TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

PRIDE Kokohkan GRC MUTU International, Kepercayaan Investor Meningkat

Nurdian Akhmad
16 August 2026 | 08:08
rubrik: Business Info, Event, GCG
PRIDE Kokohkan GRC MUTU International, Kepercayaan Investor Meningkat

Jakarta, TopBusiness – PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU International) memperkuat penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (governance, risk and compliance/GRC) sebagai bagian dari strategi membangun bisnis berkelanjutan.

Perseroan mengembangkan GRC tidak hanya sebagai perangkat pengendalian, tetapi sebagai sistem yang terintegrasi dengan strategi bisnis, pengelolaan risiko, kepatuhan, audit, ESG, teknologi, hingga penciptaan nilai bagi pemangku kepentingan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tema yang diusung MUTU International dalam TOP GRC Awards 2026, yakni “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC”.

Perusahaan menilai penerapan GRC merupakan sebuah perjalanan yang telah dibangun sejak lama, termasuk sejak 2015 ketika perseroan mulai memasukkan aspek keberlanjutan dan ekonomi hijau secara lebih formal ke dalam arah bisnisnya.

Direktur Eksekutif Sekretaris Perusahaan MUTU International Affan Nurachman mengatakan, pilihan tema Sustainability by Design menggambarkan perjalanan perusahaan dalam membangun keberlanjutan yang tidak dilakukan secara instan.

“Ini bukan kebetulan dan juga ini ada journey yang kita pilih karena ini juga sampai di sini enggak dimulai kemarin, tapi sudah dimulai semenjak 2015. Yang paling signifikan, 2015 mulai tonggak sustainability dan juga green kita mulai masuk secara formal,” kata Affan dalam pemaparan TOP GRC Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Jumat (16/8/2026).

Menurut dia, perjalanan tersebut kemudian terus dikembangkan untuk mendukung agenda ESG sekaligus memperkuat sistem GRC perusahaan. Dengan karakter industri testing, inspection and certification (TIC) yang sangat bergantung pada regulasi, kepastian hukum dan kesinambungan kebijakan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.

Affan menjelaskan, tantangan industri TIC bukan hanya meningkatnya persaingan, tetapi juga kepastian regulasi. Industri tersebut memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap perubahan regulasi sehingga perusahaan dituntut mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan bisnis.

“Industri TIC pada umumnya merupakan industri yang heavily dependent on regulation. Jadi begitu ada ketidakpastian hukum dan juga ketidakpastian regulasi, mayoritas tertantang dan juga bagaimana kita agile untuk pindah dari red ocean ke blue ocean,” ujarnya.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, MUTU International mengarahkan strategi bisnisnya pada tiga sektor utama yang dinilai memiliki kekuatan dan prospek di Indonesia, yakni green economy dan natural resources, ekonomi syariah, serta ekonomi digital.

Strategi itu juga memperluas ruang lingkup bisnis perusahaan dari aktivitas inti TIC menuju layanan yang berkaitan dengan monitoring, reporting and verification (MRV), termasuk kebutuhan pelaporan dan assurance yang berkaitan dengan keberlanjutan, kepatuhan, dan tata kelola.

“Berdirinya itu sektornya TIC, testing inspection certification. Tetapi setelah adanya investor baru kita fokus juga ke MRV, monitoring, reporting and verification,” kata Affan.

Ia menambahkan, pengembangan tersebut memperlihatkan bagaimana MUTU International berupaya menyesuaikan kapabilitas bisnis dengan kebutuhan baru yang muncul seiring berkembangnya agenda keberlanjutan dan ekonomi hijau.

Di sisi tata kelola, Affan menegaskan bahwa prinsip GRC diturunkan dari tingkat organ perusahaan hingga ke level pekerja. Dewan Komisaris, menurut dia, terus memberikan arahan agar prinsip tata kelola tidak berhenti pada level kebijakan, melainkan dikaskadekan ke seluruh organisasi.

“Dari top Komisaris Utama selalu mengarahkan ke kami untuk cascade ke bawah, tekankan pentingnya governance. Kita perlu cascade bagaimana kita meng-govern sampai di level yang staf sekalipun,” katanya.

Struktur tata kelola MUTU International mencakup Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris, Direksi, Komite Audit, Komite Nominasi dan Remunerasi, serta Komite Ketidakberpihakan. Struktur tersebut dilengkapi pembagian peran dan tanggung jawab melalui mekanisme RACI (Responsible, Accountable, Consulted, Informed).

Komite Ketidakberpihakan memiliki peran penting dalam menjaga impartiality perusahaan, khususnya terkait skema sertifikasi dan aktivitas yang membutuhkan independensi. Sementara itu, Komite Audit menjadi bagian dari mekanisme pengawasan atas pengendalian dan pelaporan perusahaan.

Sebagai perusahaan terbuka, MUTU International juga menjalankan kewajiban keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Affan mengatakan setiap keputusan yang bersifat material dikaji dan dilaporkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Tujuh Risiko Utama

BACA JUGA:   DMAS Perkuat GRC, Siapkan Land Bank dan Utilitas untuk Tangkap Peluang Bisnis Data Center

Senior Vice President Sekretaris Perusahaan MUTU International Rizky Novandri menjelaskan bahwa penerapan GRC perusahaan dibangun melalui integrasi antara strategi, risiko, kepatuhan, audit, ESG, dan kinerja. Integrasi tersebut tidak hanya bersifat konseptual, tetapi diterjemahkan melalui proses dan mekanisme kerja yang memiliki tahapan serta pengawasan.

“Dari slide ini sampai slide selanjutnya saya akan menggambarkan terkait bagaimana dan seperti apa GRC itu berjalan di MUTU,” kata Rizky.

Dalam model GRC tersebut, perusahaan memiliki roadmap yang mencakup formulasi, penilaian, eksekusi, dan assurance. Mekanisme itu digunakan untuk memastikan bahwa risiko yang muncul dari strategi bisnis dapat diidentifikasi, dimitigasi, dipantau, dan dievaluasi.

Rizky mengungkapkan, MUTU International telah memetakan tujuh risiko utama yang dapat memengaruhi kegiatan perusahaan. Risiko tersebut meliputi perubahan kebijakan dan regulasi industri, tidak diperpanjangnya atau hilangnya izin dan lisensi akreditasi, lingkungan persaingan dan inovasi perseroan, tuntutan atau gugatan hukum, sumber daya manusia, fraud, serta keamanan siber.

“Yang mana kita juga sudah identifikasi risiko ini melalui penilaian risiko yang dilakukan setiap tahun,” ujarnya.

Pemetaan risiko tersebut kemudian menjadi dasar bagi perusahaan dalam menyusun langkah mitigasi. Dengan demikian, pengelolaan risiko tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan pengendalian perusahaan.

Pada aspek compliance dan integrity, MUTU International menerapkan empat pendekatan utama, yakni regulatory mapping, compliance monitoring, ethics and anti-bribery, serta whistleblowing system (WBS).

Materi TOP GRC perusahaan mencatat bahwa pemetaan regulasi dilakukan melalui inventarisasi berkala terhadap standar TIC, antara lain ISO 17020, ISO 17025, dan ISO 17021, serta ketentuan yang relevan bagi perusahaan terbuka. Pemetaan tersebut kemudian dihubungkan dengan sistem operasional layanan audit dan pengujian.

Perusahaan juga melakukan monitoring kepatuhan operasional laboratorium dan cabang secara berkala serta evaluasi melalui audit kepatuhan internal dan uji petik independen. Dalam materi GRC, perusahaan mencatat zero major non-conformity pada audit eksternal.

Untuk memperkuat integritas, MUTU International menerapkan Sistem Manajemen Anti-Penyuapan atau ISO 37001, termasuk kewajiban penandatanganan pakta integritas dan penilaian conflict of interest dalam setiap penugasan. Perusahaan juga menyatakan menerapkan zero tolerance terhadap gratifikasi dan suap.

Sementara WBS tersedia melalui beberapa kanal, yakni web, email, dan WhatsApp. Mekanisme tersebut dirancang untuk menjaga kerahasiaan dan anonimitas pelapor. Penanganan laporan dilakukan oleh tim etik independen dengan target tindak lanjut maksimal 14 hari kerja.

Internal Control dan Lima Skema Audit

Penguatan GRC juga dilakukan melalui fungsi internal control and assurance. Rizky mengatakan fungsi tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara Satuan Pengawasan Internal (SPI), fungsi penjaminan mutu, dan corporate secretary, dengan hasil pengawasan dilaporkan kepada Direksi dan Komite Audit.

Tahapan pengendalian mencakup audit planning, evaluasi pengendalian internal, audit reporting, monitoring dan follow-up, serta investigasi dan special audit.

Dalam materi perusahaan, audit internal juga menjadi bagian penting untuk memenuhi persyaratan akreditasi. MUTU International menyebut setiap tahun terdapat lima jenis audit internal, yakni audit internal skema sertifikasi ISO 17021 untuk sistem manajemen, ISO 17065 untuk sertifikasi produk dan layanan, ISO 17025 untuk pengujian, ISO 17020 untuk inspeksi, serta ISO 17029 untuk verifikasi dan validasi gas rumah kaca.

“Yang wajib itu karena kita sebagai lembaga sertifikasi ataupun pengujian, kita dilakukan ISO 17021, ISO 17065, ISO 17025, terus ISO 17020 sama ISO 17029,” kata Rizky.

Audit dilakukan berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Auditor internal yang ditugaskan tidak berasal dari bagian yang terkait langsung dengan klausul yang diaudit untuk menjaga independensi proses pemeriksaan.

Setiap hasil audit kemudian dituangkan dalam laporan dan rekapitulasi temuan. Ketidaksesuaian maupun peluang peningkatan harus ditindaklanjuti oleh unit yang diaudit dan kemudian diverifikasi kembali oleh auditor internal.

Hasil audit internal juga dilaporkan kepada Direksi. Selanjutnya, informasi terkait fungsi audit dan pengendalian dapat dieskalasi kepada Dewan Komisaris melalui rapat antara Dewan Komisaris dan Direksi.

ESG Terintegrasi 100 Persen dalam ERM

Pada aspek keberlanjutan, MUTU International mengintegrasikan ESG ke dalam kerangka GRC. Perusahaan menempatkan diri bukan hanya sebagai pelaku bisnis TIC, tetapi juga sebagai enabler bagi perusahaan lain dalam menjalankan agenda keberlanjutan.

BACA JUGA:   Bengkulu Komitmen Dukung Percepatan Realisasi Panas Bumi

Pada aspek lingkungan, perusahaan menyediakan layanan sertifikasi dan validasi yang berkaitan dengan isu lingkungan. Pada aspek sosial, perusahaan mendukung pemenuhan standar keselamatan dan kesehatan kerja, termasuk ISO 45001, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia TIC. Sementara pada aspek tata kelola, perusahaan berperan dalam membantu perusahaan lain memperkuat tata kelola, transparansi pelaporan emisi, dan kepatuhan yang independen.

Salah satu poin penting dalam materi GRC MUTU International adalah risiko ESG telah terintegrasi 100% ke dalam Enterprise Risk Management (ERM) Register.

Integrasi tersebut mencakup mitigasi risiko iklim dan regulasi, termasuk antisipasi perubahan batas emisi nasional maupun global dan risiko reputasi yang berkaitan dengan klaim greenwashing. Perusahaan juga melakukan stress testing ESG untuk memetakan dampak risiko keberlanjutan terhadap portofolio bisnis dan rantai pasok layanan testing dan inspeksi.

Dalam penilaian materialitas, MUTU International memfokuskan perhatian antara lain pada kualitas data pengujian dan sertifikasi, integritas data karbon, efisiensi energi laboratorium, serta keselamatan kerja auditor. Matriks materialitas diperbarui secara berkala dengan mengacu pada POJK 51 dan standar GRI.

Perusahaan juga menyediakan layanan yang mendukung dekarbonisasi klien melalui sertifikasi ISO 14064 dan ISO 14065 serta layanan yang berkaitan dengan Bursa Karbon atau IDX Carbon.

MUTU Apps dan Pemanfaatan AI

Digitalisasi menjadi bagian lain dari penguatan GRC. MUTU International mengembangkan MUTU Apps, sistem berbasis big data yang mengintegrasikan proses bisnis dari hulu hingga hilir.

Rizky menjelaskan, sistem tersebut menghubungkan berbagai proses mulai dari permohonan layanan oleh pelanggan, proses penjadwalan dan penugasan auditor, pelaksanaan audit, penyusunan laporan, hingga proses penagihan.

“Mutu Apps itu basis big data operasional, yang dari proses hulu sampai hilir terkait bisnis testing, inspection, sertifikasi, dari berbagai macam bisnis proses itu sendiri,” ujarnya.

Dalam sistem tersebut, proses dimulai ketika permohonan dari sisi sales dimasukkan ke sistem. Data kemudian diteruskan kepada fungsi teknis untuk menentukan auditor sesuai lokasi, kompetensi, dan kebutuhan penugasan. Hasil audit dikembalikan ke sistem untuk proses pelaporan dan dilanjutkan dengan proses invoicing.

MUTU Apps juga mengintegrasikan fungsi penjualan, sumber daya manusia, dan keuangan. Sistem tersebut kemudian dikembangkan dengan pemanfaatan artificial intelligence (AI), terutama untuk mendukung proses penyusunan laporan kegiatan audit.

Dalam materi presentasi, perusahaan menegaskan bahwa AI digunakan untuk membantu otomatisasi penyusunan dokumen laporan, sedangkan kendali mutu dan keputusan akhir tetap berada di tangan auditor melalui proses human approval.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dilakukan secara bertanggung jawab, dengan AI ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi, bukan menggantikan fungsi profesional auditor.

Budaya PRIDE hingga Maturity Journey

Penguatan GRC juga didukung budaya perusahaan melalui nilai PRIDE, yang terdiri dari Professionalism, Respect, Integrity, Dedication, dan Empowerment. Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya membangun risk culture dan memastikan prinsip tata kelola diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Rizky menjelaskan, nilai PRIDE kemudian diturunkan ke dalam kerangka kerja yang mencakup proses define, socialize, educate, integrate, recognize, dan evaluate. Dengan demikian, budaya tidak berhenti pada deklarasi nilai, tetapi diperkenalkan, dipelajari, diintegrasikan ke sistem kerja, diberikan penghargaan, dan dievaluasi.

Kerangka tersebut juga dikaitkan dengan OKR (Objectives and Key Results). Strategi perusahaan diturunkan menjadi OKR, kemudian masuk ke tahap eksekusi, monitoring, pencapaian, dan penciptaan nilai.

Dalam maturity journey, MUTU International memetakan perkembangan pengelolaan risiko dari tahap ad-hoc, basic/managed, defined, improving, hingga optimized. Pada tahapan tersebut, perusahaan menilai pengelolaan risiko secara bertahap berkembang dari pendekatan yang reaktif menuju sistem yang terintegrasi dengan aspek strategis dan operasional.

Rizky menyebut posisi maturity journey MUTU berada pada kategori defined dalam pemaparan tersebut.

Kepatuhan Perusahaan Terbuka

Penerapan GRC juga tercermin dari kepatuhan MUTU International sebagai perusahaan terbuka. Rizky mengatakan perusahaan menjalankan kewajiban pelaporan berkala dan insidentil sesuai ketentuan OJK dan Bursa Efek Indonesia.

BACA JUGA:   Stagnasi Properti Diperpanjang Tahun Politik

Proses penyelenggaraan RUPS, misalnya, dilakukan melalui tahapan notifikasi kepada OJK, pengumuman, pemanggilan pemegang saham, pelaksanaan RUPS, penyampaian ringkasan hasil, hingga penyampaian risalah. Proses tersebut dijalankan secara sistematis melalui platform pelaporan perusahaan terbuka.

MUTU International juga memiliki sejumlah prosedur internal, termasuk prosedur sistem, keterbukaan informasi atau fakta material, serta prosedur pengeluaran kas.

Rizky menegaskan bahwa sejak perusahaan menjadi emiten pada 2023, MUTU International belum menerima sanksi atau denda dari OJK maupun Bursa Efek Indonesia terkait kepatuhan.

“Alhamdulillah MUTU selama dari tahun 2023 sampai saat ini belum ada sanksi ataupun denda dari Bursa ataupun dari OJK,” kata Rizky.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa mekanisme compliance dan governance yang diterapkan perusahaan berjalan sesuai dengan ketentuan perusahaan publik.

Selain kepatuhan sebagai emiten, MUTU International juga menjalankan berbagai persyaratan akreditasi. Dalam pemaparan, perusahaan menyebut sejumlah sistem manajemen yang diterapkan, antara lain ISO 37001, ISO 45001, ISO 14001, ISO 9001, dan ISO 27001.

Kinerja Bisnis Tetap Tumbuh

Penguatan GRC tersebut berjalan beriringan dengan kinerja bisnis MUTU International yang tetap menunjukkan pertumbuhan. Berdasarkan Business Performance (Financial Highlights 2023–2025) dalam materi TOP GRC Awards 2026, pendapatan perusahaan meningkat dari Rp 286,709 miliar pada 2023 menjadi Rp 308,840 miliar pada 2024, kemudian mencapai Rp 331,483 miliar pada 2025. Dengan demikian, pendapatan perseroan tumbuh sekitar 15,6% dalam dua tahun.

Dari sisi profitabilitas, laba usaha MUTU International tercatat Rp51,640 miliar pada 2023, kemudian Rp 41,591 miliar pada 2024, sebelum kembali meningkat menjadi Rp44,067 miliar pada 2025. Sementara itu, laba tahun berjalan tercatat Rp 30,956 miliar pada 2023, Rp24,114 miliar pada 2024, dan Rp 24,210 miliar pada 2025.

Selain pendapatan dan laba, posisi neraca perusahaan juga menunjukkan penguatan. Total aset meningkat dari Rp275,445 miliar pada 2023 menjadi Rp 291,761 miliar pada 2024 dan Rp 317,668 miliar pada 2025.

Ekuitas naik dari Rp 200,594 miliar menjadi Rp 216,470 miliar dan kemudian Rp 232,975 miliar dalam periode yang sama. Sementara liabilitas tercatat masing-masing Rp 74,851 miliar, Rp 75,291 miliar, dan Rp 84,693 miliar.

Kinerja tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan perusahaan untuk menunjukkan ketahanan bisnis di tengah tekanan ekonomi dan pasar modal. Dalam presentasinya, Affan Nurachman mengatakan indikator keuangan perusahaan tetap terjaga, termasuk dari sisi liabilitas yang menurutnya masih terkendali.

“Kalau kita lihat dari chart ini, seluruh kinerja indikator keuangan itu baik dan juga terkait liability juga terkendali. Artinya selalu di bawah standar industri dan juga di bawah standar umum perusahaan dalam debt to equity ratio,” kata Affan.

GRC dan Kepercayaan Investor

Selain menjaga keberlanjutan bisnis, penguatan GRC juga menciptakan kepercayaan investor dan stakeholders terkait. Tata kelola dan akuntabilitas yang baik dinilai ikut mendukung kemampuan perusahaan membangun kepercayaan investor baru melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD).

Rizky mengatakan kepercayaan investor menjadi salah satu indikator penting dalam melihat penerapan GRC perusahaan.

“Investor yang mana ketika investor akan masuk berarti dia percaya bahwa emiten ataupun perseroan itu sendiri sudah menjalankan GRC seperti apa ataupun bagaimana pengelolaannya. Makanya investor percaya untuk menanamkan modal kepada MUTU sebagai perusahaan publik,” ujarnya.

Di sisi lain, MUTU International juga menempatkan diri sebagai salah satu pelopor di industri pengujian serta validasi dan verifikasi. Bahkan menjadi Lembaga Validasi dan Verifikasi (LVV) sekaligus laboratorium penguji pertama di Indonesia.

Posisi tersebut dinilai menjadi salah satu benchmark dalam tata kelola dan kepatuhan di industri TIC. Untuk itu, perusahaan menekankan pentingnya integritas, independensi, validitas pengujian, serta sistem pemastian mutu dalam menjalankan fungsi tersebut.

Berkat konsisten perusahaan dalam menerapkan GRC, MUTU International terpilih menjadi kandidat peraih TOP GRC Awards 2026.

Tags: MUTU InternationalPT Mutuagung Lestari TbkTOP GRC Awards 2026
Previous Post

Kementerian Lingkungan Hidup, SKK Migas, dan PHR Dorong Pemulihan TTM yang Komprehensif, Berbasis Teknologi, dan Berdampak Ekonomi

Next Post

BNI Life Perkuat GRC Berbasis Data, Teknologi, dan Sustainability untuk Jaga Ketahanan Bisnis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR