Jakarta, TopBusiness – Jangan anggap enteng dengan emiten yang bergerak di bidang industri makanan kerupuk ini. Berdasarkan publikasi riset Lifepal yang dikirim ke redaksi, Kamis (24/9/2020), saham PT Sekar Laut Tbk (SKLT) yang merupakan produsen krupuk udang dengan merek FINNA menjadi saham dengan performa terkuat sejak 1 September 2013 hingga 21 September 2020.
Selain produsen krupuk udangm emiten ini juga memproduksi sambal, bumbu masakan, hingga saos.
Berdasarkan riset, SKLT juga menjadi salah satu dari tujuh emiten makanan dan minuman yang kinerja di BEI sanggup mengalahkan pasar atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal September 2020.
Siapa saja emiten makanan dan minuman yang sanggup mengalahkan pasar? Apakah saham mereka layak dibeli untuk diversifikasi investasi? Mari simak ulasannya.
Saham dari PT Sekar Laut Tbk (SKLT) menjadi saham dengan performa terkuat sejak 1 September 2013 hingga 21 September 2020.
Bisa dikatakan bahwa, capital gain dari SKLT mencapai 594,44% dalam jangka waktu 1 September 2013 hingga 21 September 2020.
Pada kuartal I 2020 SKLT sanggup membukukan kenaikan laba bersih 33,01% (yoy). Sementara itu, pendapatan neto mereka pun naik 6,98% di kuartal II.
Namun, seperti yang tercantum di laporan keuangan semester I 2020 SKLT, laba bersih SKLT justru turun 19,5% dari semester I di periode sebelumnya. Namun pendapatan neto mereka di semester II 2020 naik 4,71%.
Saham dari produsen kudapan Twistko, Go Potato, Kopi Maestro dan Mie Gemez yaitu PT Siantar Top Tbk (STTP), menjadi saham makanan dan minuman terbaik kedua yang kinerjanya sanggup mengalahkan pasar.
Bisa dikatakan bahwa, terhitung sejak 1 September 2013 hingga 21 September 2020, capital gain dari STTP mencapai 347,02%.
Bicara soal fundamental, laba bersih STTP naik 12% dari semester I 2019 ke semester I 2020 yaitu dari Rp 248,8 miliar menjadi Rp 278 miliar. Penjualan PT Siantar Top Tbk sendiri di periode yang sama mengalami kenaikan sebesar 8,6% dari Rp 1,65 triliun di semester I 2019 jadi Rp 1,8 triliun di semester I 2020.
Saham produsen Taro Snack miliki kinerja terburuk
Bisa dikatakan bahwa, selama dua tahun lamanya AISA telah dikenakan suspensi dari BEI karena insiden gagal bayar bunga obligasi dan sukuk ijarah, yang diterbitkan 2003. Sayangnya laporan kuartal II dari emiten ini belum dirilis.
Seperti yang tercantum di laporan kuartal I AISA, perusahaan ini masuk ke dalam daftar perusahaan dengan ekuitas negatif. Ekuitas AISA yang tercatat dalam laporan keuangan kuartal I adalah – Rp 1,32 triliun.
Riset mencatat bahwa, kinerja AISA terhitung dari 1 Mei hingga 21 September 2020 adalah -82,56%. Di atas AISA ada pula ADES (PT Akasha Wira International Tbk) yang performanya -51,28%.
Apakah menarik mengoleksi saham SKLT?
Kinerja IHSG dari 1 September 2013 hingga 21 September 2020 tercatat hanya 15,82% sementara itu Indeks Konsumer adalah 0,45%.
Emiten makanan dan minuman raksasa yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga berada di jajaran emiten yang kinerjanya sanggup mengalahkan pasar, begitupun dengan perusahaan induknya yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Melongok performa ICBP dari 1 September 2013 hingga 21 September 2020, capital gain yang didapat oleh produsen Indomie itu tercatat 98,05%. Performa ini dinilai masih kalah dengan satu emiten raksasa makanan dan minuman PT Mayora Indah Tbk (MYOR), namun lebih unggul dari PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ).
Lalu, bagaimana dengan SKLT? Menurut informasi di RTI, hanya 5,94% dari total saham SKLT yang dilepas ke publik. Terhitung dari September 2013 hingga September 2020, rata-rata volume transaksi harian SKLT hanyalah 9.327 lembar saham, sedangkan saham ICBP ditransaksikan 7 hingga 8 juta lembar saham per hari.
