TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pertamina-Toyota Perkuat Kolaborasi Pengembangan Bahan Bakar Rendah Karbon hingga 2030

Albarsyah
4 November 2026 | 13:44
rubrik: BUMN
Kini Normal, Ini Musabab Permintaan BBM Melonjak di Medan

Pertamina Terminal BBM Medan (Foto: Corp. Comm. Pertamina)

Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina (Persero) dan Toyota Group memperkuat kemitraan strategis melalui perpanjangan kerja sama selama lima tahun hingga 2030. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan bahan bakar rendah karbon, pelumas, teknologi hidrogen, serta produk petrokimia guna memperkuat ketahanan energi nasional dan mempercepat transisi energi di Indonesia.

Komitmen tersebut dibahas dalam Annual Meeting 2026 Pertamina-Toyota Cooperation yang berlangsung di Surakarta, Rabu (28/10/2026). Kerja sama ini menjadi langkah strategis kedua perusahaan dalam menyinergikan inovasi energi dan teknologi otomotif untuk menghadapi tantangan sektor energi di masa mendatang.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan kemitraan dengan Toyota merupakan bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung prioritas nasional, khususnya agenda Asta Cita terkait penguatan ketahanan energi dan percepatan transisi energi melalui inovasi.

Menurutnya, dinamika geopolitik dan perubahan kondisi energi global semakin menegaskan pentingnya kolaborasi strategis antarpelaku industri. Berbagai pencapaian dalam kerja sama Pertamina dan Toyota juga menunjukkan bahwa sinergi keahlian teknis dan inovasi dapat menghasilkan manfaat bisnis yang nyata.

“Berbagai pencapaian tersebut menunjukkan kemajuan kolaborasi kita sekaligus mencerminkan komitmen bersama untuk menerjemahkan keahlian teknis dan inovasi menjadi hasil bisnis yang nyata,” ujar Oki, dikutip Selasa (3/11/2026).

SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, menjelaskan bahwa kolaborasi kedua perusahaan dibangun dengan mengoptimalkan keunggulan masing-masing. Pertamina berperan dalam pengembangan dan penyediaan bahan bakar, sementara Toyota berkontribusi melalui teknologi otomotif serta pemahaman terhadap kebutuhan energi sektor transportasi.

Hana menegaskan, pengembangan bahan bakar harus berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi kendaraan. Sinergi tersebut diperlukan agar produk bahan bakar yang dikembangkan Pertamina dapat memenuhi kebutuhan kendaraan masyarakat sekaligus mengikuti perkembangan industri otomotif.

BACA JUGA:   Direktur Pertamina Bertamu ke KPK, Mengapa?

Dengan pendekatan tersebut, kedua perusahaan diharapkan mampu membangun ekosistem transportasi yang lebih terintegrasi, khususnya untuk sektor transportasi darat.

Selain bahan bakar rendah karbon, pengembangan energi alternatif juga menjadi salah satu fokus pembahasan. Namun, Hana mengingatkan bahwa penerapan teknologi energi alternatif membutuhkan dukungan ekosistem yang memadai, mulai dari kesiapan pasokan, infrastruktur, hingga model bisnis yang mampu mendukung komersialisasi.

Salah satu contohnya adalah teknologi kendaraan berbasis hidrogen yang telah dikembangkan, tetapi pemanfaatannya secara luas masih menghadapi tantangan keekonomian. Saat ini, harga bahan bakar fosil yang relatif lebih murah juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya saing energi alternatif.

Meski demikian, menurut Hana, pengembangan energi masa depan tidak bisa hanya berorientasi pada aspek harga. Ketersediaan pasokan dan kemampuan memenuhi kebutuhan energi dalam negeri juga harus menjadi pertimbangan utama.

Pertamina pun mendorong pemanfaatan sumber daya domestik sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Pasalnya, ketersediaan energi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan, meskipun biaya produksinya masih relatif lebih tinggi.

“Untuk ketahanan energi, kita akan berfokus pada sumber daya yang memang ada di Indonesia dan bisa diproduksi di dalam negeri. Dari sisi harga mungkin masih mahal, tetapi kembali lagi, kalau mahal tetapi tersedia dibandingkan murah tetapi tidak tersedia, itu juga menjadi pertimbangan,” ujar Hana.

Sementara itu, President of Toyota Motor Corporation’s CN Advanced Engineering Development Center, Keiji Kaita, menilai pengembangan bahan bakar netral karbon memiliki peran penting, tidak hanya dalam mengurangi emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi bahan bakar secara mandiri. Potensi tersebut dapat membuka peluang lebih luas bagi kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi energi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.

BACA JUGA:   Bangun 7 Pertashop, Ini Kontribusi Pertamina di Sumbar

Kaita berharap kolaborasi Pertamina dan Toyota dapat menjadi tonggak penting dalam mendorong transformasi teknologi, mendukung target netralitas karbon, serta menjaga keberlanjutan pasokan bahan bakar di Indonesia.

“Saya yakin pertemuan ini dapat menjadi tonggak penting dalam kolaborasi dan kontribusi kami bagi masyarakat Indonesia. Tidak hanya dengan mendukung netralitas karbon, tetapi juga dengan memperkuat ketahanan pasokan bahan bakar, mendorong transformasi teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Kaita dalam sambutannya secara virtual.

Secara terpisah, VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan berbagai mitra strategis merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika energi global.

Baron menegaskan, sinergi dengan Toyota menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan keunggulan masing-masing perusahaan dalam mengembangkan energi rendah karbon sekaligus menjaga ketahanan pasokan energi Indonesia.

“Di tengah dinamika energi global, kolaborasi menjadi kunci untuk membangun ketahanan energi yang kuat. Sinergi Pertamina dan Toyota merupakan langkah strategis untuk saling memperkuat keunggulan masing-masing untuk mendukung ketahanan dan energi rendah karbon di Indonesia,” kata Baron.

Melalui perpanjangan kerja sama hingga 2030, Pertamina dan Toyota diharapkan dapat memperluas inovasi di sektor energi dan otomotif, menghadirkan pilihan energi yang lebih beragam, serta memperkuat kemandirian energi nasional menuju masa depan transportasi yang lebih berkelanjutan.

Tags: pertamina
Previous Post

Pemerintah Rencanakan Pembangunan Tangki Minyak di Sumatra, Target Cadangan Nasional Capai 60 Hari

Next Post

Dukung Ketahanan Energi Nasional, Produksi Migas Pertamina Hulu Energi Tembus 945 Ribu Barel per Hari di Kuartal III-2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR