TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Proses Coaching Sulit di Perusahaan Kultur Birokratis

Nurdian Akhmad
5 November 2014 | 15:09
rubrik: HC, Management
Handry Satriago (Foto: Portalhr.com)
Handry Satriago (Foto: Portalhr.com)

Jakarta, businessnews.id — Proses coaching sulit berlangsung di perusahaan dengan kultur yang terlalu birokratis. Di samping itu, coaching memerlukan kesiapan kultur di sebuah perusahaan. Chief Executive Officer (CEO) General Electric Indonesia, Handry Satriago, mengatakan hal itu di Jakarta hari ini (5/11/2014).

Ia mengatakan, proses coaching sebenarnya sangat penting berlangsung dan harus dilakukan oleh tiap pemimpin bisnis. Sebab, sebenarnya seorang leader baru bisa disebut leader yang sesungguhnya bila telah berhasil mencetak leader berikutnya.

“Jadi, seorang leader seyogianya bukan sekadar mencetak follower,” kata dia.

Dalam hal itu, seseorang yang sekadar berupaya mencapai target bisnis lalu mendapatkan promosi jabatan, belum mendapatkan apresiasi dari para follower. “Lain halnya bila dalam mencapai promosi, ia pun mencetak leadership ataupun value tertentu bagi perusahaan.”

Coaching sangat perlu karena, sebenarnya, banyak hal-hal yang tidak bisa hanya didapat melalui pelatihan resmi sebuah perusahaan. Tapi, hanya bisa didapat melalui coaching dan learning yang berlangsung sehari-hari.

Bagaimana bila di top management di sebuah perusahaan tidak memiliki nilai-nilai coaching? Jawab dia, “Bisa dikatakan bahwa orang tersebut ada di tempat yang salah.”

Di sisi lain, kurangnya budaya membaca di Indonesia memang menyulitkan berlangsungnya proses coaching ataupun learning.

Handry pun mengatakan, sebenarnya ada tiga syarat proses coaching di sebuah perusahaan. Itu adalah leader create leader, learning organization, dan meritokrasi.

Terkait meriktokrasi, Indonesia masih berhadapan dengan takut terhadap sebuah kesalahan ataupun kegagalan. Di sini, menempatkan orang muda di posisi yang lebih tinggi diiringi kekuatiran karena akan banyak kesalahan.

“Tapi sebenarnya, itu merupakan sebuah proses coaching ataupun pembelajaran. Dari sebuah mistake, seseorang akan melesat cepat karena melewati proses learning,” katanya.

BACA JUGA:   Di Elnusa Petrofin, Karyawan Menginspirasi Kinerja Bisnis

Tambah dia, “Nah, di Indonesia, kita sulit maju karena takut terhadap bayangan kegagalan seperti itu.”

Penulis/Peliput: Achmad Adhito

Editor: Achmad Adhito

 

Previous Post

Wah…Investor Asing Kuasai Saham Blue Bird

Next Post

Terkait BBM, Blue Bird Belum Pastikan Tingkat Kenaikan Tarif

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR