Jakarta, TopBusiness — Sebagai Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) yang memiliki karakteristik yang memadukan pelayanan kesehatan dengan pendidikan dan penelitian, Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) melakukan transformasi Human Capital guna menuju rumah sakit akademik berkelas dunia. Transformasi tersebut dilakukan melalui pendekatan Green HR Transformation.
Hal tersebut disampaikan Direktur Keuangan, Perencanaan dan Umum Singgih Wijayana, S.E., M.Si., Ph.D. dalam Penjurian TOP HC Awards 2026 yang dilakukan secara daring di Jakarta (15/10/2026). Hadir pula dalam Penjurian, Direktur Utama Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B.Subsp.Onk.(K) dan Direktur Pelayanan Medis Dan Keperawatan dr. Novi Zain Alfajri, M.P.H. Selain itu, Direktur Sumber Daya Manusia dan Akademik Prof. apt. Ika Puspita Sari, M.Si., Ph.D serta Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Dewi Sarastuti, S.KM., MPH.
Menurut Singgih kembali, pendekatan Green HR Transformation menempatkan budaya keberlanjutan sebagai bagian dari sistem manajemen kinerja organisasi. Selanjutnya dalam strategi transformasinya, RSA UGM kemudian menetapkan lima pilar utama, yaitu ekosistem akademik dan inovasi terintegrasi, pelayanan kesehatan unggul, penguatan SDM dan digitalisasi, tata kelola berkelanjutan, serta internasionalisasi.
“Dari kelima pilar tersebut, penguatan Human Capital menjadi bagian terpenting karena kualitas tenaga medis, tenaga kesehatan, dan tenaga nonmedis berperan dalam mendukung operasional rumah sakit sekaligus pelaksanaan fungsi pendidikan dan penelitian,” kata Singgih.
Penguatan Human Capital di RSA UGM
Penguatan Human Capital yang dilaksanakan di RSA UGM, salah satunya adalah dengan menjadikan Human Capital bukan hanya berfungsi sebagai administratif yang mengelola pegawai semata. Human Capital bahkan dijadikan salah satu fondasi untuk menjaga kesinambungan layanan, mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian, serta mempersiapkan organisasi menghadapi kebutuhan kompetensi yang terus berkembang.
Penguatan Human Capital juga tidak berdiri sendiri. Upaya tersebut terhubung dengan agenda yang lebih luas untuk membangun ekosistem akademik dan inovasi terintegrasi, meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, memperkuat digitalisasi, menerapkan tata kelola berkelanjutan, serta memperluas internasionalisasi.
Dalam kerangka tersebut, manajemen talenta, pendidikan lanjutan, sertifikasi, fellowship, dan pelatihan menjadi instrumen untuk membangun kompetensi. Kolaborasi melalui jejaring Academic Health System (AHS) Universitas Gadjah Mada turut mendukung pengembangan profesional dan regenerasi tenaga medis. Sementara itu, perhatian terhadap kesejahteraan, retensi, dan keberlanjutan tenaga kerja melengkapi upaya pengembangan kompetensi.
Kembangkan Manajemen Talenta dan Tingkatkan Kompetensi
Komitmen manajemen RSA UGM terhadap penguatan Human Capital juga diwujudkan melalui sejumlah kebijakan. Rumah sakit dicatat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan pegawai, sekaligus mendukung peningkatan kompetensi melalui manajemen talenta, remunerasi, pengembangan diri, koperasi, beasiswa untuk pegawai yang akan melanjutkan studi, sertifikasi, dan program fellowship.
RSA UGM juga menjalankan proses identifikasi kandidat potensial, assessment, serta pembekalan bagi kandidat yang dipersiapkan untuk pengembangan lebih lanjut. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan talenta internal agar mampu mendukung kebutuhan organisasi.
Pelatihan dan pengembangan kompetensi dilaksanakan melalui berbagai skema, termasuk inhouse training, exhouse training, fellowship, studi banding, dan kegiatan pengembangan lainnya.
Pada tahun 2024 misalnya, RSA UGM menyelenggarakan 14 kegiatan inhouse training dengan 555 keikutsertaan, 60 kegiatan exhouse training dengan 157 keikutsertaan, 14 kegiatan berlabel Revenue dengan 133 keikutsertaan, 5 kegiatan fellowship dengan 5 keikutsertaan, serta 7 kegiatan studi banding dengan 66 keikutsertaan. Secara keseluruhan, dicatat 916 keikutsertaan dalam kegiatan pengembangan diri pegawai pada tahun tersebut.
Sementara itu pada tahun 2025, rumah sakit melaksanakan 9 kegiatan inhouse training dengan 521 keikutsertaan, 74 kegiatan exhouse training dengan 154 keikutsertaan, 12 kegiatan berlabel Revenue dengan 78 keikutsertaan, 6 kegiatan fellowship dengan 7 keikutsertaan, serta 12 kegiatan studi banding dengan 87 keikutsertaan. Total keikutsertaan yang dicatat mencapai 760.
Data-data tersebut menunjukkan bahwa RSA UGM menjalankan pengembangan kompetensi melalui beragam bentuk pembelajaran. Program tidak hanya dilakukan secara internal, tetapi juga mencakup pelatihan eksternal dan studi banding. Sementara itu, dukungan fellowship dan pendidikan lanjutan memberikan jalur bagi pengembangan keahlian profesional.
Kinerja Human Capital Bawa Perbaikan Kinerja Keuangan
Transformasi Human Capital yang dilaksanakan RSA UGM, dicatat berhasil menghadirkan banyak kontribusi bisnis. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan indikator bisnis pada 2024 dan 2025. Di mana terdapat peningkatan pendapatan, perubahan biaya operasional, serta perbaikan hasil usaha dari posisi rugi menjadi laba.
Pada 2024, total pendapatan RSA UGM dicatat Rp330,1 miliar, sedangkan biaya operasional mencapai Rp337,9 miliar. Rumah sakit membukukan rugi bersih Rp7,8 miliar. Pada 2025, pendapatan meningkat menjadi Rp461,8 miliar, dengan biaya operasional Rp420,6 miliar. Hasilnya, rumah sakit mencatat laba bersih Rp41,2 miliar.
Terdapat peningkatan pendapatan sekitar 39,9% dalam setahun, sementara hasil usaha membaik Rp49 miliar, dari rugi Rp7,8 miliar menjadi laba Rp41,2 miliar. Perubahan tersebut menunjukkan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan pada periode yang disajikan.
Pada saat yang sama, biaya kompensasi total meningkat dari Rp129,3 miliar pada 2024 menjadi Rp163,2 miliar pada 2025. Jumlah pegawai (headcount) berdasar indikator HC juga meningkat dari 1.454 menjadi 1.528 orang. Jumlah pegawai yang mengikuti pelatihan naik dari 783 menjadi 847 orang, sedangkan biaya pelatihan meningkat dari Rp754,9 juta menjadi Rp1,3334 miliar.
“Semua data tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan skala organisasi dan investasi pengembangan pegawai berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan serta perbaikan hasil usaha,” pungkas Singgih.*
