Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi masih betah di zona merah. Hal ini seiring keperkasaan USD akibat perekonomian global yang masih terjerembab.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di posisi Rp14.224 atau terperosok sebesar 82 poin dari penutupan sebelumnya di tangga Rp14.142. Dalam satu jam pertama rupiah kian terkapar ke posisi Rp14.232.
Menurut analis pasar uang Monex Investindo, Dini Nurhadi Yasyi, laju rupiah yang masih memerah ini tak lepas dari ekspektasi pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi global yang masih di level rendah. Hal ini membuat mereka tak percaya untuk koleksi rupiah.
“Semula saya lihat ada potensi koreksi pelemahan rupiah. Apalagi pelemahan tersebut sudah tujuh hari beruntun,” tandas dia di Jakarta, Jumat (8/3/2019).
Rupiah sendiri memang di pekan ini terus terkapar di zoan merah. Kondisi itu lebih dipengaruhi oleh sentiment global yang tak mendukung rupiah di zona hijau. “Untuk itu, kalau pun rupiah (hari ini) ada penguatan, mungkin tidak terlalu signifikan,” tegas dia.
Terkait perekonomian global, pemerintah China telah memangkas target pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi di kisaran 6 persen hingga 6,5 persen. Sebelumnya target pertumbuhan ekonomi 2019 dipatok di kisaran 6,5 persen.
Ditambah lagi dari Uni Eropa, pernyataan Bank Sentral Eropa juga menyebut pertumbuhan ekonomi zona Eropa berpotensi melambat dan hanya akan tumbuh 1,1 persen di 2019. Potensi pelambatan itu akan membuat bank sentral di sana mengucurkan stimulus
Pelaku pasar sudah melihat pertumbuhan ekonomi yang paling solid hanyalah AS. Dan dengan kondisi tersebut, dia meramal pergerakan rupiah di akhir pekan ini akan berada di rentang Rp14.060 hingga Rp14.200 per USD.
Penulis: Tomy
