Jakarta, TopBusiness—PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC) menempatkan tata kelola, manajemen risiko dan kepatuhan atau Governance, Risk and Compliance (GRC) sebagai fondasi strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah meningkatnya kompleksitas industri pupuk dan bahan kimia. Perusahaan mengintegrasikan GRC dengan kebijakan keberlanjutan (ESG: Environmental, Social, Governance) dengan dukungan sistem teknologi informasi dan platform digital, termasuk untuk pelaporan terpadu yang mendukung transparansi kepada pemangku kepentingan.
Secara umum, perusahaan menerapkan tata kelola yang juga diselaraskan dengan Tata Nilai PT Pupuk Indonesia (Persero) Group dan Danantara Indonesia, sebagai pedoman dalam membangun budaya kerja, pola pikir, dan perilaku seluruh insan perusahaan. Dengan visi “Pemain regional dalam agrosolusi dan bahan kimia turunan”, perusahaan berupaya menyatukan kebijakan keberlanjutan dengan sistem GRC, agar tujuan sosial dan lingkungan selaras dengan tata kelola dan kepatuhan.
Untuk penanganan risiko yang lebih sistematis, sistem manajemen risiko terus diperkuat, termasuk risiko terkait ESG, seperti perubahan iklim, isu sosial, atau reputasi yang dimasukkan dalam kerangka manajemen risiko GRC terpadu. Perusahaan juga mendorong budaya kepatuhan melalui pelatihan, audit internal, dan pelaporan yang transparan, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.
Demikian beberapa poin penting yang dipaparkan dalam proses penjurian TOP GRC/CGPI Awards 2026 yang disampaikan Direktur Manajemen Risiko PT Pupuk Kujang, Yana Nurahmad Haerudin, serta Komisaris Utama Idha Widi Arsanti. Bahkan perusahaan mulai mengembangkan konsep smart GRC yang semakin terintegrasi dengan strategi bisnis, melalui penguatan transformasi digital hingga tata kelola dengan teknologi kecerdasan -artifisial inteligence (AI).
Di antaranya mengaplikasikan digitalisasi GRC (SIMRisk, Kujang AI), sebagai respons strategis, bukan sekadar efisiensi. Tata kelola AI (AI Governance) terintegrasi dalam pengelolaan tata kelola, kepatuhan dan manajemen risiko. Terkait pemanfaat IT, saat ini terdapat tujuh agen AI yang disebut Zenith, Tamara, Arisk, Dimas, ILC, Plantastic dan Prima. Kehadiran AI tersebut tidak ditempatkan semata-mata sebagai alat efisiensi, tetapi menjadi bagian dari respons strategis perusahaan terhadap transformasi digital. Karena itu, tata kelola AI juga mulai diintegrasikan ke dalam pengelolaan tata kelola, kepatuhan dan manajemen risiko. Selain itu terdapat Digital Employee and Notification (DEMPLON), Digital Office, ERP-SAP, serta sistem e-procurement untuk mendukung proses operasional dan pengadaan.
“PT Pupuk Kujang berkomitmen bahwa GRC bukan sekadar sistem, melainkan cara kami menciptakan nilai, melindungi kepercayaan, dan memastikan keberlanjutan bisnis demi ketahanan pangan dan kemakmuran bangsa. Kompleksitas bisnis yang dihadapi perusahaan bukan sekadar menjadi tantangan, tetapi justru memperkuat kebutuhan terhadap penerapan GRC yang cerdas dan terintegrasi,” tandas Direktur Manajemen Risiko PT Pupuk Kujang, Yana Nurahmad Haerudin dalam wawancara penjurian “TOP GRC Awards 2026” yang dihelat majalah Topbusiness secara daring melalui aplikasi zooom meeting (14/08/2026).
Turut hadir dalam wawancara penjurian ini dari PKC, di antaranya selain Komut, ada Bambang Widjanarko (Komisaris) Elok (Komite Audit)- Edriana Noerdin (Komisaris), Fera SVP Keuangan, Luthfianto SVP Umum, Zainal Fatoni (SVP Teknologi dan K3LH), Achmad Setiawan SPV TKMR, Eric (Komite PMR PKC), Neti Apiati (PKC), dan Andika Arif Kurniawan (SVP Operasi).
Sedangkan tim juri penilai terdiri DR. Melani K. Harriman (CEO Melani K. Harriman & Associates), Benyamin De Haan SH ( Senior Advisor MSI Group), Prof.DR Wahyudin Zarkasyi (Guru Besar FEB- Unpad), Ir. Thendri Supriatno (Corporate Forum for CSR Development/CFCD) yang dimoderatori oleh Ahmad Chury (MSI Group).
Dinamika Risiko
Dalam paparannya, Yana Nurahmad Haerudin mengungkapkan bahwa dalam dinamikanya, Pupuk Kujang menghadapi juga sejumlah risiko strategis. Mulai dari volatilitas harga gas dan ketergantungan bahan baku, perubahan regulasi dan skema subsidi, keandalan aset serta operasional pabrik, tuntutan ESG dan transisi energi, hingga transformasi digital dan perkembangan AI. “Kompleksitas tantangan ini bukan hambatan, melainkan justifikasi mengapa GRC yang cerdas dan terintegrasi menjadi keharusan bagi PT Pupuk Kujang,” ujarnya.
Dewan Komisaris melalui Komite Audit dan Komite Pemantau Risiko menjalankan fungsi pengawasan. Sementara unit manajemen risiko serta tata kelola dan kepatuhan, berperan dalam memastikan penerapan manajemen risiko dan proses bisnis berjalan sesuai standar dan prosedur.
“Sesuai tugas dan fungsi kami, jajaran komisaris juga terus mendorong manajemen dan BOD Pupuk Kujang, agar senantiasa sigap menyikapi dinamika yang terus berkembang dalam indutri ini. Kami juga melakukan dukungan dan fasilitasi yang selaras untuk mendukung keberlanjutan bisnis dan daya saing yang lebih kuat,” demikian ungkap Komisaris Utama PT Pupuk Kujang , Idha Widi Arsanti dalam kesempatan itu.
Dalam paparannya, Direktur Manajemen Risiko PT Pupuk Kujang, Yana Nurahmad Haerudin menyatakan, salah satu perhatian utama Pupuk Kujang adalah volatilitas harga gas yang ditetapkan sebagai Risk That Matters (RTM) perusahaan. Risiko tersebut dipantau menggunakan Key Risk Indicator (KRI) dengan sejumlah tingkat ambang, mulai dari kondisi aman, hati-hati hingga bahaya melalui Sistem Informasi Manajemen Risiko (SIMRisk).
Sedangkan dinamika regulasi dan perubahan skema subsidi, diantisipasi melalui pemantauan kepatuhan secara real time serta regulatory mapping yang adaptif. Perusahaan juga menerapkan ISO 37301 sebagai bagian dari penguatan sistem manajemen kepatuhan.
Dari sisi operasional, keandalan aset menjadi faktor penting mengingat bisnis pupuk sangat bergantung pada kontinuitas operasi pabrik. Karena itu, Pupuk Kujang menerapkan manajemen aset berbasis ISO 55001 untuk menjaga plant reliability sekaligus mengantisipasi potensi kerugian produksi.
Pada aspek keberlanjutan, risiko ESG seperti perubahan iklim, persoalan sosial dan reputasi telah dimasukkan ke dalam profil risiko perusahaan. Pupuk Kujang juga melakukan rating ESG dengan standar internasional melalui S&P Global, dengan ESG Score yang tercatat sebesar 65.
GRC Tidak Sekadar Kepatuhan
Pupuk Kujang memandang GRC bukan hanya sebagai perangkat kepatuhan, tetapi juga instrumen untuk menciptakan dan melindungi nilai perusahaan. Perusahaan membagi manfaat GRC ke dalam beberapa aspek, yakni value protection, value creation, operational efficiency, stakeholder trust, legal and compliance, serta business resilience.
Integrasi GRC dengan ESG dilakukan dengan menyatukan kebijakan keberlanjutan lingkungan, sosial dan tata kelola ke dalam sistem GRC. Dengan demikian, risiko ESG dapat dikelola secara lebih sistematis dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan perusahaan. Manajemen juga mendorong budaya kepatuhan dan transparansi melalui pelatihan, audit internal serta pelaporan. Pemanfaatan teknologi digital digunakan untuk memonitor kinerja ESG dan kepatuhan sekaligus mendukung pelaporan terpadu kepada para pemangku kepentingan.
Three Lines Model
Dalam penerapannya, Pupuk Kujang menggunakan Three Lines Model dengan pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas. Dalam hal ini, Dewan Komisaris melalui Komite Audit dan Komite Pemantau Risiko menjalankan fungsi pengawasan. Sedangkan unit manajemen risiko serta tata kelola dan kepatuhan, berperan dalam memastikan penerapan manajemen risiko dan proses bisnis berjalan sesuai standar dan prosedur.
Model tersebut diperkuat dengan lingkungan pengendalian yang kondusif, konsistensi pelaksanaan kebijakan dan prosedur manajemen risiko, serta pengendalian internal yang efektif.
Dari sisi tata kelola, perusahaan juga menjalankan pelaporan e-LHKPN secara rutin, menerapkan GCG melalui Pedoman Tata Kelola Perusahaan berdasarkan SK Bersama Direksi dan Dewan Komisaris No. 011/KP/DK/PK/II/2022, serta menyusun Buku Pedoman Pengelolaan Perusahaan bagi Dewan Komisaris dan Direksi.
Pupuk Kujang juga memperluas implementasi dan sertifikasi Sistem Manajemen Anti-Penyuapan (SMAP) SNI ISO 37001:2016, disertai pendampingan dan pelatihan e-LHKPN, WBS, gratifikasi dan pelaporan benturan kepentingan. Program sosialisasi budaya anti-fraud juga dilakukan kepada karyawan, termasuk pemahaman penerapan GCG dan pengisian kuesioner Fraud Control System.
Guna memastikan keberlangsungan bisnis, Pupuk Kujang menerapkan Business Continuity Management System (BCMS). Sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi potensi ancaman terhadap operasi perusahaan, menilai dampaknya dan membangun kemampuan organisasi untuk merespons secara efektif. Kerangka BCMS mencakup governance, pemahaman terhadap risiko, recovery strategy, planning, awareness and training, exercise and testing, serta maintenance.
Perusahaan juga memiliki Financial Contingency Plan untuk menghadapi kondisi keuangan darurat yang berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha. Dokumen tersebut mencakup berbagai skenario krisis, indikator dan trigger level untuk empat aspek, yakni permodalan, likuiditas, rentabilitas dan kualitas aset. Di dalamnya juga terdapat pilihan pemulihan maupun opsi resolusi apabila perusahaan menghadapi kondisi gagal bayar atau pailit.
Kinerja GRC Terukur
Penerapan GRC di Pupuk Kujang tercermin dalam sejumlah indikator. Berdasarkan materi penjurian, perusahaan mencatat skor asesmen GCG 94,49 pada 2025, sementara Risk Maturity Index (RMI) berada pada level 2,7 untuk periode 2024. Di sisi ESG, perusahaan memperoleh ESG Score 65 dari S&P Global.
Implementasi GRC juga berjalan berdampingan dengan berbagai sistem manajemen terintegrasi, antara lain ISO 37001 untuk anti-penyuapan, ISO 9001 untuk mutu, ISO 50001 untuk energi, ISO 17025 untuk laboratorium, SMK3, ISO 14001 untuk lingkungan, FSSC 22000 untuk keamanan pangan, Fraud Control System serta ISO 27001 untuk keamanan informasi.
Komitmen Pupuk Kujang terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui berbagai program ESG dan SDGs. Di antaranya program Kujang Merawat Hutan Sejahterakan Desa (Kuwatan Sadesa), dekarbonisasi, penerapan ISO 14000, program SAKASAPO untuk rehabilitasi lingkungan, Kampung Nanasku serta pengelolaan Taman Keanekaragaman Hayati.
Sedangkan pada aspek sosial dan sumber daya manusia, perusahaan melakukan pemetaan dan peningkatan kompetensi karyawan, pencanangan talent pool sebagai kader pemimpin serta memperhatikan kesetaraan gender dalam pemilihan pejabat struktural.
