PT Chosen Mitra Abadi, pemilik brand sepatu Bocorocco, memperkuat transformasi human capital (HC) dengan mengintegrasikan tata kelola sumber daya manusia dengan sistem aplikasi digital, baik proses rekruitmen, talent mapping, pengembangan talenta, penilaian, serta pemantauan kinerja. Langkah ini ditempuh untuk membangun organisasi yang lebih profesional, meningkatkan produktivitas karyawan, serta memastikan pengelolaan SDM selaras dengan kebutuhan dan pertumbuhan bisnis.
Jakarta, TopBusiness – Seiring transformasi perusahaan, dari family business ke organisasi business modern, PT Chosen Mitra Abadi (Bocorocco) juga melakukan transformai Sumber Daya Manusia (SDM) atau karyawan dengan pendekaatan manajemen modern. Bocorocco menggunakan sistem manajemen kinerja modern dan pendekatan pengembangan kapasitas yang terstruktur melalui dukungan sistem aplikasi digital. Perusahaan memiliki struktur tim Learning & Development khusus yang bertugas merancang program bagi peningkatan keterampilan secara berkelanjutan.
Perusahaan juga melakukan analisis dalam hal pelatihan sesuai kebutuhan (Training Need Analysis) yang selaras dengan proses di setiap lini bisnis, baik di produksi, retail, penjualan, dan pemasaran. Proses pelatihan juga difasilitasi dengan platform digital, termasuk penyusunan modul e-learning, operasional Learning Management System (LMS), dan media video training. Bahkan transformasi manajemen SDM di perusahaan ini, pernah meraih beberapa penghargaan membanggakan, salah satunya “Naker Award 2025” dari Kementerian Ketenagakerjaan RI.
Demikian beberapa poin penting dari presentasi dan wawancara penjurian “TOP Human Capital Awards 2026” PT Chosen Mitra Abadi (Bocorocco) secara daring pada Jumat (8/10/2026) yang dihelat Majalah TopBusiness. Presentasi dan wawancara penjurian disampaikan oleh Aida Zahrotunnisa : Strategic Human Capital Manager, serta Suci Vaida Himmatul Baroroh, Organization Development & Performance Management Specialist Bocorocco. Sedangkan tim juri penilai terdiri Prof. DR Wahyudin Zarkasi Guru Besar FEB Universitas Padjajaran Bandung, Ir Thedri Supriatno (Founder CFCD), DR. Aldrin Herwany (Perbanas Institut Jakarta) yang dimoderatori oleh Ahmad Chury (MSI Group).
Sesuai tema ajang corporate rating TOP HC Awards 2026 “Unlocking Human Potential for Sustainable Business Excellence”, Tim Bocorocco melalui presentasi berjudul “From Owned Family Business to Professional Organization”, menegaskan pentingnya membangun sistem pengelolaan SDM yang profesional, terstruktur, terukur, dan didukung teknologi digital. Transformasi ini menjadi bagian dari perjalanan perusahaan untuk beralih dari pola pengelolaan yang sebelumnya masih kentalk nuansa family business ke bisnis profesional melalui tata kelola human capital yang terintegrasi dengan proses bisnis.
Dalam materi presentasinya, proses transformasi SDM di Bocorocco di antaranya mengungkapkan bahwa pada 2023, tata kelola HC masih berada pada tahap pembangunan fundamental. Data karyawan belum tersentralisasi, kejelasan status kontrak dan struktur kompensasi masih perlu diperbaiki, serta koordinasi HC belum berjalan secara reguler.
Pada 2024, perusahaan mulai menata tata kelola secara lebih terstruktur dan terdokumentasi. Memasuki periode 2025–2026, penguatan diarahkan pada integrasi HC dengan kebutuhan bisnis, termasuk kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan, pengembangan deskripsi pekerjaan berbasis proses bisnis, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengambilan keputusan.
Digitalisasi HC Jadi Fondasi Transformasi
Salah satu langkah penting yang dilakukan Bocorocco adalah memanfaatkan sistem digital untuk meningkatkan efisiensi proses pengelolaan karyawan. Perusahaan telah menggunakan Human Resources Information System (HRIS) Talenta, sekaligus mengembangkan pemanfaatan aplikasi Glidez HC Care sebagai platform layanan dan manajemen pengetahuan.
Melalui Glidez HC Care, karyawan dapat mengakses kebijakan dan prosedur HC, mengajukan cuti dan surat, memperoleh informasi BPJS, benefit, dan penggajian, serta mengakses materi pembelajaran dan pengembangan kompetensi.
Platform tersebut diarahkan untuk memperkuat layanan mandiri karyawan (employee self-service), mempermudah akses informasi, dan mengurangi beban administratif pengelolaan SDM.
Bocorocco juga menyiapkan pemanfaatan digital workflow berbasis AI serta otomatisasi sejumlah proses HC, termasuk psikotes, asesmen DISC dan PAPI Kostick, pelaporan, hingga exit interview. Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi sekaligus menata proses kerja agar lebih konsisten.
Selain itu, perusahaan menggunakan sales dashboard untuk menyediakan visibilitas data HC yang relevan bagi tim penjualan. Informasi yang ditampilkan mencakup jumlah dan penempatan karyawan per toko atau wilayah, kehadiran dan produktivitas, pencapaian kinerja, serta pengembangan kompetensi.
Dengan dukungan informasi tersebut, pengelolaan tenaga kerja diharapkan semakin responsif terhadap kebutuhan operasional. Keputusan terkait penempatan, produktivitas, dan pengembangan karyawan pun dapat lebih selaras dengan sasaran bisnis.
Pengembangan Talenta dan Mobilitas Internal
Transformasi HC Bocorocco tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pengembangan potensi karyawan. Perusahaan mulai membangun jalur karier, perencanaan suksesi, pengembangan kepemimpinan, serta mobilitas internal untuk menyiapkan talenta yang mampu mengisi kebutuhan organisasi di masa depan.
Dalam sateri penjurian disebutkan, sepanjang 2024–2026, terdapat 310 perpindahan karyawan ke peran atau fungsi baru, 29 promosi, dan empat demosi yang disebut dilakukan berdasarkan kebutuhan bisnis.
Salah satu contoh dampak pengembangan talenta terlihat pada fungsi digital marketing dan e-commerce. Karyawan yang sebelumnya menempati posisi spesialis mendapat kesempatan menjadi pemimpin tim. Dalam presentasi, pendapatan e-commerce tercatat meningkat dari sekitar Rp977,18 juta pada 2024 menjadi Rp2,83 miliar pada 2025, kemudian mencapai Rp4,56 miliar pada periode Januari–September 2026.
Angka tersebut menunjukkan perkembangan bisnis e-commerce yang berjalan seiring dengan pengembangan peran dan kapabilitas internal. Namun, data presentasi tersebut belum merinci sejauh mana kenaikan pendapatan secara langsung disebabkan oleh program transformasi HC.
Perusahaan juga mengembangkan budaya belajar melalui program Boco Learning Nation, Reading Club, Boco Brain Lab, dan Everyone Can Teach. Program-program tersebut mendorong karyawan berbagi pengetahuan, berdiskusi, serta mengembangkan keterampilan lintas fungsi.
Membangun Budaya Kerja Berorientasi Kinerja
Untuk memperkuat budaya organisasi, Bocorocco menerapkan nilai PRIMA, yakni Perkasa, Responsif, Inovatif, Mumpuni, dan Adaptif. Nilai tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai kegiatan, antara lain coaching, pembelajaran berkelanjutan, kolaborasi lintas fungsi, program kesehatan karyawan, serta pengembangan kompetensi.
Perusahaan juga membangun siklus manajemen kinerja yang menghubungkan sasaran perusahaan dengan target organisasi, tim, dan individu. Prosesnya mencakup penyusunan rencana kinerja individual, coaching bulanan, evaluasi semesteran, penilaian kinerja, kalibrasi, hingga pemberian penghargaan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat kontribusi setiap karyawan lebih terarah dan terukur. Sistem penghargaan juga dikaitkan dengan pencapaian target perusahaan, kinerja departemen, dan hasil kerja individu.
Di sisi lain, Bocorocco memperkuat program retensi melalui kompensasi, benefit, penghargaan masa kerja, investasi pembelajaran, bonus tahunan, dan tunjangan berbasis indikator kinerja utama (KPI). Program kesehatan dan kebugaran karyawan turut menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman kerja yang positif. Dan ke depan, tantangan transformasi HC Bocorocco adalah memastikan seluruh inisiatif tersebut menghasilkan dampak bisnis yang terukur, mulai dari peningkatan produktivitas, efektivitas biaya SDM, retensi talenta, hingga kualitas layanan kepada pelanggan.
