Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Sembada Sleman terpilih menjadi salah satu finalis BUMD yang diundang untuk mengikuti sesi penjurian oleh TOP BUMD Awards 2021 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness secara virtual pada Senin (7/6/2021).
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama PDAM Sleman Dwi Nurwata memaparkan sejumlah inovasi dan capaian PDAM Sleman dalam memberikan pelayanan dan penyediaan akses air bersih kepada masyarakat.
Dwi mengatakan Sebagai badan usaha, PDAM Sleman memiliki tugas pokok dan fungsi yakni; pertama, memberikan layanan publik (50%) melalui pemberian akses air bersih kepada masyarakat, Meningkatkan derajat kesehatan dan Membantu meningkatkan kesehjahteraan masyarakat. Serta kedua, mendapat keuntungan atau profit (50%) yang dilakukan dengan membantu meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat, Memberikan kontribusi PAD, dan Menjaga ketersinambungan operasional serta memingkatkan pengembangan layanan.
“Hal ini sesuai dengan visi PDAM Sleman sendiri yakni Menjadi Perusahaan Air Minum yang Unggul, Sehat, Mandiri dan Terpercaya dengan misi Menyediakan kebutuhan air bersih masyarakat Kab. Sleman yang memenuhi standar K3, Membantu meningkatkan perekonomian daerah melalui peningkatan PAD dan pelayanan air bersih,” kata Dwi.
Adapun untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, Dwi menyampaikan PDAM Sleman mempunyai 4 strategi yakni; Pertama, membuat perencanaan yang baik dan realistis dalam bentuk RI-SPAM yang disahkan dengan Peraturan Daerah atau Peraturan Bupati, membuat business plan yang disahkan oleh bupati selaku kepada daerah, RKAP yang disahkan oleh Bupati dan Dewan Pengawas.
Kedua, memahami dan mengakomodasi kepentingan dari berbagai stakeholderPDAM. Yaitu DPRD/Pemkot/Pemkab yang berperan membuat dan mensahkan regulasi, persetujuan penyertaan Modal Pemerintah (PMP).
“Strategi ketiga, menciptakan komunikasi yang baik. Dengan semboyan “Komunikasi adalah Panglima” maka kami selalu melakukan komunikasi dengan baik, teratur, terkoordinasi dan konsisten mengenai semua program dalam business plan dan RKAP kepada semua stakeholder. Juga selalu melakukan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus. Tujuannya untuk mendapatkan dukungan.”
Dan Keempat, menciptakan regulasi dan inovasi produk. Regulasi dibuat bersama DPRD dan Pemda untuk mendukung perkembangan dan fleksibilitas kelembagaan PDAM. Inovasi produk yang sudah dilakukan adalah produksi air minum dalam kemasan (AMDK) dengan brand “Daxu” untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Pada November 2020 lalu PDAM Sleman meresmikan gudang produksi AMDK Daxu di Dusun Pokok, Harjobinangun, Pakem. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Bupati Sleman Sri Purnomo. Kehadiran Gudang produksi AMDK Daxu ini diharapkan mampu mendukung langkah untuk mengisi peluang pasar air minum dalam kemasan khususnya di wilayah Sleman yang masih dikuasai oleh produk-produk luar Sleman,” ujar Dwi.
Ia menambahkan Gudang Produksi AMDK tersebut dibangun di atas tanah seluas lahan 5.500 meter persegi dan terdiri dari dua lantai dengan memiliki tiga kapasitas mesin produksi yaitu mesin filling cup yang dapat memproduksi 3.600 cup per-jam, mesin filling botol dengan kemampun produksi 2.000 boto per-jam dan mesin filling gallon dengan produksi 120 galon per-jam.
Berkat strategi yang telah dijalankan, lanjut Dwi, kinerja PDAM Sleman kian membaik dari tahun ke tahun. Tercatat meski di tengah pandemic covid-19 yang tengah berlangsung, PDAM berhasil meraih laba sebesar Rp 2.230.427.331 miliar dengan tingkat ekuitas mencapai Rp. 82.302.634.559,- miliar. Perusahaan juga mendapat predikat sebagai perusahaan ‘sehat’ dari BPPSPAM/Kemen PU dengan skor 3,06 dan predikat ‘baik’ dari Kementerian dalam Negeri dengan skor 71,08 di tahun 2020. “Di tahun 2020 kami juga menyetorkan deviden untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 1,240 miliar,” tambah Dwi.
Meski kinerja perusahaan terus membaik, Dwi mengakui bahwa dalam operasionalnya, PDAM Sleman menghadapi beberapa tantangan, utamanya adalah meningkatkan cakupan layanan air bersih kepada masyarakat.
Saat ini total cakupan layanan dari PUDAM Sleman sendiri masih cukup rendah yakni mencapai 29,74 % dari Total Penduduk Kab. Sleman dengan total jumlah pelanggan sebanyak 40.417 Unit dengan rincian 39.515 unit kelompo Rumah Tangga, 340 unit kelompok sosial, 215 unit Instansi, 233 unit untuk Niaga/Industri dan Kran Umum sebanyak 94 unit.
Adapun cakupan wilayahnya saat ini PDAM Sleman melayani wilayah 16 Kecamatan dari 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman. Wilayah yang belum terlayani oleh PDAM Sleman adalah wilayah kecamatan Cangkringan.
Untuk itu, Dwi menargetkan dalam jangka waktu lima tahun ke depan, PUDAM Sleman mampu melayani air bersih kepada 68% warga Sleman. Target tersebut sekaligus untuk mendukung Gerakan 100-0-100 yang dicanangkan pemerintah. Yakni, 100% akses air bersih, 0% daerah kumuh dan 100% sanitasi yang baik.
“Target se kabupaten kami bisa melayani 68 persen atau bertambah sekitar 50.000 pelanggan baru, sisanya dilayani oleh SPAMDes dan non perpipaan secara mandiri,” katanya.
Ia menjelaskan, tidak mudah menambah 50.000 pelanggan dalam kurun waktu lima tahun. Alasannya, setiap tahun, PDAM Sleman rata-rata hanya melayani sekitar 2.500 pelanggan baru. Terutama dari masyarakat berpenghasilan rendah melalui program tarif murah. “Jika target ditingkatkan jadi 10.000 pelanggan tentu butuh kerja ekstra,” ujarnya.
Oleh karenanya, ia menyiapkan sejumlah upaya untuk mencapai target tersebut dengan menyiapkan kebijakan dan meningkatkan sarana dan prasarana. Dwi mengusulkan adanya regulasi pembatasan penggunaan sumber air dengan sistem bor. Hal ini bertujuan agar ketersediaan sumber air baku tidak terganggu.
“Aturan pembatasan ini juga diharapkan diterapkan di hotel, dan kawasan perumahan. Untuk menekan biaya produksi, kami sebisa mungkin menggunakan air permukaan untuk sumber,” katanya.
Untuk memenuhi penyediaan infrastruktur, ia akan bekerjasama dengan beberapa instansi seperti Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), dan DPUPKP Sleman. “Kami telah mengusulkan agar BBWSSO untuk menambah debit di dua titik berlokasi di Berbah, dan satu di Godean karena sumber airnya terbatas. Kepada DPUPKP untuk kami usulkan membangun jaringan distribusi utama. Mudah-mudahan bisa terlaksana tahun ini,” kata Dwi.
Penulis: Abi Abduljabar Siddiq
