Jakarta, TopBusiness – Lembaga Kajian NawaCita (LKN) pada Rabu kemarin menggelar Focus Group Action (FGA) tentang ‘Membangun SDM Unggul Menuju Indonesia Maju’ yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pejabat pemerintah, praktisi bisnis, dan pegiat pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Sebagai organisasi independen, LKN merasa terus terpanggil untuk mendukung pembangunan SDM unggul menuju Indonesia maju.
Ketua Umum LKN Samsul Hadi menjelaskan bahwa FGA ini akan menghasilkan kajian yang berbentuk aksi nyata untuk mendorong pembangunan SDM unggul. Hasil FGA ini akan menjadi masukan baik bagi pemerintah maupun stakeholders lainnya.
“LKN juga mendukung dan siap menjadi pionir untuk menyelenggarakan pelatihan SDM, termasuk pelatihan revolusi mental di berbagai kalangan, sebagai salah satu dasar penopang pembangunan SDM unggul,” ujar Samsul Hadi dalam keterangannya kepada redaksi TopBusiness yang dikutip, Jumat (24/1/2020).

Sementara itu, salah satu pembicara, Juliati Simanjuntak dalam materi FGA mengingatkan pemerintah untuk mengoptimalkan bonus demografi yang kini sedang dinikmati Indonesia akibat jumlah sumber daya manusia (SDM) usia produktif yang lebih besar ketimbang usia nonproduktif.
Menurut Juliati yang juga praktisi bisnis kesehatan , ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah guna mengoptimalkan bonus demografi tersebut. Pertama, pemerintah bisa menetapkan fisioterapis dan perawat sebagai prioritas tenaga kerja Indonesia kompeten untuk mengisi global shortage.
Selain itu, kata Juliati, Pemerintah harus segera membuat Grand Strategi Nasional tentang penanganan bonus demografi 2020–2035. “Ini harus segera disosialisasikan dan harus segera diterapkan, karena bila kita tidak serius mempersiapkannya maka bonus demografi itu tidak mustahil dapat berubah menjadi bencana demografi,” kata Juliati dalam makalahnya yang disampaikan di acara Focus Group Action (FGA) tentang ‘Membangun SDM Unggul Menuju Indonesia Maju’ yang diadakan oleh Lembaga Kajian NawaCita (LKN) di Jakarta, Rabu (22/1/2020).
Selain itu, pemerintah, kata Juliati, perlu mendesain sistem pendidikan vokasi yang menghasilkan SDM kompeten sesuai dengan kebutuhan lokal dan kebutuhan gobal dunia kerja (skills development center for global suplier).
“Strategi cipta lapangan kerja, peningkatan alokasi anggaran untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja, terutama untuk tenaga kerja yang masih berpendidikan SMP agar dapat dikonversikan menjadi trade worker dengan standar global,” ujar Juliati yang kini menjabat sebagai direktur marketing and scientific PT Rhone Poulenc Indonesia Pharma.
Dia menambahkan, ada peluang memperbesar remitan dengan cara mengubah kebijakan untuk pekerja migran dari pengiriman unskill worker menjadi tenaga kerja trampil dan SDM kompeten.
Pemerintah, kata Juliati, bisa membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan melibatkan SMK daerah dan pemberdayaan perempuan usia produktif 15 – 64 tahun. Di samping itu, perlu dibangun sinergitas antarsektor dan pusat-daerah untuk mengoptimalisasi bonus demografi.
