TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC Mendukung Sustainability Bisnis Transjakarta

Teguh Imam Suyudi
27 August 2026 | 11:22
rubrik: Event
GRC Mendukung Sustainability Bisnis Transjakarta

Transjakarta memaparkan penerapan tata kelola, pengelolaan risiko, dan kepatuhan untuk memperkuat layanan transportasi publik sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

Jakarta, TopBusiness — PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengikuti Wawancara Penjurian TOP GRC Award 2026 pada Rabu (26/8/2026). Dalam agenda tersebut, Transjakarta memaparkan penerapan governance, risk, and compliance (GRC) sebagai bagian dari upaya memperkuat kinerja perusahaan dan menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Materi yang dibawakan Transjakarta dalam penjurian tersebut bertajuk “Governance, Risk, and Compliance: Empowering Sustainable Growth at Transjakarta”.

Melalui materi tersebut, Transjakarta menunjukkan bagaimana tata kelola perusahaan, pengelolaan risiko, dan kepatuhan tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari pengawasan perusahaan. Ketiganya juga diarahkan untuk mendukung kualitas layanan transportasi publik, pengembangan bisnis, serta keberlanjutan perusahaan.

Tim Transjakarta yang mengikuti proses penjurian terdiri atas Komisaris Johan Budi Sapto Pribowo, Direktur Keuangan, SDM, dan Umum Mayangsari D. Irwantari, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Masyarakat Tjahyadi D.P Manulang, Kepala Divisi Perencanaan Perusahaan, Manajemen Risiko dan Mutu Utari Hambawati, serta Senior Spesialis Auditor Rankie Rolando.

Adapun dewan juri TOP GRC Award 2026 terdiri atas M. Lutfi Handayani dari MSI Group, Benyamin De Haan dari MSI Institute, dan Dwinda Ruslan dari Yayasan Pengembangan Ekonomi Mikro.

Dua Fokus Pertumbuhan Transjakarta

Dalam pemaparannya, Mayangsari mengatakan Transjakarta memiliki dua fokus utama dalam menjalankan strategi bisnis. Pertama, meningkatkan pelayanan transportasi publik. Kedua, meningkatkan keuntungan dan nilai ekonomi perusahaan.

Kedua fokus tersebut menjadi penting karena Transjakarta memiliki peran besar dalam sistem transportasi publik Jakarta dan wilayah sekitarnya.

“Dalam strategi bisnis yang dijalankan, kami memiliki dua engine of growth, yaitu meningkatkan pelayanan transportasi publik dan meningkatkan profitabilitas dan economic value added,” kata Mayangsari.

Lebih lanjut ia memaparkan kinerja Transjakarta pada 2025 yang menunjukkan pertumbuhan pada sejumlah indikator.

Jumlah pelanggan mencapai 413,34 juta orang, meningkat 11,2 persen dibandingkan 2024 yang mencapai sekitar 371,66 juta pelanggan. Cakupan layanan juga meningkat dari 91,7 persen menjadi 92,4 persen.

Pada saat yang sama, dari sisi keselamatan, accident rate atau tingkat kecelakaan turun dari 0,36 pada 2024 menjadi 0,33 pada 2025. Indeks kepuasan pelanggan tetap berada pada angka 4,4 dari skala 5.

Menurut Mayangsari, data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pelanggan berjalan bersamaan dengan upaya menjaga kualitas dan keselamatan layanan.

BACA JUGA:   PDAM Kotabaru Ingatkan Kembali soal Visi

Pendapatan Non-Subsidi Tumbuh

Selain pelayanan publik, Transjakarta juga berupaya memperkuat sumber pendapatan di luar subsidi, antara lain melalui optimalisasi aset, pengembangan bisnis digital, serta kolaborasi dengan berbagai mitra.

Transjakarta mengembangkan sejumlah kegiatan seperti naming rights halte, wisata perkotaan, pengembangan produk berbasis kekayaan intelektual, hingga ekosistem transaksi digital.

Pada 2025, laba bersih Transjakarta juga meningkat menjadi Rp208 miliar dari Rp201 miliar pada 2024. Total aset meningkat dari Rp7,659 triliun menjadi Rp8,654 triliun.

Bagi Transjakarta, pengembangan sumber pendapatan tersebut menjadi salah satu cara menjaga pertumbuhan perusahaan tanpa mengabaikan fungsi utamanya sebagai penyedia layanan transportasi publik.

GRC Menjadi Bagian Strategi Bisnis

Penerapan GRC menjadi salah satu fondasi untuk menjaga agar pertumbuhan tersebut tetap berjalan secara terarah.

“Transjakarta menerapkan Three Lines Model atau model tiga lini dalam pengelolaan perusahaan,” tutur Mayangsari.

Dalam model tersebut, lini pertama terdiri atas unit yang menjalankan kegiatan usaha sehari-hari sekaligus menjadi pemilik risiko. Lini kedua mencakup fungsi manajemen risiko, manajemen mutu, legal, dan kepatuhan yang memberikan dukungan serta keahlian kepada lini pertama.

Sementara itu, lini ketiga dijalankan oleh auditor internal yang bekerja secara independen dan objektif untuk memastikan tata kelola serta pengendalian risiko berjalan dengan baik.

Struktur tersebut diperkuat dengan keberadaan sejumlah fungsi dan komite, antara lain Divisi Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Masyarakat, Divisi Perencanaan Perusahaan, Manajemen Risiko dan Mutu, Divisi Legal dan Kepatuhan, Satuan Pengawas Internal, serta Komite Manajemen Risiko.

Di tingkat pengawasan, terdapat Komite Audit dan GCG, Komite SDM dan Remunerasi, Komite Pemantauan Manajemen Risiko, serta Komite Pelayanan dan Operasional.

Dengan struktur tersebut, pengelolaan risiko dan pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu bagian, tetapi menjadi bagian dari proses kerja perusahaan.

Mengelola Lima Risiko Utama

Dalam penerapan manajemen risiko, Transjakarta telah menetapkan lima risiko utama yang perlu dipantau. Kelima risiko tersebut mencakup risiko keuangan, keselamatan, komersialisasi aset, gangguan layanan, dan tata kelola sumber daya manusia.

Masing-masing risiko memiliki indikator risiko utama atau key risk indicator (KRI). Indikator tersebut digunakan untuk melihat apakah tingkat risiko masih berada dalam batas yang aman.

BACA JUGA:   Transjakarta Perkuat Tata Kelola GRC dengan Sistem Pelaporan dan Manajemen Risiko Terpadu

Transjakarta juga menggunakan sistem peringatan dini untuk membantu mendeteksi peningkatan risiko lebih awal sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum risiko berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

“Pendekatan tersebut menjadi penting bagi perusahaan transportasi publik karena gangguan terhadap operasional tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga langsung dirasakan masyarakat sebagai pengguna layanan,” Mayangsari menegaskan.

Transjakarta juga memiliki Sistem Manajemen Keberlangsungan Usaha untuk mengidentifikasi dan menganalisis ancaman terhadap kelangsungan bisnis. Selain itu, fungsi audit internal melakukan pemeriksaan terhadap pengendalian risiko dan memantau tindak lanjut atas hasil audit.

Tata Kelola Mendapat Predikat Sangat Baik

Menurut Mayangsari, penguatan GRC tercermin dalam hasil penilaian tata kelola perusahaan.

Skor Good Corporate Governance (GCG) meningkat dari 88,19 pada 2024 menjadi 90,64 pada 2025. Skor tersebut mendapatkan predikat “Sangat Baik”.

Skor kematangan risiko juga meningkat dari 3,84 menjadi 3,89. Sementara skor kematangan sumber daya manusia naik dari 3,44 menjadi 3,63.

Dari sisi keuangan, laporan keuangan 2025 Transjakarta telah diaudit dengan opini wajar tanpa pengecualian sesuai standar akuntansi di Indonesia.

Transjakarta juga memiliki sejumlah saluran pengendalian untuk mencegah penyimpangan, yaitu Unit Pengendali Gratifikasi dan Whistleblowing System.

Sustainability Melalui Tiga Pilar

Selain tata kelola dan risiko, keberlanjutan menjadi bagian penting dari strategi Transjakarta.

Perusahaan menggunakan tiga pilar keberlanjutan, yaitu Bersih, Berdaya, dan Bestari.

Mayangsari menjelaskan, “Pilar Bersih berkaitan dengan upaya menjaga lingkungan, termasuk mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik dan mengurangi emisi. Pilar Berdaya berfokus pada dukungan terhadap ekonomi lokal. Adapun pilar Bestari berkaitan dengan penyediaan layanan yang inklusif dan dapat diakses berbagai lapisan masyarakat.”

Salah satu bentuk nyata komitmen terhadap lingkungan adalah pengoperasian 500 bus listrik.

Dari jumlah tersebut, 100 bus listrik low floor diluncurkan pada 2023, 200 bus listrik high deck untuk layanan BRT pada 2024, 170 bus listrik high deck pada 2025, dan 30 bus listrik high deck pada 2026.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa sustainability tidak hanya ditempatkan sebagai konsep, tetapi juga diterapkan dalam pengembangan layanan transportasi.

Perkuat Transformasi Digital

Transjakarta juga mengandalkan teknologi untuk meningkatkan keandalan layanan dan operasional.

Perusahaan mengembangkan sejumlah aplikasi dan sistem secara internal, termasuk aplikasi TJ: Transjakarta, sistem pengendalian operasional bus Syntra, sistem ERP Integrasio, sistem HRIS Sobat, Whistleblowing System, dan Unit Pengendali Gratifikasi.

BACA JUGA:   Cetak Talenta Muda Siap Kerja, Transjakarta Lepas Peserta Program "Transjakarta Berdaya" Batch 1

Aplikasi TJ: Transjakarta telah diluncurkan sejak September 2024 dan tercatat telah diunduh oleh 3,2 juta pengguna. Aplikasi tersebut menyediakan sejumlah fitur, seperti pelacakan bus secara langsung, perencanaan perjalanan, tiket digital, dan informasi halte terdekat.

Transformasi digital tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki pengalaman pelanggan sekaligus mendukung pengelolaan operasional yang lebih baik.

Ketahanan Layanan Lintas Operator

Salah satu praktik GRC yang menjadi perhatian Transjakarta adalah penguatan ketahanan layanan melalui kerja sama lintas operator.

“Program tersebut dikembangkan untuk menghadapi risiko operasional yang dapat mengganggu layanan transportasi publik,” kata Mayangsari.

Ketika terjadi gangguan pada salah satu operator, kerja sama memungkinkan adanya dukungan armada dan rute secara taktis. Kerja sama tersebut kemudian diperkuat melalui nota kesepahaman mengenai ketahanan transportasi lintas operator.

Transjakarta menyebut kolaborasi ini akan terus diperkuat agar sistem transportasi publik dapat tetap berjalan ketika menghadapi gangguan.

Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan

Transjakarta juga menempatkan Service, Strategic Partnership, dan Sustainability sebagai tiga pilar strategis atau Triple S.

Melalui pilar Service, perusahaan berupaya memberikan pengalaman pelanggan yang baik dengan standar layanan tinggi. Strategic Partnership diarahkan untuk meningkatkan nilai melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Sementara Sustainability menekankan pertumbuhan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Untuk memperkuat pengelolaan risiko, Transjakarta telah menyiapkan roadmap 2026-2030. Targetnya bergerak dari penguatan tata kelola risiko, integrasi dan optimalisasi, penguatan risiko strategis, hingga pengelolaan risiko yang terintegrasi dan berkelanjutan pada 2030.

“Dengan demikian, penerapan GRC di Transjakarta diarahkan bukan hanya untuk memastikan perusahaan mematuhi aturan. GRC juga menjadi bagian dari cara perusahaan menjaga layanan, mengelola risiko, memperkuat bisnis, dan membangun keberlanjutan,” tutup Mayangsari.

Dalam konteks perusahaan transportasi publik, pendekatan tersebut menjadi penting karena keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari kinerja keuangan. Kemampuan menyediakan layanan yang aman, andal, inklusif, dan berkelanjutan juga menjadi bagian dari nilai yang diberikan kepada masyarakat.

Melalui penerapan GRC yang semakin terintegrasi, Transjakarta berupaya memastikan pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas transportasi publik dan kontribusi terhadap pembangunan kota yang berkelanjutan.

Tags: transjakarta
Previous Post

Dr. Martens Luncurkan Produk Baru

Next Post

Merger MTEL-TBIG Berpotensi Jadi Katalis Baru Industri Menara Telekomunikasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR