TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Indonesia Kuat dari Jiwa-Jiwa yang Sehat

Nurdian Akhmad
27 February 2020 | 14:16
rubrik: Ekonomi
Indonesia Kuat dari Jiwa-Jiwa yang Sehat

?????????????

Andri, bukan nama sebenarnya, 14, siang itu sibuk dengan gergaji untuk memotong tripleks sesuai pola yang telah digambar. Ia bersama dua laki-laki di sampingnya, yang usianya telah dewasa, tengah menjalani kegiatan pelatihan berbagai keterampilan jelang tahap akhir masa perawatan di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur.

Masa rawat inap yang berkisar satu bulan telah hampir selesai dilalui Andri. Keluar dari RSKD Duren Sawit ia berencana akan melanjutkan sekolahnya di SMP yang sempat terhenti beberapa bulan karena skizofrenia.

“Nggak tahu kenapa, setelah mama meninggal aku jadi suka dengar suara-suara aneh di kepala, nggak mau makan, kuat seminggu cuma minum air putih saja dan nggak mau sekolah. Halusinasi dan wahamnya aku, ada orang-orang yang akan jemput dan membawa pergi jauh. Sama keluarga dibawa ke sini dan disuruh dirawat. Sempat ngamuk juga tapi sekarang jadi terbiasa harus minum obat setiap hari biar bisa tenang dan normal lagi,” ujar Andri yang rutin minum obat setiap pagi dan malam.

Yanto, 22, juga bukan nama sebenarnya, petugas Okupasi Terapi di Instalasi Rehabilitasi Mental, memaparkan RSKD Duren Sawit selain orang dewasa, juga melayani pasien-pasien yang masih tergolong anak, dibawah 18 tahun. Kasus yang paling sering ditemui, pasien yang harus sampai dirawat, lazimnya menderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia hingga bipolar.

“Kami bertugas mendukung pasien, memberikan keterampilan dan edukasi yang mereka

butuhkan untuk terjun di masyarakat. Harus diakui, masalah ekonomi, sosial, dan ritme kehidupan pekerjaan yang kompleks di Jakarta sekarang ini menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus gangguan jiwa di kalangan masyarakat, juga anak-anak,” ujar Yanto yang siang itu selain menemani Andri membuat puzzle juga mengawasi seorang pasien perempuan remaja melukis pemandangan di kanvas.

BACA JUGA:   Ini Penyesuaian Rute Bus TransJakarta

Andri masih harus melewati perjalanan panjang untuk beradaptasi dengan pengobatan dan menjajaki dukungan dari lingkungan masyarakat dan sekolah, yang menurut Yanto, belum sepenuhnya kondusif menerima pasien gangguan jiwa akibat masih rendahnya pemahaman.

Mengurung diri di penghujung SD
Namun, ada pula, Rani, 18, yang ditemui di RS jiwa swasta di kawasan Jakarta Selatan, dan telah melewati tahapan itu. Ia telah selesai dengan penyangkalan tentang penyakitnya dari lingkungan keluarganya, serta dalam proses penerimaan dari lingkungan masyarakat terdekat, pun secara personal memahami pentingnya minum obat.

Rani mengaku merasakan gejala di penghujung SD dan kian menghebat di usia SMP. Ia sering mengurung diri tanpa sebab diselingi meninggalkan rumah hingga berhari-hari tanpa tujuan. Ia menegaskan, tahapan terpenting dalam hidupnya adalah masa-masa melewati pengobatan. Kendati awalnya sulit menerima kenyataan bahwa anak bungsunya yang masih terhitung belia divonis gangguan jiwa, akhirnya orang tuanya mau menerima kenyataan itu. Rani kini bekerja paruh waktu di restoran.

“Senang banget karena bisa punya pendapatan sendiri, dipercaya orang dan jadi ada kesibukan. Ada dua obat yang harus aku makan setiap hari dan memang kerasa, kalau kelewatan langsung enggak bisa tidur. Makanya kalau obat habis, harus segera datang ke dokter,” kata Rani yang kini mengaku tengah rajin menabung untuk mengumpulkan modal agar bisa membuka usaha sendiri di rumahnya di kawasan Klender, Jakarta Timur.

Tantangan kekinian pada anak

dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ, psikiater dari Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo memaparkan, terdapat berbagai jenis gangguan jiwa pada anak mulai Attention Deficit atau Hiperactivity Disorder (ADHD), hiperaktifitas, autistik hingga kecemasan, pascatrauma, Obsesif-Kompulsif (OCD) hingga yang tergolong berat yaitu skizofrenia, bipolar dan depresi.

BACA JUGA:   Jadi Auditor Badan Nuklir Internasional BPK Terima Fee Rp 66,71 Miliar

Khusus tentang skizofrenia, yang tergolong gangguan jiwa anak yang kronis, menyebabkan anak kehilangan kemampuan untuk membedakan kondisi yang berada pada kenyataan atau juga untuk memahami kenyataan. Ciri – ciri skizofrenia paling sering didapati atau muncul pada usia anak remaja 17-20 tahunan, namun bisa muncul pada usia yang lebih muda, yaitu masa anak-anak hingga remaja.

Sehat jasmani dan rohani adalah penting untuk semua anak, orang tua juga harus berupaya melakukan upaya pencegahan, di antaranya dengan mendorong anak untuk aktif pada aktivitas fisik seperti olahraga, menjaga ikatan dengan anggota keluarga. Namun jika gejala gangguan jiwa yang bisa mengarah pada tahapan serius, seperti menarik diri, berhalusinasi, tak mau bersosialisasi, orang tua harus waspada.

“Segera cari pertolongan profesional, karena saat ini bukan hanya orang dewasa yang menghadapi tantangan dari digitalisasi, serta gaya hidup kekinian, anak-anak muda pun menghadapi tekanan yang sama. Ini perlu dilakukan, walaupun ada pula penyebab genetik yang bisa jadi penyebabnya. Jika pengobatan lebih dini dilakukan, maka kemungkinan anak bisa hidup dalam lingkungan masyarakat, akan semakin tinggi.”

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan pada 2018 menunjukkan, prevalensi skizofrenia/psikosis di Indonesia sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga pengidap skizofrenia/psikosis. Penyebaran prevalensi tertinggi terdapat di Bali dan DI Yogyakarta dengan masing-masing 11,1 dan 10,4 per 1.000 rumah tangga.

Andri dan Rani kini merintis jalannya untuk merebut kembali masa depan yang sempat ditelan wahamnya.Terindikasi di usia anak-anak, mereka beruntung karena bisa mengakses pengobatan, berbanding terbalik dengan 14% penderita yang dipasung oleh keluarganya. Sehatkan jiwa anak-anak Indonesia!

Previous Post

Mengapa Iuran BPJS Naik?

Next Post

REI DKI Ajak Pengembang Cari Dana di Pasar Modal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR