Jakarta, TopBusiness – Di tengah pandemi Covid-19, pelaku sinema di Indonesia masih terus berkarya dengan hasil-hasil terbaiknya. Kali ini, Gambar Hidoep Sinema menggandeng Tiket.com yang segera menyuguhkan film dengan judul, Dengar, sebagai film pertama di Indonesia dengan konsep interaktif dengan penontonnya yang diputar melalui sarana video conference, Zoom meeting.
Film ini dibesut oleh duet Alvin Rizky Ismail sebagai sutradara dan Ucup Mokoginta selaku penulis skenario. Dua sineas yang karib sejak kecil ini berkolaborasi untuk melahirkan film anyar untuk mendobrak dunia perfilman yang tengah tiarap dihantam pandemi Covid-19. Sekaligus, film ini menjadi jawaban dari tantangan para insan perfilman Indonesia saat ini.
Jika Anda para pecinta film, Dengar memang menjadi film layak ditonton. Bukan hanya dari sisi ceritanya yang menarik dan penuh ketegangan karena bergenre horor, tapi juga keseruan lainnya bisa didapat lantaran film ini ditayangkan melalui zoom. Tanpa perlu ke bioskop, Anda bisa menonton di depan gadget Anda untuk siap menikmati serunya film Dengar sambil berinteraksi dengan pemeran filmnya.
Hebatnya film ini pun tak hanya menghadirkan nama-nama besar di kancah perfilman nasional, seperti Jajang C. Noer dan Oka Antara yang terlibat di dalamnya, namun juga ada aktris pendatang baru potensial, Lania Fira. Lania sendiri ditemukan oleh Gambar Hidoep Sinema ketika proses casting dilakukan yang ternyata berlangsung berbulan-bulan itu.
Film yang memadukan proses interaksi antara penonton dan pemainnya itu diklaim sebagai film pertama di Indonesia, bahkan dunia. Memang, pembuatan sebuah film yang menggunakan Zoom untuk produksi film pernah dieksekusi oleh film maker indie di Amerika Serikat. Namun jika mengacu ke pembuatan film profesional, bisa jadi Dengar menjadi yang pertama.
Alvin kemudian mengembangkan ide ini dengan berencana melakukan pemutaran film melalui media Zoom dan melibatkan penonton di rumah untuk berinteraksi dengan pemainnya. Rencananya, film ini akan tayang perdana melalui aplikasi Zoom pada tanggal 10 Juni 2021 nanti dan hanya akan ditonton oleh 2.000 orang saja.

“Karena pemutaran film akan dilakukan lewat Zoom, tentunya akan menarik sekali apabila penonton bisa ikut terlibat,” terang Alvin kala berbincang dengan TopBusiness.id, dikutip Jumat (4/6/2021). “Bayangkan, saat Anda sedang asyik duduk mengunyah pop corn di rumah, tiba-tiba salah satu pemain akan menyapa Anda, dan meminta tolong Anda memecahkan masalah yang dia hadapi.”
“Jadi, film ini bikin beda. Ada interaksi dalam bentuk film,” katanya. “Namun begitu, kita masih tetap mencari bentuk yang terbaik dalam hal interaksinya, kita exercise terus. Itu sih ide dasarnya seperti itu, tidak dapat secara tiba-tiba. Jadi ini seperti pengalaman kami berdua yang membentuk sebuh film ini,” dia menerangkan.
Karena di masa pandemi, produksi film Dengar tetap harus mengikuti protokol kesehatan (prokes), tidak melibatkan banyak orang, dan syuting di luar ruangan dilakukan malam hari. Sehingga tidak mengundang kerumunan. Meski disaksikan dari rumah, film ini tetap menyuguhkan kisah yang menarik bagi penonton. Dan tentu saja, tetap menegangkan.
“Semula idenya adalah bagaimana kita bisa membuat film dengan kru dan lokasi yang terbatas untuk menyiasati situasi pendemi ini,” ujar anak dari produser film terkenal, Irwan Usmar Ismail dan cucu dari tokoh perfilman Usmar Ismail itu.

Genre Horor
Lantas, kenapa film Dengar mengusung genre horror? Ditambahkan Ucup, konsep film interaktif seperti itu akan lebih seru apabila disuguhkan melalui genre horor. Apalagi mereka berdua dibesarkan di tahun 1990-an, di saat film layar lebar di Indonesia tengah mengalami pasang-surut. Dan kemudian film hororlah yang disebutnya turut menaikkan pamor dunia sinema Indonesia kala itu.
“Dan kita menjadi saksi dimana film horor itu yang menaikkan perfilman Indonesia. Namun perlu diakui di era 90-an, dunia perfilman nasional sempat kehilangan identitasnya. Karena serbuan budaya dari film-film Hollywood dan Hongkong. Makanya film yang ada kala itu lebih menonjolkan sisi-sisi sensualnya,” beber Ucup.
“Dan akhirnya, kehadiran film Jelangkung, karya Rizal Mantovani kala itu (2001) menjadi penyelamat, yang membuat perfilman Indonesia kembali gemerlap,” sambung Ucup lagi.
Dunia horor juga, disebutnya, menjadi identitas film Indonesia. Tentu dengan beragam karakternya yang ada, sebut saja, pocong, genderuwo, kuntilanak, jelangkang, suster ngesot, dan banyak lagi.
“Karena Alvin punya ide dengan wahana video conference, maka ga mungkin dengan film cinta, karena Drakor (Drama Korea) sedang naik daun. Makanya, kita pakai identitas kita yakni horor. Sebab film horor inilah yang bisa memancing bulu kuduk dan adrenalin ketakutan di rumah. Tapi tetap seru. Saya selalu bilang, keyakinan saya itu dari penggemar horor yang ada, pasti ada yang penakut, tapi penasaran,” cerita Ucup.
Dengar merupakan film yang berkisah tentang petualangan penuh misteri yang dialami oleh Risty Rizman (Lania Fira). Risty seorang gadis yang mendapatkan anugerah bisa mendengarkan suara arwah orang yang sudah meninggal. Kemampuan ini ia dapat saat ia masih duduk di bangku Kelas 3 SMA.
Namun, Risty justru sangat merasa terganggu dengan suara-suara arwah yang setiap hari memanggilnya, seakan minta pertolongan.

Lima tahun berselang, Risty merasa sudah tak tahan dan ingin menghentikan semua itu. Ia mengajak para sahabatnya untuk mendukungnya mengikuti ritual bersama seorang paranormal bernama Bu De Sar (Jajang C. Noer), yang diharapkan bisa menghilangkan kemampuan itu.
Akan tetapi, kemampuan mendengar suara arwah bukannya hilang, tapi kemampuan Risty justru jadi meningkat. Kini ia malah bisa melihat arwah. Risty kini dihantui oleh 3 sosok arwah yang mengincar kemampuannya. Arwah penasaran itu juga menganggu sahabat Risty, yaitu Dinar, Angel, Sabeth dan Gantar. Seru bukan?
Tiket.com telah digandeng menjadi platform pertama yang akan memotori pertunjukkan film interaktif ini. Film ini hanya menyediakan tiket untuk 2000 penonton. Setelah pemutaran ekslusif di Zoom live, Dengar rencananya juga akan diputar melalui tiketlive.
Namun di platform ini sesi interaktif ditiadakan. Kendati tidak ada sesi interaktif, dalam pemutaran di tiketlive ini justru akan diberikan extended scene version yang tidak ada di versi interaktif.
FOTO-FOTO: Rendy MR
