TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Merger MTEL-TBIG Berpotensi Jadi Katalis Baru Industri Menara Telekomunikasi

Nurdian Akhmad
27 August 2026 | 11:30
rubrik: Business Info, Capital Market
4.000 Menara Telkomsel Dialihkan ke Mitratel, Segini Transaksinya

Ilustrasi menara. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Wacana merger antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (IDX: MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (IDX: TBIG) kembali menjadi perhatian di tengah kondisi pasar saham yang masih dibayangi sikap hati-hati investor.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai aksi konsolidasi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi industri menara telekomunikasi, terutama setelah pertumbuhan permintaan menara dan penambahan tenant cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Aditya Widjaja mengatakan, apabila merger MTEL dan TBIG terealisasi, entitas hasil penggabungan akan memiliki skala bisnis yang sangat besar. Perusahaan gabungan diperkirakan mengoperasikan sekitar 65.800 menara dengan jumlah tenant mencapai sekitar 106.100 dan tenancy ratio sekitar 1,61 kali.

Menurut Daniel, kombinasi aset kedua perusahaan juga memiliki tingkat kecocokan yang cukup baik. MTEL memiliki konsentrasi aset yang lebih besar di luar Jawa, sedangkan TBIG memiliki eksposur yang relatif lebih kuat di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat potensi tumpang tindih aset hasil merger dinilai relatif terbatas.

“Konsolidasi dapat menjadi katalis pertumbuhan setelah beberapa tahun permintaan menara dan penambahan tenant cenderung moderat,” ujar Daniel dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026).

Ia menilai, merger tersebut tidak hanya berpotensi menciptakan skala ekonomi yang lebih besar, tetapi juga dapat memperkuat posisi tawar perusahaan menara dalam menghadapi operator telekomunikasi. Dengan basis aset dan tenant yang lebih besar, entitas hasil merger berpeluang memiliki posisi yang lebih kuat dalam negosiasi perpanjangan kontrak sewa menara.

Selain itu, konsolidasi dinilai dapat membuka peluang pertumbuhan baru seiring dengan potensi siklus belanja modal operator telekomunikasi untuk pengembangan jaringan 5G. Dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur pendukung jaringan, perusahaan menara dengan skala dan cakupan jaringan yang lebih luas berpotensi mendapatkan manfaat dari ekspansi tersebut.

BACA JUGA:   Pangsa Pasar Perantara Efek Mandiri Sekuritas Tergerus Menjadi 4,1 persen

Mirae Asset Sekuritas mempertahankan pandangan Neutral terhadap sektor infrastruktur telekomunikasi. Namun, peluang investasi tetap terbuka pada sejumlah emiten. Untuk MTEL, Mirae Asset memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp670 per saham. Sementara untuk TBIG, rekomendasinya adalah Trading Buy dengan target harga Rp1.700 per saham.

Adapun PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga dinilai berpotensi mendapatkan dampak positif dari konsolidasi industri tersebut. Posisi TOWR dinilai menarik karena dapat memperoleh manfaat dari perubahan struktur industri tanpa harus menanggung risiko integrasi langsung yang melekat pada perusahaan yang melakukan merger.

Pasar Masih Wait-and-See

Terkait penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 1,5% ke level 6.405 pada perdagangan kemarin, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai bahwa investor masih mencermati perkembangan risiko domestik, pergerakan nilai tukar Rupiah, serta arus dana asing (foreign flow).

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor diperkirakan mengambil sikap wait-and-see menjelang aksi demonstrasi di DPR. Menurutnya, dampak aksi tersebut terhadap pasar akan sangat bergantung pada skala dan perkembangannya.

Jika berlangsung tertib, dampak terhadap pasar diperkirakan cenderung bersifat sementara. Namun, perkembangan risiko domestik tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi sentimen investor dan volatilitas pasar.

“IHSG masih menghadapi risiko dari sisi domestik dan eksternal. Kami melihat Rupiah dan foreign flow sebagai indikator utama untuk menilai apakah risiko dari agenda domestik mulai berdampak lebih luas terhadap pasar,” kata Rully.

Pergerakan sejumlah saham turut menjadi faktor yang menekan indeks. Saham BBRI, BRPT, dan AMMN tercatat menjadi penekan IHSG. Sebaliknya, saham EMAS dan MDKA kembali menopang indeks seiring harga emas yang masih bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan.

BACA JUGA:   Sudah Fungsional, Sekolah Rakyat Kabupaten Jepara Siap Sambut MPLS Tahun Ajaran 2026-2027

Tekanan pasar juga datang dari perkembangan ekonomi global. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang masih tinggi menjaga risiko kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap terbuka. Kondisi tersebut membuat imbal hasil US Treasury bertahan pada level tinggi dan menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Tags: Merger MTEL dan TBIGPT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Previous Post

GRC Mendukung Sustainability Bisnis Transjakarta

Next Post

Pefindo Turunkan Peringkat PT PP Menjadi idBB

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR