Jakarta, TopBusiness – PT Kilang Pertamina Internasional RU II Produksi Sungai Pakning (KPI RU II Sungai Pakning) merupakan perusahaan pengelolaan minyak yang berlokasi di Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.
Seperti dikatakan Rahmad Hidayat, selaku Officer CSR dan Comrel, KPI RU II Sungai Pakning memiliki kapasitas pengolahan 50 MBSD dan berkontribusi sebesar 4,8% dalam penyediaan energi kilang Pertamina di Indonesia melalui produk BBM, non-BBM, dan Petrokimia, serta produk-produk ramah lingkungan seperti Marine Fuel Oil Low Sulphur (MFO LS) dan Low Sulphur Fuel Oil (LSFO) V1250.
“KPI RU II Sungai Pakning berlokasi di wilayah yang didominasi oleh lahan gambut, sehingga praktik baik yang kami lakukan mencakup pengelolaan ekosisem gambut di sekitar wilayah kami, demi terciptanya ekosistem gambut yang komprehensif serta memberi berkah bagi banyak orang,” ujar Rahmad Hidayat dalam sesi Penjurian TOP CSR Awards 2023 yang digelar Majalah TopBusiness secara virtual, Senin (20/3/2023).
Program CSR Unggulan
Lebih lanjut Rahmad menjelaskan terkait program CSR unggulan perusahaan yang berkaitan dengan pengelolaan lahan gambut. Dalam hal ini filtrasi air gambut merupakan inovasi sosial KPU RU II Sungai Pakning dalam upaya memenuhi hak hidup masyarakat di lahan gambut terkait akses air bersih. “Inilah yang akan kami sampaikan pengelolaan air gambut menjadi air bersih,” ujarnya singkat.
Lahan gambut memang memiliki keunikan karakteristis, sehingga membutuhkan perhatian khusus dari seluruh pihak. Terlebih wilayah Indonesia yang memiliki lahan gambut yang luas, sehingga Rahmad menilai kompetensi masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan menjadi sebuah kebutuhan yang krusial.
Berbagai permasalahan yang terjadi di lahan gambut telah menjadi keresahan bersama, baik dari bencana Karhutla, degradasi, hingga menurunnya produktivitas lahan untuk kegiatan pertanian. Tidak berhenti di situ, karakteristik air di lahan gambut juga berbeda dengan lahan lainnya. Air gambut memiliki warna yang keruh serta tingkat keasaman yang tinggi, sehingga penggunaan air gambut secara terus menerus tanpa pemrosesan dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh berbagai aspek, seperti dampak dari pembuangan limbah rumah tangga dan erosi yang terjadi di pinggiran sungai selebar kurang lebih 5 meter.
“Oleh karena itu, KPI RU II Sungai Pakning melaksanakan pengelolaan air gambut menjadi air bersih melalui inovasi filtrasi air gambut untuk meningkatkan kualitas air gambut menjadi bersih dengan instalasi yang kami sebut FILAGAM (filtrasi air gambut), pengolahan air minum melalui RO (Reverse Osmosis), dan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan,” ujar Rahmad.
Program CSR KPI RU II Sungai Pakning sendiri dilaksanakan di Dusun Bringin, Desa Lubuk Muda, Kecamatan Siak Kecil yang berlokasi di aliran Sungai Dayang yang merupakan wilayah Ring 1 perusahaan, sekaligus berdekatan dengan Water Intake KPI RU II Sungai Pakning.
“Jadi kami mengambil bahan baku air dari Sungai Dayang untuk dijadikan bahan yang nantinya akan kami lakukan untuk operasional perusahaan dan operasional di perumahan,” jelasnya.
Terus Ditingkatkan
Program pengelolaan air gambut menjadi air bersih telah dilakukan KPI RU II Sungai Pakning sejak tahun 2021 dan berlanjut hingga tahun ini, tentunya dengan segala peningkatannya.
”Tahun 2023 ini kami tingkatkan dengan meningkatkan kapasitas pengolahan air hingga 6000 liter per hari, pengembangan pertanian sayuran ramah lingkungan, dan berbagai kegiatan penguatan kelembagaan kelompok yang bernama Kelompok Tirta Muda,” ungkap Rahmad.
Kualitas air gambut tidak memenuhi standar baku mutu dilihat dari pH yang rendah, warna yang keruh, kandungan zat organic yang tinggi, berasa dan berbau. Namun, berkat adanya program filtrasi air gambut, hasilnya didapatkan air bersih sesuai Permenkes dengan pH 7,6, warna yang jernih, tidak berasa ataupun tidak berbau.
“Inovasi Sosial FILAGAM (Filtrasi Air Gambut) merupakan core competency Pertamina dalam pengelolaan sumber air baku menjadi air bersih yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat lebih kurang 116 kepala keluarga di Desa Lubuk Muda. Dan program ini dapat menyediakan air bersih hingga lebih dari 8000 ton per tahun. Kebaruan FILAGAM ini juga dibuktikan dengan adanya hak paten. Saat ini inovasi ini juga dikelola langsung oleh kelompok Tirta Muda melalui Sharing Knowledge Fungsi WTP (Water Treatment Plant) kepada masyarakat,” ujar Rahmad.
Tidak berhenti sampai di situ, kegiatan ini juga berkembang dengan dilakukannya pipanisasi agar air bersih dapat langsung diakses seluruh masyarakat di Dusun Beringin sampai ke rumah-rumah.
“Dan semakin berkembang dengan adanya depot air atau RO pertama di Desa Lubuk Muda, dengan jangkauan pemasaran di dua kecamatan dan mendapat hingga 102 juta per tahun dan berhasil menghemat pengeluaran konsumsi air bersih sebesar Rp87 juta per tahunnya. Sehingga kegiatan kami tidak hanya menjawab kebutuhan masyarakat terkait ketersediaan air, namun juga menjadi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat di Desa Lubuk Muda, khususnya di Dusun Beringin,” papar Rahmad.
Sebagai bentuk keberlanjutan dari program ini, KPI RU II Sungai Pakning juga melakukan pengembangan pertanian sayuran di lahan gambut untuk mengatasi kerusakan lingkungan dan erosi melalui penanaman berbagai komoditas pertanian untuk penguatan akar sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui penanaman sayur, buat, cabai, kangkung, didukung oleh inovasi yang kami sebut FERIN (Fertilization Injector).
“(Ini) merupakan sharing kompentensi dari teman-teman maintenance hingga berdampak pada 25 KK nasabah bank air, 250 KG sampah terkelola, memperluas jaringan kerja sama, menambah omset Rp2 juta per bulan, serta bertambahnya satu fauna langka Presbytis melalophos (simpai hitam),” kata Rahmad seraya mengatakan bahwa hal tersebut merupakan Creating Shared Value program yang juga memberikan manfaat bagi perusahaan melalui pemenuhan kebutuhan air untuk perusahaan.
Hebatnya lagi, berkat program CSR yang dijalankan, KPI RU II Sungai Pakning juga memperoleh sejumlah penghargaan.
“Ini merupakan capaian kami melalui program Pengolahan Air Gambut Menjadi Air Bersih, yaitu pertama kami mendapatkan penghargaan ICEA 2023, terus ada (penghargaan) Proklim tingkat Madya, serta satu paten, dua publikasi, dan penghargaan proper emas lima kali berturut-turut. Pencapaian ini juga tak luput dari bantuan bapak/ibu dewan juri yang selalu memberi masukan terkait program-program yang kami lakukan,” tutup Rahmad.
Penulis: Fauzi
