Maybank Indonesia Terbukti Implementasikan GRC dengan Mumpuni

Penulis Busthomi

Jakarta, TopBusiness – Di tengah perbankan nasional yang menghadapi risiko likuiditas dan risiko kredit sejak beberapa tahun ini, peran implementasi governance, risk, and compliance (GRC) menjadi hal penting. Langkah ini pun ditempuh oPT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII). Sebagai salah satu bank besar yang masuk BUKU III ini tentu sangat memperhatikan faktor GRC dalam menjalankan bisnisnya.

Hal ini terlihat dari performa tahun lalu. Secara terbukti, perseroan telah mampu mempraktikan prinsip-prinsip tata kelola dengan baik dan sanggup menangkal segala risiko-risiko perbankan, serta tentu berjalan sesuai dengan aturan dari para regulator yang ada.

Dari sisi tata kelola misalnya, governance yang diterapkan oleh bank yang induknya ada di Malaysia itu seolah sudah teruji mengingat didukung oleh serangkaian komite yang berada di bawah dewan komisaris maupun di bawah direksi. Hal ini seperti disampaikan oleh Staf Sekretaris Perusahaan BNII, Nadia Harris Effendy, dalam sesi penjurian Top GRC Award 2020 yang dilakukan secara virtual, di Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Komite tersebut, kata Nadia, untuk di bawah dewan komisaris terdiri dari Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Nominasi dan Remunerasi, dan Komite Tata Kelola Terintegrasi. Sedang untuk komite di bawah direksi aad Komite Manajemen Risiko, Komite Audit Internal, Komite Assets dan Liabilities Management, Komite Pengarah Teknologi Informasi, dan Komite Manajemen Risiko Terintegrasi.

“Tak hanya itu, ada juga komite pendukung lain seperti Komite Kredit, Komite Restrukturisasi Kredit, Komite Penurunan Nilai, Komite Human Capital, serta satu Komite Personel yang memiliki garis pelaporan an garis koordinasi denagn direksi serta sejumlah satuan kerja yang independe. Dengan didukung oleh komite-komite tersebut membut implementasi dari GRC itu bisa dilakukan secara optimal,” tuturnya.

Bahkan untuk implementasi governance sendiri, kata Nadia, pihaknya terus bertekad untuk menjadi lebih baik lagi. Makanya perusahaan memiliki roadmap tata kelola hingga 2021 nanti. Karena praktik GCG selama ini, selain mengacu ke standar GCG di tingkat nasional, Maybank Indonesia juga beraspirasi kepada standar tata kelola di tingkat regional ASEAN.

“Dan untuk melakukan tujuan itu, Maybank Indonesia memiliki roadmap tata kelola sebagai berikut, mulai dari 2017, menyusun dan menyempurnakan elemen utama dalam implementasi GCG. Lalau di 2018, menyempurnakan impelementasi GCG bank dengan ASEAN CG Scorecard. Di 2019, melakukan kampaanye soal GCG dalam compliance safari road show, di tahun ini menjadikan GCGC sebagai bagian dari budaya operasional bank, dan di 2021 nanti menuju governance excellance,” papar dia.

Manajemen Risiko Andal

Selain soal tata kelola, manajemen risiko perseroan juga cukup mumpuni. Dalam model risk governance yang digunakan pihaknya, bertujuan untuk mengatur pembagian tugas dan tanggung jawan dalam proses pengelolaan risiko.

“Namun di saat yang sama juga memberikan independensi dan pemisahan tugas di antara 3 lines of defense yang meliputi lini ke-1, lini ke-2, dan lini ke-3 itu. Sehingg di lini ketiga itu sudah bisa adanya independent risk assurance. Ini yang merupakan bagian dari pengawasan aktif dari Dewan Komisaris dan Direksi,” kata Nadia.

Lebih lanjut dia menegaskan, untuk penerapan manajemen risiko yang efektif itu tentu harus didukung dengan kerangka yang mencakup kebijakan dan procedur manajemen risiko serta limit risiko (risk appetite) yang diterapkan secara jelas sejalan dengan visi, misi, dan strategi bisnis bank.

Apalagi memang, bukti implementasi manajemen risiko yang andal ini, perseroan sudah mendapat 8 pencapaian dalam penerapan hal ini. Pertama, pengembangan kebijakan lingkungan, sosial, dan tata kelola, sebagai salah satu penerapan keuangan berkelanjutan. Kedua, pengembangan Loan Origination System (LOS) segmen retail SME untuk mendukung implementasi kebijakan retail SME yang telah diperbaharui sesuai dengan pola bisnis yang baru.

Ketiga, penyempurnaan lebih lanjut Credit Card Application Scorecard untuk meningkatkan kualitas pengukuran risiko calon debitur kartu kredit. Keempat, redefinisi segmentasi bisnis yang selaras dengan target bank yang didukung oleh pengukuran risiko yang tepat. Kelima, pelaksaanaan Entreprise Crisis Simulation Exercise (ECSE) untuk membantu kesiapan bank agar tetap dapat menjalankan opersiobal bank apabila terjadi bencana atau serangan cyber.

Keenam, implementasi DNA (Document Navigator Application) untuk mendukung proses dokumentasi dan tracking proses peluncuran produk dan atau aktivitas baru di bank serta Premises Sweep Application (PSA) untuk mendukung gerakan clean desk policy sebagai entuk pencegahan kebocoran informasi/data rahasia bank.

“Ketujuh, pelaksanaan cyber risk assessment challenge session untuk membantu memberikan pandangan independen terhadap cyber risk assessment yang dioakukan oleh IT dalam memastikan minimum key risk, control, dan gaps sudah terindentifikasi dan mitigasi serta action sudah ditetapkan. Apalagi di bank ini kejahatan cyber itu sangat tinggi dan kita sudah secure,” katanya.

Dan terakhir, kata dia, pengkinian rencana aksi (recovery plan) untuk memastikan kesiapan bank dalam menghadapi kondisi krisis.

“Sedang untuk aspek kepatuhan, beberapa indicator kepatuhan di 2019 lalu juga tetap kita ikuti sesuai regulasi yang ada. Seperti rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), seperti CAR, risiko kredit, risiko pasar, dan operasional, adalah di angka 21,42%, di atas ketentuan minimum yang dipersyaratkan regulator. Selain itu juga tak ada pelampauan ataupaun pelanggaran terhadap Batas Maksimum Pemberikan Kredit (BMPK) selama 2019 lalu,” jelasnya.

Untuk diketahui, kinerja perseroan sepanjang 2019 relatif positif. Untuk pendapatan bunga bersih (NII) sebanyak Rp8,2 triliun, NIM di angka 5,07%, CAR di posisi 21,38%, simpanan nasabah (DPK) Rp110,6 triliun, pengucuran kredit Rp122,6 triliun, dengan pendapatan operasional lainnya di angka Rp2,6 triliun. Segingga berhasil mengantongi laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali sebesar Rp1,8 triliun. “Dengan posisi kredit macet (NPL) yang masih terkendali di level 3,33% di tahun lalu,” pungkas dia.

Foto: TopBusiness

BACA JUGA

Tinggalkan komentar