, Regulatory Compliance System, Compliance to Regulation Online, PLN EPI REPICS (Risiko PLN EPI dan Compliance System), M-Action, eRBAS, ICO (Integrated Coal Operation), BIOSYS (aplikasi pengelolaan biomassa terintegrasi), dll.
Dan yang menjadi benchmark, kata dia, PLN EPI memeiliki platform P2EP yang mengintegrasikan seluruh proses perencanaan, pengendalian energi primer sampai dengan proses verifikasi dan pembayaran. Dimana P2EP juga sudah diintegrasikan ke PLN Group sebagai improvement dalam hal kecepatan, control, efisiensi, dan standarisasi.
“Hal ini menjadi P2EP ini merupakan satu-satunya aplikasi pertama di dunia yang mengintegrasikan energi primer besar seperti batubara, gas alam, BBM dan biomassa yang dapat memonitor dari hulu ke hilir,” dia menjelaskan.
Jadi, kata dia, platform tersebut menjadi salah satu inovasi yang mengintegrasikan pengelolaan berbagai komoditas energi primer, mulai dari batu bara, gas alam, BBM, hingga biomassa tersebut, dengan dukungan teknologi data dan kecerdasan artifisial.
Bagi PLN EPI, digitalisasi bukan hanya bertujuan mempercepat proses administrasi. Sistem digital diharapkan dapat memperkuat kontrol, meningkatkan efisiensi, menjaga transparansi, sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Maturity GRC Terus Meningkat
Penguatan tata kelola, risiko, dan kepatuhan tersebut tercermin dari perkembangan sejumlah indikator kematangan GRC PLN EPI.
Berdasarkan materi penjurian, skor asesmen GCG PLN EPI meningkat dari 82,72 pada 2023 menjadi 83,70 pada 2024 dan 89,04 pada 2025, dengan predikat sangat baik.
Risk Maturity Index (RMI) juga meningkat dari 2,80 pada 2023 menjadi 2,90 pada 2024 dan 3,29 pada 2025. Untuk 2026, target RMI PLN EPI berada pada level 3,50. Sementara itu, skor maturity level kepatuhan meningkat hingga 4,24 pada semester I 2026.
Peningkatan tersebut, menurut materi perusahaan, merupakan hasil dari perbaikan berkelanjutan dalam tata kelola perusahaan, penerapan manajemen risiko, dan pengelolaan kepatuhan.
Dengan demikian, perjalanan GRC PLN EPI tidak hanya diukur melalui keberadaan kebijakan atau prosedur, tetapi juga dari peningkatan kematangan sistem yang diterapkan.
GRC Mendukung Transisi Energi
Implementasi GRC juga dikaitkan PLN EPI dengan agenda transisi energi. Salah satu contohnya adalah pengembangan bisnis biomassa sebagai bagian dari diversifikasi energi primer.
PLN EPI mengembangkan Integrated Farming System (IFS) untuk membangun rantai pasok biomassa yang berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat. Program tersebut telah dikembangkan sejak Februari 2023 di Gunungkidul dan kemudian diperluas ke Tasikmalaya serta Cilacap.
Secara keseluruhan, program tersebut mencakup lahan pengembangan seluas 196 hektare dengan 355.000 bibit tanaman. Model tersebut dirancang tidak hanya untuk memasok biomassa, tetapi juga membangun ekonomi sirkular dan meningkatkan kontribusi ekonomi daerah.
PLN EPI juga menjalankan berbagai program ESG yang berkaitan dengan efisiensi energi, pengurangan emisi gas rumah kaca, konservasi air, pengelolaan limbah, keanekaragaman hayati, keselamatan kerja, pemberdayaan masyarakat, serta penerapan sistem manajemen anti-penyuapan dan kepatuhan.
Dengan pendekatan tersebut, GRC tidak hanya diarahkan untuk melindungi perusahaan dari risiko, tetapi juga memastikan pengembangan bisnis energi primer berjalan sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Pada akhirnya, bagi PLN EPI, penguatan GRC menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan bisnis sekaligus memastikan perusahaan mampu menjalankan perannya dalam rantai pasok energi nasional.
“GRC kami jadikan sebagai fondasi untuk ketahanan pasokan energi primer nasional, mengelola risiko secara proaktif, memastikan kepatuhan, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Yuli.
Langkah tersebut menjadi semakin strategis ketika PLN EPI terus memperluas skala bisnisnya. Dengan nilai transaksi yang telah mencapai Rp190,88 triliun pada 2025 dan pengelolaan berbagai komoditas energi primer, kualitas tata kelola, pengendalian risiko, dan kepatuhan menjadi faktor penting untuk memastikan pertumbuhan perusahaan tetap sehat, terkendali, dan berkelanjutan.
