TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pefindo: Paruh Pertama, Transaksi Pasar Obligasi Sepi

Busthomi
10 July 2020 | 14:54
rubrik: Capital Market
Pefindo: Paruh Pertama, Transaksi Pasar Obligasi Sepi

FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat selama semester I-2020 itu penerbitan surat utang atau obligasi relative sepi. Hal ini berimbas terhadap transaksi harian obligasi korporasi di pasar sekunder relative menurun ketimbang tahun sebelumnya.

Menurut Salyadi Saputra, Direktur Utama Pefindo menegaskan, selama bulan Mei, rata-rata nilai transaksi harian di pasar obligasi korporasi adalah sebesar Rp1,4 triliun atau tepatnya Rp1,39 triliun dengan rata-rata frekuensi adalah 145 kali.

“Padahal tahun lalu, transaksi di pasar obligasi masih sebesar Rp1,57 triliun setara dengan 149 kali. Penurunan ini tak lepas memang penerbitan obligasi di semester I-2020 itu relative rendah,” tutur dia dalam media briefing secara virtual, Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Dia menegaskan, sepanjang paruh pertama tahun ini tercatat hanya Rp30,03 triliun nilai obligasi korporasi yang berhasil diterbitkan. Atau turun 42,8 persen dari pencapaian Rp52,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Itu pun yang tertinggi pada mulan Februari saat belum terjadi pandemi covid-19 sebanyak Rp13,18 triliun. Namun selama pandemi menurun drastis, yakni Maret (Rp6,83 triliun), April (Rp1,91 triliun), Mei (Rp5,06 triliun), dan Juni (Rp3,02 triliun).

Transaksi obligasi korporasi yang menurun juga tak lepas dari suku bunga yang juga mulai merendah di banding tahun 2019. Hal ini lantaran adanya penurunan yield obligasi pemerintah dan tren suku bunga yag lebih rendah. Seperti untuk tenor 3 tahun dengan kupon 7,88 %, lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu di angka 8,69%.

Kondisi ini juga salah satunya dipicu oleh masih kurang menariknya obligasi korporasi di mata investor asing. Pasalnya, selama periode tersebut, porsi investor asing di obligasi korporasi hanya sekitar 7,2%, sisanya investor lokas. Padahal di kepemilikan asing di saham mencapai 49,2% dan di obligasi negara di angka 67,3%.

BACA JUGA:   Kemitraan Trans-Pasifik Belum di Kenal Pelaku Bisnis

“Ini perlu pendalaman dan pengembangan pasar lebih lanjutm sehingga transaksi di pasar obligasi korporasi menjadi lebih aktif, terutama dari sisi likuditas,” katanya.

Sehingga dengan kondisi pandemic seperti saat ini, Pefindo memproyeksi emisi surat utang korporasi pada tahun ini sebanyak-banyaknya Rp100 triliun. Nilai tersebut merupakan skenario optimistis dari tiga skenario yang ditetapkan mereka.

“Biasanya kami membuat estimasi hanya satu angka, sekarang tidak bisa lagi. Kami buat estimasi tiga angka [pesimistis, moderat, dan optimistis],” kata Salyadi.

Untuk skenario pesimistis, Pefindo memperkirakan penerbitan obligasi korporasi pada periode Juli—Desember 2020 bertambah 25 persen dari total mandat yang sudah dikantongi per 30 Juni 2020. Dengan demikian, total emisi obligasi korporasi pada tahun ini bisa mencapai Rp60 triliun—Rp70 triliun.

Skenario moderat, pertambahan emisi pada semester II-2020 diperkirakan sebanyak 50 persen dari total mandat atau terjadi peningkatan yang hampir sama dengan semester I-2020, sehingga total emisi pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp80 triliun. “Ketiga, [skenario] optimis kami harapkan bisa sampai mungkin Rp100 triliun di tahun ini,” tutur Salyadi.

Apabila skenario optimistis terealisasi senilai Rp100 triliun, perolehan tersebut menjadi turun dari realisasi penerbitan pada tahun 2019 yang mencapai Rp146,5 triliun. Pefindo sendiri sebelumnya meramal penerbitan surat utang korporasi pada 2020 terkoreksi 30 persen dari proyeksi awal tahun senilai Rp158,5 triliun karena kekhawatiran dampak Covid-19.

“Awalnya prediksi cukup tinggi karena kami yakin ada Rp130,7 triliun yang jatuh tempo dan mungkin ada yang refinancing. Tapi sekarang kenyataannya berbeda,” pungkas Salyadi.

Foto: Istimewa

Tags: kuponobligasiobligasi korporasipasar sekunderpefindo
Previous Post

Produk AMDK telah Penuhi Standar

Next Post

Pemegang Saham Setuju Dividen DUTI Capai Rp555 Miliar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR