TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC YBM BRILiaN, Menjaga Amanah Dana Publik hingga Menghasilkan Dampak Sosial yang Terukur

Irawan Djoko Nugroho
18 August 2026 | 16:12
rubrik: Event, GCG
GRC YBM BRILiaN, Menjaga Amanah Dana Publik hingga Menghasilkan Dampak Sosial yang Terukur

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) di Yayasan Baitul Maal BRILiaN (YBM BRILiaN) tidak semata diarahkan untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi.

Bagi lembaga amil zakat nasional (LAZNAS) tersebut, GRC menjadi fondasi untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan dana yang dikelola dapat menghasilkan dampak sosial yang berkelanjutan.

Sebagai LAZNAS yang beroperasi sebagai Faith-Based Human Service Organization, keberlanjutan YBM BRILiaN tidak diukur berdasarkan keuntungan komersial. Legitimasi moral, transparansi, akuntabilitas, serta besarnya manfaat yang dirasakan right holders menjadi ukuran penting keberhasilan lembaga.

Karena itu, penerapan GRC di YBM BRILiaN diarahkan untuk memastikan seluruh aktivitas berjalan dalam koridor 3A, yakni Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI.

Hal tersebut disampaikan Manager of Corporate Governance Division YBM BRILiaN, Irfanul Arifin, dalam Penjurian TOP GRC Awards 2026 yang dilaksanakan secara daring di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Menurut Irfanul, kerangka GRC di YBM BRILiaN diterapkan secara terintegrasi, mulai dari tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, audit, ESG, hingga pengukuran kinerja.

“Di YBM BRILiaN, manajemen risiko tidak berhenti pada identifikasi ancaman, tetapi diterjemahkan menjadi langkah pencegahan, mitigasi, dan coping mechanism untuk menjaga keberlanjutan pelayanan kepada mustahik,” kata Irfanul.

Dalam penerapannya, YBM BRILiaN menggunakan kerangka SNI ISO 31000:2018 untuk memasukkan pertimbangan risiko secara proaktif dalam penetapan target strategis.

Indikator kinerja, risiko, dan kepatuhan—KPI, KRI, dan KCI—juga diselaraskan dalam satu kerangka pengawasan. Di sisi tata kelola, fungsi dan kewenangan dibagi secara jelas antara Badan Pembina, Dewan Pengawas, Dewan Pengawas Syariah, Badan Pengurus, Badan Pelaksana, fungsi Corporate Governance, Biro Kepatuhan Syariah, dan Audit Internal.

Model three lines of defence kemudian memperkuat mekanisme pengendalian tersebut. Lini pertama berperan sebagai pemilik risiko, lini kedua menjalankan fungsi risiko dan kepatuhan, sedangkan lini ketiga memberikan independent assurance melalui Audit Internal.

BACA JUGA:   GRC Menjadi Penopang Pertumbuhan PLN Batam di Tengah Lonjakan Permintaan Listrik Data Center

Antisipasi Risiko Penghimpunan

Implementasi GRC juga terlihat dalam cara YBM BRILiaN mengantisipasi risiko terhadap penghimpunan dana, terutama ketika terjadi tekanan ekonomi.

Dalam skenario penurunan penghimpunan akibat krisis ekonomi, misalnya, YBM BRILiaN menyiapkan diversifikasi sumber dana melalui perusahaan anak atau afiliasi, mitra B2B, serta donatur publik.

Pada saat yang sama, kanal donasi digital diperluas melalui memberimakna.id, fitur zakat pada BRImo, dan Agen BRILink.

Manajemen risiko juga diterjemahkan ke dalam strategi program. Ketika kondisi menuntut penyesuaian alokasi dana, YBM BRILiaN mengarahkan sebagian program dari pendekatan karitatif menuju pemberdayaan ekonomi produktif melalui Mustahik Income Generating Program (MIGP).

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan risiko tidak hanya berbicara mengenai perlindungan organisasi dari potensi kerugian, tetapi juga bagaimana lembaga tetap mampu menjalankan mandat sosial ketika menghadapi perubahan kondisi eksternal.

Perkuat Kepatuhan dan Digitalisasi

Di sisi kepatuhan, YBM BRILiaN membangun compliance map yang memetakan berbagai ketentuan yang berkaitan dengan operasional lembaga. Pemetaan tersebut mencakup regulasi pemerintah, ketentuan perzakatan, fatwa, hingga standar internasional yang relevan.

Beberapa ketentuan yang menjadi rujukan antara lain UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, PMA No. 19/2024, UU No. 27/2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, Perbaznas, Fatwa DSN-MUI, Opini Dewan Pengawas Syariah, serta standar ISO 9001, ISO 37001, dan ISO 31000.

Pengawasan dilakukan secara berkelanjutan melalui Key Compliance Indicators, audit internal, pengujian sampel transaksi, inspeksi, evaluasi, kajian, stock opname, hingga Whistleblowing System (WBS).

Transformasi digital juga menjadi bagian dari penguatan GRC. YBM BRILiaN memanfaatkan Microsoft Teams untuk pemantauan kinerja dan perkembangan proses bisnis, serta Privy.id untuk tanda tangan digital sembari mempersiapkan platform internal.

Selain itu, lembaga tersebut memiliki Learning Management System untuk mendukung pembelajaran amil secara digital dan mandiri.

BACA JUGA:   TOP Human Capital Awards 2024: Menyelaraskan Human Capital dengan Strategi Bisnis

YBM BRILiaN juga mengembangkan BRILiaN Hub yang menyediakan dashboard kinerja dan kebijakan internal sesuai dengan akses serta kewenangan masing-masing amil.

Meski demikian, implementasi digital tersebut masih terus dikembangkan. Sejumlah sistem belum sepenuhnya terintegrasi dan masih dalam proses penyempurnaan.

GRC dan Kinerja Pengelolaan Dana

Penerapan tata kelola, risiko, dan kepatuhan tersebut berjalan beriringan dengan kinerja pengelolaan dana YBM BRILiaN.

Pada 2025, total penghimpunan ZIS dan DSKL on balance sheet mencapai Rp26,71 miliar, meningkat 42,53% dibandingkan Rp18,74 miliar pada 2024.

Angka tersebut belum termasuk dana zakat titipan penyaluran UPZ BAZNAS BRI sebesar Rp92,6 miliar.

Sementara itu, realisasi pendistribusian dan pendayagunaan dana pada 2025 mencapai Rp134,2 miliar, meningkat dibandingkan Rp126,7 miliar pada 2024.

Rasio efektivitas penyaluran atau ACR Ratio mencapai 99,16% dengan predikat Sangat Efektif. Dari sisi jangkauan, jumlah right holders yang menerima manfaat meningkat 72,41% menjadi 340.650 jiwa dari 197.579 jiwa pada 2024.

Kualitas pengelolaan dana juga menunjukkan perbaikan. Kualitas piutang penyaluran turun menjadi 0,11% pada 2025 dari 0,35% pada tahun sebelumnya. Artinya, terjadi perbaikan sebesar 68,57% dan posisi tersebut berada jauh di bawah ambang batas maksimal 1%.

Dari sisi pelaporan keuangan, Laporan Keuangan YBM BRILiaN 2025 memperoleh opini Wajar dari Kantor Akuntan Publik. Opini tersebut menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas YBM BRILiaN sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Penyaluran

Bagi YBM BRILiaN, keberhasilan GRC pada akhirnya tidak hanya dilihat dari besarnya dana yang berhasil dihimpun maupun disalurkan. Lembaga tersebut mulai mengukur sejauh mana dana yang dikelola benar-benar menghasilkan perubahan sosial bagi penerima manfaat.

BACA JUGA:   BPR Bank Daerah Gianyar Bangun Budaya Sadar Risiko Lewat Smart GRC

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Social Return on Investment (SROI).

Program Bright Scholarship, misalnya, mengalokasikan Rp30,11 miliar bagi 1.430 mahasiswa dan menghasilkan SROI sebesar 1,6.

Sementara itu, MIGP dengan pendayagunaan Rp14,63 miliar kepada 1.184 pelaku usaha berhasil meningkatkan kapasitas ekonomi mustahik serta skor SLIA dari kategori buruk menjadi sangat baik.

Program Family Strengthening dengan pendayagunaan Rp6,74 miliar bagi 677 keluarga menghasilkan SROI antara 2,65 hingga 3,11.

Adapun program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) yang menjangkau 23.566 jiwa dengan pendayagunaan Rp4,82 miliar mencatat SROI tertinggi, yakni 4,24 hingga 5,98.

Menurut Irfanul, pengukuran tersebut memperlihatkan bahwa dana publik yang dikelola YBM BRILiaN tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek, tetapi diarahkan untuk membangun kemandirian penerima manfaat dan menciptakan dampak yang berkelanjutan.

“Dengan adanya berbagai program unggulan yang telah dilaksanakan, YBM BRILiaN berhasil menghadirkan dana publik tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek semata, tetapi juga menghasilkan kemandirian dan dampak yang berkelanjutan. Hal ini selaras dengan posisi YBM BRILiaN sebagai Social Engine dalam pilar sosial ESG BRI Group,” pungkas Irfanul.

Dengan demikian, penerapan GRC di YBM BRILiaN tidak berhenti pada kepatuhan administratif. Tata kelola menjadi fondasi, manajemen risiko menjadi instrumen untuk menjaga keberlanjutan, sementara kepatuhan dan pengawasan menjadi mekanisme untuk mempertahankan kepercayaan.

Pada akhirnya, seluruh kerangka tersebut bermuara pada satu ukuran yang lebih substantif: seberapa besar dana yang dipercayakan publik mampu menghasilkan manfaat dan perubahan sosial yang nyata.

Tags: TOP GRC Awards 2026YBM BRILian
Previous Post

Hutama Karya Raih Peringkat 1 Riau Investment Award 2026, Tegaskan Kontribusi Investasi untuk Riau

Next Post

ITB Ultra Marathon 2026 Perluas Dampak Sosial melalui Program CSR Air Layak Minum

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR