Luncurkan Tema Baru, ACT Tanamkan Karakter Bangsa Dermawan

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, TopBusiness – Mengawali tahun 2021, Aksi Cepat Tanggap (ACT) meluncurkan tema bertajuk “Bangkitkan Sejatinya Bangsa”. Melalui tema ini, ACT mengajak berbagai instrumen negara menanamkan karakter bangsa Indonesia yang dermawan, gotong-royong, dan gemar menolong dalam menyelesaikan permasalahan sosial, ekonomi, serta kemanusiaan secara utuh dan menyeluruh.

“Tahun 2021 adalah tahun untuk mengajak berbagai elemen bangsa agar bangkit dan bergerak lebih hebat karena permasalahan yang dihadapi makin besar dan makin pelik baik dari sisi kesehatan, kelaparan, kehilangan pekerjaan yang berujung pada kemiskinan dan ancaman kematian. Bangkitkan Sejatinya Bangsa, kami ajak seluruh lapisan bangsa berkolaborasi meluaskan maslahat program-program kemanusiaan berkelanjutan yang kami hadirkan sebagai solusi permasalahan kemanusiaan yang semakin kompleks ini,” kata Ahyudin, Ketua Dewan Pembina ACT dalam siaran persnya yang diterima redaksi, Rabu (13/1/2021).

Di tahun 2021, ACT kembali memperkuat dan merancang program pilihan untuk menyejahterakan serta memandirikan masyarakat sehingga efek kedermawanan yang diamanahkan semakin bermanfaat bagi para penerima manfaat. Gagasan ini pun diperkuat oleh Ibnu Khajar selaku Presiden Aksi Cepat Tanggap.

“Pengelolaan filantropi yang selama ini bersifat karitatif akan ditransformasikan menjadi pengelolaan filantropi secara korporasi. Dengan pemindahan kuadran ini, ACT berharap tidak hanya membuat program jangka pendek saja, melainkan program jangka panjang yang mampu memberdayakan dan memandirikan masyarakat. Salah satu program yang ditawarkan di antaranya pemberdayaan masyarakat produsen pangan di hulu guna menjamin kesejahteraan petani sekaligus menciptakan kedaulatan pangan hingga pemberian modal usaha untuk sektor ekonomi di hilir. Ikhtiar inilah yang akan digencarkan oleh Global Wakaf – ACT tahun 2021 lewat program Wakaf Ekonomi Produktif, Wakaf Pangan Produktif, dan Wakaf Air Produktif sebagai stimulus bangsa,” jelas Presiden ACT Ibnu Khajar.

Tidak hanya menggalang kepedulian bangsa untuk penerima manfaat di dalam negeri, ACT juga menyiapkan program yang akan diimplementasikan untuk saudara seiman di berbagai belahan dunia. Selama 2020, program Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI) telah melakukan pendistribusian bantuan ke lebih 1 juta penerima manfaat. Program ini akan terus dimasifkan dengan variasi berupa tempat tinggal, rumah sakit, dan sebagainya. 

Saat ini, transformasi digital pun dilakukan ACT sebagai cara mencapai peradaban dunia yang lebih baik. Akselerasi penerapan teknologi yang terintegrasi ini pun menjadi ikhtiar lembaga demi efektivitas dan efisiensi kerja dalam melayani kebutuhan umat di tengah kondisi multikrisis, khususnya dampak pandemi. Insyaallah, bangkitnya kedermawanan bersama Aksi Cepat Tanggap menjadi awal dari solusi atas problematika yang tengah dihadapi bangsa. Ayo, Bangkitkan Sejatinya Bangsa! Selamatkan dan mandirikan bangsa. www.Indonesiadermawan.id

Partisipasi Masyarakat Berdonasi Meningkat

Ahyudin menjelaskan, banyak orang yang menjadikan 2020 sebagai tahun penuh ujian akibat virus Covid-19 yang mengancam hampir sepanjang tahun hingga meningkatnya jumlah kemiskinan serta kemerosotan ekonomi ke jurang resesi. Namun di balik itu semua, 2020 telah melahirkan jiwa-jiwa kedermawanan di tengah pandemi. Sejak pertengahan Maret, masyarakat yang berpartisipasi mendukung gerakan filantropi dan bekerja sama dengan ACT naik 154 persen, meskipun total donasinya tidak jauh berbeda dari tahun lalu.

Pertumbuhan jumlah dermawan yang mengamanahkan kepedulian terbaiknya merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi untuk menghadapi krisis multidimensi akibat pandemi Covid-19. Kemiskinan merupakan muara dari kelaparan, keserakahan, kesengsaraan, dan penderitaan masyarakat Indonesia hingga masyarakat dunia.

“Situasi ini memberikan tekanan karena hampir seluruh umat manusia menghadapi kondisi yang penuh ketidakpastian. Oleh sebab itu, kedermawanan dari berbagai elemen bangsa dapat memberikan solusi nyata bagi masyarakat yang terdampak Covid-19 dan hidup dengan segala keterbatasan,” kata Ahyudin.

Dia mengakui bahwa pandemi Covid-19 melahirkan situasi baru yang penuh tekanan. Karantina wilayah maupun karantina mandiri secara tidak langsung berdampak pada roda perekonomian yang kian terseok. Banyak perusahaan terpaksa mengurangi jumlah karyawan yang berakibat pada melonjaknya angka pengangguran secara signifikan. Hal ini berdampak pada ketiadaan penghasilan hingga keterbatasan pangan dan kemiskinan. Antisipasi dampak sosial dan ekonomi perlu diperhatikan di samping antisipasi dampak kesehatan yang belum juga menemukan solusi terbaik.

“Kemanusiaan itu bukan sebatas fenomena sosial saja, bukan pula sekadar untuk menjawab fenomena ekonomi. Kemanusiaan itu energi dan kecepatan untuk mengatasi masalah-masalah dunia dan membangun peradaban yang lebih baik. Revolusi filantropi merupakan jawaban bagi penyelamatan peradaban sekaligus penggerak modal terbaik: nilai dan mental. Kita sebagai manusia yang diamanahi kehidupan tidak bisa tinggal diam. Krisis ekonomi, krisis ideologi, maupun krisis visi harus segera diantisipasi dengan nilai-nilai kemanusiaan,” papar Ahyudin.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar