Jakarta, TopBusiness — Di tengah tingginya risiko dan dinamika industri konstruksi, PT Brantas Abipraya (Persero) menjadikan GRC (Governance, Risk, and Compliance) sebagai salah satu fondasi untuk menjaga ketangguhan perusahaan. Penerapan GRC yang terintegrasi dengan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, serta prinsip ESG membantu perusahaan mengambil keputusan secara lebih prudent, menjaga kinerja keuangan, dan membangun pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero), Dian Sovana, mengatakan penguatan GRC menjadi bagian penting dari transformasi perusahaan yang tercermin dalam visi dan misi terbaru pada RJPP 2026.
Brantas Abipraya kini mengusung visi menjadi penyedia solusi jasa konstruksi unggul dan berkelanjutan yang mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa. Visi tersebut ditopang tiga misi, yakni menyediakan solusi konstruksi unggul melalui operasi yang aman, berkualitas dan efisien; membangun pertumbuhan bisnis yang sehat, stabil dan berkelanjutan melalui pengelolaan keuangan yang prudent serta tata kelola yang kuat; dan mengembangkan tim yang berintegritas, profesional, adaptif serta produktif dalam lingkungan kerja humanis dan inklusif.
“Jadi, dengan solusi konstruksi, kita memberikan operasi yang aman, membangun kepercayaan publik dengan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan juga sehat finansial, prudent, tata kelola yang kuat. Nah ini tidak luput dari pengembangan tim, development team yang profesional,” ujar Dian saat sesi penjurian TOP GRC Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Jumat (14/8/2026).
Selaraskan GRC dengan Strategi Bisnis
Transformasi GRC di Brantas Abipraya dibangun selaras dengan strategi perusahaan. Dalam strategi tersebut, terdapat tiga fokus utama, yakni keunggulan operasional, ketahanan finansial, serta pengembangan human capital.
Pada sisi operasional, Brantas Abipraya menekankan keselamatan kerja, kualitas, efisiensi, pemanfaatan teknologi digital, serta tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pendekatan tersebut dirangkum melalui prinsip Safe Profit, Safe People, Safe Planet sebagai bagian dari upaya menciptakan value for nation.
Sementara itu, dari sisi finansial, perusahaan berupaya membangun bisnis yang sehat, stabil dan berkelanjutan melalui pengelolaan risiko yang prudent. Hal ini menjadi penting karena industri konstruksi memiliki risiko yang tinggi dan dipengaruhi dinamika ekonomi makro.
Brantas Abipraya menerapkan prinsip Three Lines of Defense, memperkuat pengendalian internal melalui Internal Control Over Financial Reporting (ICOFR), serta mengoptimalkan fungsi sejumlah komite, termasuk komite investasi dan divestasi serta komite konstruksi dan kepatuhan.
“Kemudian prudent ya, kita pengelolaan bijak melalui manajemen risiko, mengedepankan prinsip-prinsip Three Lines of Defenses, kehati-hatian dalam setiap aktivitas operasional. Karena kita mengetahui bisnis jasa konstruksi penuh dengan risk dan lain sebagainya dengan makro ekonomi yang ada sekarang,” kata Dian di hadapan dewan juri antara lain Melani K. Harriman (CEO Melani K. Harriman & Associates), Aldrin Herwany (Perbanas Institute Jakarta), dan Wahyudin Zarkasyi (Guru Besar Universitas Padjadjaran).
Pengelolaan risiko juga diterapkan dalam aktivitas investasi dan pengembangan bisnis. Perusahaan memperhitungkan tingkat eksposur risiko dalam investasi, termasuk dengan mempertimbangkan porsi kepemilikan pada sejumlah perusahaan.
“Meskipun di sini kami porsinya kecil karena kami mengetahui bahwasannya semua investasi yang dilakukan adalah risk, sehingga kita sudah memitigasi dengan share porsinya yang tidak banyak. Namun kita mendapatkan revenue dari kontrak barunya,” tutur Dian.
Perkuat GRC
Penguatan sistem GRC tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dan prosedur, tetapi juga melalui pembangunan budaya perusahaan. Brantas Abipraya mengembangkan sumber daya manusia yang berintegritas, profesional, adaptif, inovatif dan produktif.
Internalisasi nilai AKHLAK juga menjadi bagian dari fondasi tersebut. Nilai-nilai perusahaan diarahkan menjadi DNA insan Abipraya, yang diperkuat dengan prinsip melayani sepenuh hati dan keteladanan pemimpin.
Dian menegaskan setiap pemimpin harus mampu menjadi role model melalui kepemimpinan yang beretika, akuntabel dan konsisten.
“Jadi setiap pemimpin wajib menjadi teladan. Jadi dia menunjukkan accountability, menunjukkan integritas, konsistensi. Jadi itu perkataan dan perbuatannya itu selalu sejalan dengan apa yang dilakukan,” ujar Dian yang pada sesi penjurian ini juga didampingi oleh rekan dari Brantas Abipraya, di antaranya Mad Roynaldi (VP Sekretartiat & Tata Kelola), Maria Lucina (VP Corporate Communication & TJSL), Rinto Sugiharto (VP Strategi Kinerja dan Manajemen Risiko), Aldimas (VP Legal Korporasi), Rina Tarigan (VP Sistem & Kepatuhan), Sutrisno (Auditor SPI), serta Didiek Ishak (Senior VP QHSSE).
Pendekatan tersebut menjadi penting karena keberhasilan GRC pada akhirnya sangat ditentukan oleh bagaimana kebijakan dan nilai perusahaan diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam penerapannya, Brantas Abipraya mengintegrasikan GRC dengan Good Corporate Governance (GCG), dan ESG.
Sekretariat Perusahaan memiliki peran dalam memastikan prinsip keterbukaan, fairness, akuntabilitas dan tanggung jawab berjalan sesuai ketentuan. Sebagai badan publik, perusahaan juga memperkuat keterbukaan informasi.
Upaya tersebut menghasilkan capaian berupa peringkat pertama di lingkungan BUMN sebagai badan publik terbaik dalam keterbukaan informasi selama dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025, dengan nilai sekitar 98.
Penguatan tata kelola juga dilakukan melalui digitalisasi proses, manajemen mutu, SMAP, SMK3, serta pengelolaan risiko.
Untuk mendorong integritas, perusahaan mengelola Whistleblowing System (WBS) dengan mengacu pada ISO 37001 dan mengaitkannya dengan ISO 37002 mengenai pedoman WBS.
Di sisi tata kelola, perusahaan juga terus melakukan evaluasi terhadap prosedur yang berjalan dengan mengidentifikasi gap dan melakukan perbaikan. Sistem tersebut terintegrasi melalui kebijakan GRC, GCG dan ESG, dengan dukungan 10 kebijakan perusahaan, 194 petunjuk dan 71 prosedur kerja.
Menjaga Kinerja di Tengah Tantangan
Penerapan GRC memberikan dampak nyata terhadap kemampuan perusahaan menghadapi dinamika bisnis. Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi perusahaan konstruksi BUMN, terutama dengan adanya perubahan sistem penganggaran dan dinamika kebijakan pemerintah.
Di tengah kondisi tersebut, Brantas Abipraya tetap menjaga kinerja dan mampu membukukan laba sesuai target RKAP, meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Dian, penerapan GRC membantu perusahaan mengambil keputusan secara lebih prudent sekaligus mengelola risiko dengan lebih efektif. Hal tersebut tercermin dalam pengelolaan kontrak baru, carry over, hingga laba perusahaan.
“Pencapaian kontrak baru, Carry Over, laba perusahaan yang sudah kami inline-kan dengan GRC itu memberikan kontribusi yang sangat bagus sekali dalam pengambilan keputusan yang prudent serta pengelolaan risiko yang lebih efektif,” ungkap Dian.
Pada 2025, pendapatan perusahaan tercatat mencapai 137 persen dari parameter yang ditetapkan, meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, perusahaan masih mampu menjaga profitabilitas sesuai target yang telah ditetapkan.
Kondisi tersebut menunjukkan peran GRC tidak hanya berada pada tataran administratif, tetapi menjadi bagian dari mekanisme perusahaan dalam menjaga ketahanan bisnis ketika menghadapi tekanan.
Terintegrasi ESG dan Keberlanjutan
Brantas Abipraya juga mengintegrasikan GRC dengan agenda ESG sebagai bagian dari strategi bisnis berkelanjutan. Perusahaan menempatkan aspek ekonomi, lingkungan dan sosial sebagai bagian dari pengelolaan bisnis dan pelaporan kepada stakeholders.
“Jadi bisnis perusahaan yang berkelanjutan ini, itu harus dilakukan dengan tata kelola yang baik, pengelolaan isu-isu berkelanjutan, bisnis yang bertanggung jawab,” ujar Dian.
Perusahaan juga menerapkan ISO 31000 dan ISO 37001 serta mengadopsi berbagai ketentuan nasional dan internasional dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Program TJSL dilakukan baik di tingkat pusat maupun melalui proyek. Dengan keterbatasan sumber daya, Brantas Abipraya memperkuat dampak program melalui kolaborasi dengan BUMN lain sehingga social return on investment dan Creating Shared Value (CSV) dapat dimaksimalkan.
Pada 2025, KPI TJSL perusahaan bahkan mencapai lebih dari 100 persen dari target yang dilaporkan kepada kementerian.
Dalam aspek tata kelola, Brantas Abipraya juga mencatatkan skor assessment GCG 2025 sebesar 90,581 dengan predikat “Sangat Baik”.
Dampak Nyata pada Business Outcome
Bagi Brantas Abipraya, keberhasilan penerapan GRC pada akhirnya tidak diukur hanya dari kepatuhan terhadap regulasi atau banyaknya penghargaan yang diperoleh. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan GRC memberikan dampak terhadap business outcome perusahaan.
Karena itu, informasi risiko di perusahaan dieskalasikan secara berjenjang melalui tata kelola yang terstruktur. Mekanisme tersebut memungkinkan direksi memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan strategis secara tepat waktu dengan tetap menjaga eksposur risiko dalam batas risk appetite perusahaan.
“Informasi risiko dieskalasikan secara berjenjang, melalui tata kelola terstruktur, dari direksi mengambil keputusan strategik tepat waktu, memastikan exposure risiko dalam batas-batas risk appetite daripada perusahaan,” kata Dian.
Penguatan sistem tersebut turut mendukung berbagai capaian perusahaan. Pada 2025, Brantas Abipraya membukukan tujuh penghargaan internasional dan 62 penghargaan nasional, termasuk TOP GRC Awards.
Namun, capaian tersebut bukan menjadi tujuan akhir. Bagi perusahaan, GRC harus mampu diterjemahkan menjadi sistem yang benar-benar bekerja dalam pengambilan keputusan, pengelolaan risiko, kepatuhan, pengendalian internal, pengembangan SDM dan keberlanjutan.
Dengan demikian, transformasi GRC menjadi bagian dari upaya Brantas Abipraya membangun perusahaan yang lebih tangguh sekaligus memastikan pertumbuhan bisnis tetap sehat dan berkelanjutan.
“Yang kami harapkan adalah bahwasannya GRC, GCG dan ESG yang benar-benar terimplementasi dengan baik, ini merupakan salah satu parameter bahwasannya sukses GRC, GCG adalah sukses ke perusahaan untuk business outcome-nya,” pungkas Dian.
