Jakarta, TopBusiness – Lembaga Kajian Nawacita (LKN) hari ini menyelenggarakan dialog nasional online bertema “Peluang Teknologi Nano dan Graphene dalam Aplikasi Baterei untuk Usaha Masa Depan”.
Kegiatan webinar ini menghadirkan pembicara kunci (keynote speaker) Ir Agus Tjahajana Wirakusumah (Ketua Tim Percepatan EV Baterei Nasional dan Komut PT Inalum) dan Ketua Umum LKN Ir. Samsul Hadi.
Sedangkan narasumber yang menjadi pembicara adalah Prof. Dr. Eng. I Made Joni (Wakil Ketua III Komite Karbon Baru dan Material Maju (KBMM) LKN, Prof. Dr. Eng. Nurul Taufiqurrahman (Ketua Masyarakat Nano Indonesia). Selaku moderator webinar ini adalah Dr. Ing. Pudji Untoro, (Ketua Komite KBMM – LKN) dan host acara Ir Lutfi Handayani MBA (Tim Humas LKN/Pemred Majalah TopBusiness).
Samsul Hadi dalam sambutannya mengakatan bahwa LKN adalah organisasi yang didirikan untuk membangun SDM unggul dalam rangka menuju Indonesia maju. Di dalam LKN terdapat beberapa komite, terbaru adalah Komite Karbon Baru dan Material Maju (KBMM).
“Ini sangat penting sekali adanya terobosan baru, teknologi yang bisa mendorong ke arah industri yang lebih bermanfaat untuk masyarakat,” kata Samsul.

Samsul mengapresiasi kegiatan webinar yang digagas oleh Komite KBMM LKN ini. Dia berharap melalui webinar ini bisa diperoleh rumusan yang baku mengenai pengembangan industri baterei listrik, sehingga bisa diimplementasikan bersama investor. “Desain konsep ekonomi sirkular berbasis KBMM ini akan disampaikan ke Wantanas (Dewan Ketahanan Nasional), kita presentasi di sana,” ucap dia.
Potensi Besar
Sementara itu, Agus Tjahajana Wirakusumah dalam webinar ini banyak menjelaskan soal potensi pasar baterai listrik global dan peluang Indonesia menjadi raksasa dunia di industri baterai listrik.
Menurut dia, permintaan baterei listrik di Indonesia pada 2035 diperkirakan mencapai 28 GWh, meningkat dibandingkan tahun 2025 dan 2030 yang masing-masing sebesar 2,8 GWh dan 11,2 GWh. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen dari kebutuhan baterai berasal dari mobil listrik, disusul sepeda motor, electronic storage dan memenuhi pasar luar negeri.
“Kementerian BUMN melihat, ada bisnis yg akan naik 19 kali lipat dalam waktu 10 tahun, di mana baterai banyak menggunakan bahan baku yang ada di Indonesia. Baterai ini menggunakan aluminium, copper, nikel, mangan dan cobalt. Sekarang material batera ini mengerucut pada nikel, mangan dan cobalt base. Kita di Indonesia dianugerahi oleh Tuhan menjadi pemilik nikel terbesar di dunia,” kata Agus.
Sebab itu, pemerintah membentuk Tim Percepatan Electric Vehicle (EV) Baterei Nasional. Tujuan pembentukan tim ini adalah untuk membangun industri baterai nasional dari mulai konsep sampai implementasi. Ada beberapa BUMN yang terlibat dalam tim ini antara lain MIND ID, Inalum, Pertamina, dan PLN.

Agus menegaskan, bila Indonesia menjadi pemain global di industri baterei listrik dari hulu hingga hilir maka potensi GDP yang masuk ke dalam negeri mencapai US$ 26 miliar per tahun. Selain itu, jumlah tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 23,5 ribu orang pada 2030.
Selain itu, pasar otomotif di Indonesia masih memiliki peluang besar untuk berkembang pesat ke depan. “Kita masih punya harapan berkembang yang besar ke depan, saat ini tingkat kepemilikan mobil di Indonesia masih 1,8 mobil per 100 penduduk, Thailand sudah hampir 200, Malaysia hampir 300, jadi kita masih bisa meningkat cukup besar,” ujar Agus.
Sedangkan Prof. Dr. Eng. I Made Joni yang juga Functional Nano Powder University Center of Excellent, FiNder U CoE di Universitas Padjajaran dalam presentasinya membawakan materi tentang “Teknologi Nano dan Graphene dalam Aplikasi Baterei” dan Prof. Dr. Eng. Nurul Taufiqurrahman menyampaikan materi tentang “Hilirisasi Teknologi Nano menjadi Usaha”-Roadmap Nano Center”.
Kegiatan webinar ini diikuti sekitar 100 peserta baik dari LKN, kalangan profesional, masyarakat umum, dan jurnalis.

Suatu terobosan teknologi yang luar biasa, semoga menjadikan Indonesia yang mampu melakukan riset bahan baku masa depan.