Jelang akhir tahun, para emiten dan manajer investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai sibuk mempercantik tampilan portofolio atau performa laporan keuangannya sebelum ditampilkan ke klien ataupun pemegang saham. Strategi yang akrab disebut window dressing ini merupakan salah satu jurus yang cukup ampuh untuk menaikkan harga saham jelang tutup tahun.
Para pelaku pasar perlu mencermati window dressing ini yang indikasinya terlihat dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga saham-saham berkapitalisasi besar (big cap). Inilah salah satu momentum bagi investor untuk panen ‘cuan’ alias untung.
Sejumlah analis meyakini peluang kembali terjadinya aksi window dressing pada pengujung 2018 ini cukup tinggi, terutama pada emiten-emiten big cap. Indikasinya, IHSG saat ini menunjukkan tren penguatan didukung pula oleh sentimen positif dari rupiah yang stabil. IHSG sejak awal November 2018 nyaman bertengger di level 6.000, setelah pada Oktober sempat terpuruk hingga menyentuh level 5.600.
“Sampai akhir tahun ini, proyeksi kami IHSG akan menyentuh angka 6.116. Faktor pendorong kenaikan indeks ini salah satunya dari aksi window dressing,” ujar M Nafan Aji, analis dari Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji kepada TopBusiness, Senin (19/11/2018).
Selain itu,a da sentiment positif lainnya yang mendongkrak IHSG antara lain peran pemerintah dalam menjaga stabilitas fundamental makroekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan. “Indonesia juga merupakan negara emerging market dalam kategori investment grade,” tutur Nafan.
Tak hanya itu, kondisi stabilitas politik dan keamanan jelang pelaksanaan pemilu legislatif maupun eksekutif pada 2019 masih terjaga sehingga memberikan kepastian bagi para pelaku pasar.
Namun, Nafan juga mengingatkan adanya beberapa hal yang bisa menjadi sentimen negatif pergerakan IHSG, antara lain nilai tukar rupiah yang masih berpotensi bergerak fluktuatif. Selain itu, ancaman defisit neraca perdagangan RI masih terlihat akibat ketergantungan impor.
Ada pula potensi capital outflow dari Indonesia yang terutama disebabkan oleh berlanjutnya kenaikan suku bunga The Fed sehingga capital inflow bisa terus mengalir ke Amerika Serikat (AS). “Potensi kenaikan suku bunga The Fed tersebut membuat tren kenaikan suku bunga BI berlanjut. Hal ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi,” kata Nafan.
Mencermati kondisi tersebut, Nafan merekomendasikan pelaku pasar untuk mencermati pergerakan beberapa saham big cap antara lain PT Bank BCA Tbk (BBCA) , PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Sri Rejeki Isman (SRIL), serta saham-saham BUMN seperti PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Bank BRI Tbk (BBRI), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
“Sebenarnya ada saham SMGR dan ASII, tapi belakangan sudah mencapai target price jadi rekomendasinya hold atau overweight,” kata Nafan.
Untuk saham BBCA, kata Nafan, secara fundamental berhasil membukukan kenaikan laba bersih 9,9% yoy sebesar Rp 18,5 triliun pada kuartal III-2018. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya yang meningkat 10,1% yoy menjadi Rp 45,9 triliun.
Adapun pendapatan BBCA pada 2018 diproyeksikan meningkat 10,82% menjadi Rp 62,9 triliun dengan kenaikan laba bersih sebesar 11% menjadi Rp 25,86 triliun. “Sebab itu, direkomendasikan untuk akumulasi beli saham BBCA ini dengan estimasi target harga jangka pendek, menengah maupun jangka panjang di level 24.700, 26.250, dan 28.800,” kata Nafan. (Rekomendasi lebih lengkap lihat tabel)
Rekomendasi dan Target Price (TP) Saham
Jangka Pendek-Menengah-Panjang
| Saham | Rekomendasi | TP Jangka Pendek (max 3 pekan) | TP Jangka Menengah (max 3 bulan) | TP Jangka Panjang (max 1 tahun) |
| BBCA | Accumulate Buy | 24.700 | 26.250 | 28.800 |
| GGRM | Accumulate Buy | 77.425 | 84.900 | 84.900 |
| ICBP | Accumulate Buy | – | 9.150 | 9.700 |
| SRIL | Accumulate Buy | 358 | 372 | 442 |
| ADHI | Accumulate Buy | 1.470 | 1.470 | – |
| BBRI | Maintain Buy | 3.510 | 3.510 | – |
| ELSA | Accumulate Buy | – | 490 | 490 |
| PGAS | Accumulate Buy | 2.380 | 2.680 | 2.680 |
| TLKM | Maintain Buy | – | 4.210 | 4.530 |
Sumber: Analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji, November 2018.
Sementara itu, Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas mengatakan bahwa aksi window dressing masih akan terjadi pada akhir tahun ini, mengingat koreksi IHSG yang terjadi sejak awal tahun sudah cukup besar. IHSG hingga akhir tahun ini bisa mencapai 6.200.
“Para manajer investasi, baik lokal maupun asing, perlu untuk mengatur ulang portofolio mereka agar memberikan laporan kinerja yang lebih baik pada akhir tahun. Dalam hal ini, emiten-emiten berkapitalisasi pasar besar akan menjadi pilihan utamanya,” tutur Frederik.
Lagi pula, kata dia, secara fundamental kondisi perekonomian Indonesia masih sangat baik, terbukti dari kinerja emiten, khususnya big cap, yang positif hingga kuartal III-2018. Hal ini menjadi dasar yang kuat bagi manajer investasi untuk lebih percaya diri kembali masuk ke pasar domestik.
Berdasarkan data BEI, total pendapatan dari 519 emiten yang telah merilis laporan keuangan tumbuh 10% secara tahunan, sedangkan laba bersih tumbuh 12%. Sementara itu, total aset meningkat 6% dibandingkan dengan akhir 2017.
Menurut Frederik, emiten-emiten dengan kapitalisasi pasar cukup besar dan memiliki nilai beta mendekati 1, tetapi pergerakan harganya masih tertinggal dibandingkan dengan IHSG adalah yang paling menarik. Adapun, saham PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) tergolong dalam kriteria tersebut.
Selain itu, saham-saham BUMN konstruksi seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) juga menarik sebab pada akhir tahun mereka akan mendapat aliran kas dari pencairan anggaran infrastruktur pemerintah. Dia juga merekomendasikan saham perbankan dengan pilihan utama pada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
“Jadi, fokusnya adalah big cap yang fundamental bagus, tetapi harganya lagging atau tertinggal dibandingkan dengan IHSG. Kalau banyak investor masuk di saham-saham ini, otomatis IHSG juga terdongkrak,” kata Frederik.
