Jakarta, TopBusiness – Kinerja PT Migas Mandiri Pratama Kalimantan Timur (MMP Kaltim) menjadi perusahaan dengan pencapaian luar biasa, tak lepas dari transformasi bisnis yang dilakukan perseroan. Pasalnya, perusahaan yang sempat ‘berdarah-darah’ pada 2016 lalu, kini selangkah demi selangkah telah berhasil mengubah wajah perusahaan menjadi lebih berseri.
Cerita Direktur Utama MMP Kaltim, Wahyu Setiaji, di tahun 2016 itu, perseroan dihadapkan dengan segudang keterbatasan dari segala aspek. Namun kemudian bertransformasi dari pola lama ke pola baru yang lebih prudent membuat arus kas perseroan pun berbalik menjadi lebih sehat. Salah satunya keberhasilan perseroan bisa mengantongi participating interest (PI) sebesar 10% di wilayah kerja (WK) Blok Mahakam, Kaltim.
Hal tersebut seperti dipaparkan oleh Wahyu Setiaji dalam sesi penjurian Top BUMD Awards 2020 yang digelar oleh Majalah TopBusiness dengan dilakukan secara virtual, Rabu (20/5/2020) ini.
“Bagi kami yang membanggakan adalah bisa mengantongi PI 10% di WK Blok Mahakam. Sehingga kondisi keuangan kami terselamatkan. Proses perjuangan untuk mendapatkan ini membuahkan hasil dengan diterimanya pendapatan bagi hasil PI 10% pada Oktober 2019 dan efektif terhitung sejak Januari 2018. Peristiwa ini merupakan titik di mana MMP lepas landas untuk menjadi BUMD migas terbaik di Indonesia,” terang Wahyu yakin.
Apalagi, kata dia, proses mendapatkan PI yang dilakukan oleh MMP merupakan proses PI yang tercepat di Tanah Air. Dengan diterimanya PI 10% WK Mahakam, MMP pun dijadikan benchmark bagi BUMD-BUMD minyak dan gas di negeri ini dalam mendapatkan PI 10% serta pengelolaan perusahaan yang berbentuk holding.
“Dan keberhasilan itu memengaruhi pendapatan kami. Pasalnya, pendapatan MMP sampai tahun 2019 masih didominasi oleh pendapatan PI 10% WK Mahakam itu,” ujar dia.
Disebutkannya, pada Desember 2016 lalu, MMP dihadapkan pada beberapa kondisi, pertama, terbatasnya cash on hand, sehingga mengganggu cashflow dan kegiatan operasional perusahaan. Kedua, pendapatan dari kegiatan usaha existing ternyata tak sesuai harapan, justru lebih banyak menjadi piutang dan beban yang harus diselesaikan baik di induk maupun di anak usaha.
Ketiga, adanya overheating investasi yang ternyata merugi. Keempat, tantangan PI 10% di WK Mahakam harus segera didapatkan. Kelima, PT MMP dinilai tak memenuhi syarat sebagai BUMD yang dapat menerima dan mengelola PI 10% sesuai peraturan. Dan keenam keterbatasan SDM.
Namun hingga Desember 2019, transformasi yang dilakukan dinilai sukses. Antara lain, untuk PI 10% Blok Mahakam berhasil diperoleh per 12 September 2019; menjadi BUMD penyetor dividen terbesar di Kaltim untuk tahun buku 2018 mencapai Rp208 miliar. Kemudian mempunyai program penyehatan anak perusahaan melalui kegiatan investasi pengembangan usaha secara terencana dan terukur. Serta terkait SDM, selain masalah R&D, program penguatan organisasi (SDM) juga menjadi bagian penting dalam pengembangan perusahaan, dan lain sebagainya.
“Untuk setoran dividen atau PAD ke Pemprov Kaltim itu, tak hanya terbesar se-Kaltim mengalahkan BPD Kaltimtara, tapi juga penyetor dividen terbesar BUMD non perbankan di Indonesia. Ini menjadi kontribusi besar kami ke pemerintah dan masyarakat. Angka itu diambil dari laba bersih (setelah pajak) kami yang di 2018 mencapai Rp571,03 miliar,” dia menjelaskan.
Dari sisi kinerja keuangan, dia melanjutkan, sejak 2018 memang sudah membaik. Untuk total kas dari semula hanya Rp6,86 miliar di 2018 melonjak signifikan menjadi Rp287,87 miliar di akhir 2019 lalu. Sementara utang jangka pendek perseoan pun berkurang dari Rp421,63 miliar menjadi hanya Rp77,61 miliar di tahun lalu. Kinerja postif di tahun ini juga terlihat dari aspek pendapatan usaha dan laba bersih setelah pajak. Untuk pendapatan masih membukukan Rp328,66 miliar dengan laba di angka Rp73,03 miliar.
Ke depan, perusahaan yang memiliki tiga anak usaha yakni PT MMP Hilir, PT MMP Marin, dan PT MMP Kutai Mahakam itu, di tahun 2020 yang masih pandemi Covid-19 akan melaksanakan kegiatan investasi untuk pengembangan usaha berdasarkan hasil R&D yang telah dilaksanakan tahun sebelumnya, juga terlibat langsung dalam pengelolaan PI 10% di WK-WK lainnya, serta pengelolaan CSR tepat guna. “Sehingga di 2021 nanti, bisnis migas kami sudah establish dan running,” pungkasnya.
Foto: Blok Mahakam (Istimewa)

Syamsu Alang direktur badan usaha milik desa( BUMDESA) desa muara pantuan kec. Anggana kabupaten Kukar,Kaltim memohon pembangunan kantor dan UKM d desa kami