Jakarta, TopBusiness – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah di Indonesia membuat laju ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 diprediksi minus 3,1 persen (yoy).
Angka proyeksi ini jauh lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih tumbuh 2,97 persen (yoy) maupun periode yang sama tahun lalu yang masih positif 5,05 persen (yoy).
“Kuartal II ini kontraksi akan terjadi karena full PSBB dilakukan di tempat yang berkontribusi ekonomi besar, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah. Ini akan pengaruh kuartal II ada di teritori negatif 3,1 persen,” ujar Sri Mulyani dalam video conference APBN KiTa, Selasa (16/6/2020).
Indikasi perekonomian yang mengalami penurunan itu bisa dilihat dari laju ekspor maupun impor yang mengalami kontraksi cukup dalam. Meskipun neraca dagang selama Mei 2020 surplus USD 2,09 miliar.
Untuk impor bahan baku misalnya, anjlok 43,03 persen (yoy). Begitu juga impor barang modal yang turun 40 persen (yoy). Ini menandakan kegiatan industri tertekan hingga bulan lalu.
“Ini yang sedang kami coba menangani dan mitigasi, dari sisi policy bagaimana bisa memitigasi atau mengelola risiko yang downside sangat dalam agar tidak makin buruk dan tertahan di level zona positif,” kata Menkeu.
Sampai akhir tahun ini, Sri Mulyani masih memiliki dua skenario bagi pertumbuhan ekonomi domestik. Untuk skenario berat ekonomi bisa tumbuh 2,3 persen (yoy), sementara dalam skenario sangat berat ekonomi akan minus 0,4 persen (yoy).
“Meski estimate kita di level antara 0 hingga minus 1 persen (yoy). Kita akan lihat terus dari berbagai perkembangannya,” ujarnya.
