PALM Alokasikan Rp28,93 M Untuk Buyback Saham

Penulis Busthomi

Jakarta, TopBusiness – PT Provident Agro Tbk (PALM) baru saja menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Salah satu keputusan dalam rapat tersebut adalah disetujuinya aksi korporasi perseroan untuk membeli kembali (buyback) saham perseroan 110 juta saham.

“Dalam RUPSLB kali ini, pemegang saham sepakat untuk mencadangkan anggaran sebesar Rp28,93 miliar untuk pembelian kembali (buyback) sebanyak 110 juta saham atau 1,55% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan untuk jangka waktu 12 bulan secara bertahap sejak persetujuan dalam RUPS,” kata Presiden Direktur Provident Agro, Tri Boewono, ditulis Minggu (2/8/2020).

Selain keputusan itu, dalam RUPS itu juga disepakati bahwa fokus perseroan akan menerapkan kebijakan efisiensi biaya operasional serta mengoptimalkan produksi perkebunan yang sudah dilakukan sepanjang tahun 2019. Strategi ini merupakan upaya perseroan untuk mempertahankan kegiatan bisnis tetap optimis ditengah tantangan perekonomian global yang membuat harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil) menurun.

Sepanjang 2019, PALM mencatatkan pendapatan Rp 189,16 miliar atau menurun 58% dari pendapatan pada tahun 2018 sebesar Rp 446,65 miliar yang terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan CPO, PK dan TBS sehubungan dengan divestasi entitas anak pada tahun 2018 serta adanya penurunan harga rata-rata penjualan CPO Perseroan pada tahun 2019. Namun pada Semester I-2020, pendapatan PALM tercatat naik 25% menjadi Rp 121,28 miliar dari Rp 97,12 miliar pada Semester I-2019.

Direktur Keuangan Provident Agro, Devin Antonio Ridwan menambahkan, perang dagang antara Amerika Serikat dan China, perbedaan tarif impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan dan harga CPO yang terus menurun, berdampak terhadap bisnis CPO.

“Meski pada akhirnya harga CPO sempat membaik di triwulan terakhir tahun 2019 pun belum mampu mengangkat kinerja industri secara signifikan. Situasi yang menantang ini pada akhirnya berdampak langsung terhadap kinerja Perseroan,” ujarnya. 

Penurunan pendapatan Perseroan terutama disebabkan berkurangnya jumlah kebun yang dimiliki Perseroan, hal ini tentunya tercermin pada penurunan volume penjualan dari CPO dan Palm Kernel Oil (PKO). Begitu juga penurunan harga rata-rata penjualan CPO turut memengaruhi pendapatan, dari Rp 7.419/Kg pada tahun 2018 menjadi Rp 6.674/Kg pada tahun 2019. Adapun harga rata-rata penjualan PKO pada tahun 2019 sebesar Rp 3.725/Kg pada tahun 2019, menurun dibandingkan tahun 2018 yaitu sebesar Rp 5.832/Kg. 

Untuk tahun ini, Devin mengatakan Perseroan tetap menjalankan kebijakan efisiensi biaya operasional dan optimalisasi produksi perkebunan. Selain itu, Perseroan mengoptimalkan peluang bisnis yang prospektif. Kebijakan tersebut sudah menciptakan hasil yang signifikan, pada Semester I-2020 pendapatan tercatat naik 25% menjadi Rp 121,28 miliar dari Rp 97,12 miliar pada Semester I-2019, dan laba bersih melonjak 142% menjadi Rp 17,05 miliar.

Dari sisi produksi, hingga per Juni 2020 atau Semester I-2020, PALM mencatatkan produksi TBS sebanyak 50,662 ton, produksi CPO dan PKO masing-masing sebesar 14.529 ton serta 2.504 ton. Selain itu, Perseroan juga telah melakukan peremajaan pada luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) sekitar 1.131 hektar. Adapun luas lahan dengan tanaman menghasilkan mencapai 5.164 hektar.

“Kondisi perekonomian global menghadapi tekanan yang hebat akibat pandemi Covid-19, karena itu strategi efisiensi dan optimalisasi kami lanjutkan kembali. Manajemen optimistis strategi ini akan membawa Provident Agro melewati masa krisis khususnya akibat pandemi Covid-19 dan tetap menjaga pertumbuhan bisnis yang positif,” ujar Devin.

Foto: Istimewa

BACA JUGA

Tinggalkan komentar