“Cicilan KPR itu nggak boleh lebih dari 30%, supaya hidup kita masih bisa berjalan dengan baik dan nggak menderita,” ujar Prita Ghozie, pendiri ZAP Finance pada acara bincang-bincang Affordable and Smart Home Buying Tips yang digelar di tengah keriuahan Indonesia Properti Expo 2020 di Jakarta Convention Centre (JCC) Jumat (21/2/2020).
Inu yang tengah hamil lima bulan dan duduk bersebelahan dengan sang suami menyimak jawaban atas pertanyaan yang diajukannya pada sang penasehat keuangan yang tampil dengan lontaran-lontaran pedas buat para milenial itu. Ya, Inu dan lebih dari lima puluh peserta acara bincang-bincang yang digelar usai jam kantor dan tak berbayar itu memang didominasi para milenial. Sebagian datang dengan pasangan, ada pula yang menyempatkan hadir bersama teman-teman sekantor.
Muncul pula pertanyaan tentang rencana kepindahan ibu kota ke Kalimantan. “Bagaimana dengan kami para CPNS, saat ini kan masih kos di Jakarta karena status juga belum diangkat penuh, nanti ibu kota pindah, nah jadi dimana dong kita lokasi kita ambil rumah,” tanya Reza.
Prita tangkas menjawab, buat para milenial yang bekerja di instansi yang mengharuskan komitmen kesiapan berpindah ke berbagai kota, pun yang akan terdampak pemindahan ibu kota, maka lokasi rumah yang dicicil adalah kota tempat nantinya menghabiskan pensiun. “Karena rumah adalah aset yang tidak likuid, butuh proses dan waktu untuk memilikinya, juga saat kita ingin menjualnya. Nggak mudah lo, mengurus kepindahan itu, seperti yang saya alami saat pindahan di Australia karena tadinya saya dan suami tinggal beda kota, itu minus jual rumah padahal,” kata Prita.



Para milenial menghadiri Indonesia Properti Expo 2020, selain menghadirkan berbagai proyek perumahan juga tersedia stand BTN yang menawarkan pengalaman menggunakan BTN Property Apps melalui ponsel. (foto: Nurdian)
Makin muda makin keren
Kendati begitu, Prita yang selalu menekankan pentingnya merencanakan pembelian rumah sedini mungkin bagi para milenial, kembali menegaskan, kondisi itu tetap tak menggugurkan anjurannya.
“Saya sangat anjurkan maksimal ambil rumah di usia 35 tahun dengan hitungan masa KPR 10 tahun, karena keputusan ini akan menentukan arah hidup kita. Misalnya nih, bagaimana kita melalui jam kritis di kantor di sore hari ketika biasanya mulai pesan boba-boba, frekuensi liburan, jatah ngemal atau ngopi-ngopi yang kalau ditotal bisa menghabiskan ratusan hingga jutaan rupiah dan sangat mungkin bisa dialokasikan untuk cicilan,” ujar Prita yang disambut senyum dan tawa kecil para milenial, terutama yang ditangannya ada gelas kopi.
Terlebih, kata Prita, jika tahapan memilih rumah dan memproses KPR terlewati, selanjutnya pasangan muda pun mereka yang masih melajang, yang telah punya rumah pertama, kemudian harus memikirkan isi rumah berupa interior atau renovasi jika rumah yang dibelinya masih memerlukan perbaikan. Tahapan demi tahapan yang berlangsung jangka panjang itu akan jauh lebih mudah jika dimulai ketika dimulai di usia kisaran 20-an hingga pertengahan 30.
Kuncinya, kata Prita, memiliki keyakinan dan percaya pada kemauan dan kemampuan diri, pun semangat berjuang. “Kita harus fight, lakukan window shopping untuk KPR, manfaatkan promo-promo bahkan bisa juga bernegosiasi, dan jika KPR sudah dilakukan, fokus pada pelunasan. Saya bicara begini karena godaan gaya hidup itu banyak, terutama di saat menabung untuk uang muka yang komposisinya sama dengan cicilan yaitu 30% dari gaji. Tapi, jangan salah lo, tawaran kemudahan dan keringanan juga banyak ditawarkan,” ujar Prita.
Rumah versus feed Instagram
Suntikan semangat itu pula yang disuarakan Duta KPR BTN 2019-2020 Tya Ananda Rahmah,24, dan Muhammad Hanif Fadhillah, 25, keduanya bertugas sebagai Loan Service masing-masing di Kantor Cabang Samarinda dan Gresik.
“Harus diakui kaum milenial masih cenderung konsumtif dan kurang memperhatikan keinginan memiliki rumah karena dianggap uang muka maupun harga rumah itu mahal, padahal dengan mencuatnya perhatian pada anak muda, kini banyak tawaran KPR yang sangat memudahkan dan menguntungkan lo,” ujar Tya sembari menambhkan, alih-alih memasukkan program memiliki rumah dalam prioritas, bukan sekedar wish list, sebagian milenial lebih sibuk traveling dan makan di restoran demi konten instagram mereka yang menarik.
Kendala lainnya, kata Hanif, kendati sudah menyadari, rumah adalah kebutuhan pokok, namun para milenial saat ini maish belum move on dari anggapan bahwa kepemilikan rumah baru perlu dipikirkan setelah menikah atau punya anak. “Nah, tugas kami sebagai Duta KPR BTN ini juga mengampanyekan agar milenial berupaya memiliki rumah pada usia muda, jangan tunggu jadi kolonial alias sudah berumur,” kata Hanif.
Ajukan via apps dan KPR Gaeesss
Hanif dan Tya kompak merekomendasikan BTN Properti Mobile Apps serta KPR Gaeesss For Milennials pada sebayanya. Aplikasi di ponsel memungkinkan pengajuan hingga persetujuan dilakukan dan diinformasikan pakai jempol, via digital. Sementara, program KPR yang didedikasikan buat milenial, sarat keringanan yang cocok buat anak-anak muda penghamba promo.
“Yang keren itu, seluruh biaya proses bisa masuk dalam plafon sehingga tidak perlu menyiapkan dana banyak, semua dimasukkan ke cicilan lo. Suku bunganya receh, uang muka mulai 1%, bebas biaya provisi, bebas biaya administrasi, plafon kredit bebas tidak ada batasnya, dan yang paling istimewa, karena kita masih muda dan punya waktu produktif masih panjang, jangka waktu KPR bisa sampai 30 tahun,” kata Tya.
Syaratnya, tambah Hanif, usia 21 -35 tahun dengan penghasilan tetap dan minimal masa kerja satu tahun. Buat menjajaki, BTN Properti Mobile Apps juga menyediakan fitur kalkulator yang bisa menghitung harga properti yang sesuai dengan penghasilan, simulasi KPR, fitur melihat kondisi rumah secara empat dimensi pada proyek-proyek tertentu, melihat fasilitas umum yang tersedia, buat mengakomodir gairah menggunakan transportasi umum di kelangan anak muda hingga fitur chat untuk konsultasi.
Hanif mengaku kini gencar mengampanyekan aplikasi dan KPR buat milenial itu pada para milenial pekerja industri yang banyak berlokasi di Gresik. Anak-anak muda pekerja industri mulai sering menyambangi kantor cabang hingga mampir ketika Hanif dan kawan-kawan berpameran. Jika KPR kini KPR bisa pakai jempol, Inu dan para peserta bincang-bincang serta anak-anak muda Indonesia bukan cuma adu keren di Instagram dengan memajang foto liburan atau menu nan lucuk, tapi juga rumah hasil perjuangan!
