Jakarta, TopBusiness – PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel berhasil melakukan strategi andal dalam menyikapi dampak pandemi Covid-19, sehingga kinerja bisnis dan layanan tetap berjalan optimal.
Sejak pandemi, Bank Kalsel ini fokus pada tiga strategi yang diturunkan dari dua strategi utama, yakni peningkatan transformasi digital atau IT Development sekaligus sebagai kesiapan memasuki era 4.0, serta Human Development melalui strategi peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) agar memiliki kemampuan layanan industri keuangan digital.
Strategi ini dilakukan juga sebagai respons adanya tren perubahan perilaku digital di kalangan masyarakat yang meningkat sejak wabah virus corona terjadi di Tanah Air. Sejak pandemi Covid-19 yang membatasi gerak masyarakat dan keharusan jaga jarak guna menghindari penularan virus, transformasi digital di kalangan masyarakat mengalami lompatan baru.
Banyak aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara konvensional melalui tatap muka, banyak bergeser ke ranah digital. Termasuk dalam melakukan transaksi pembayaran, layanan perbankan dan lainnya dengan memanfaatkan IT atau teknologi informasi.
“Menyikapi tuntutan perubahan prilaku digital di kalangan masyarakat, kami juga melakukan repositioning strategy untuk operasional dan layanan dengan memfokuskan pada pengembangan IT Development,” ungkap Direktur Operasional Bank Kalsel, Ahmad Fatrya Putra saat presenstasi dan wawancara “Top BUMD Awards 2021” yang diselenggarakan Majalah TopBusiness Jakarta, pada Senin (15/06) secara online.
“Dalam kaitan ini, SDM juga kami tingkatkan agar memiliki kompetensi lebih, terutama dalam kaitan layanan di industri keuangan digital ini. Apalagi Bank Kalsel juga sudah banyak merambah ke sistem aplikasi digital banking. Di antaranya terdapat layanan mobile banking, M-ATM, M-Banking, SMS Banking, dan layanan lainnya berbasis teknologi informasi,” imbuh dia.
Dengan strategi penguatan layanan berbasis digital ini, masyarakat atau nasabah bisa dengan mudah melakukan transaksi dan mendapatkan layanan Bank Kalsel meski sedang pandemi. Bahkan mereka atau nasabah, juga dapat melakukan berbagai transaksi, kapanpun dan dimanapun dengan perangkat mobile seperti smartphone.
“Melalui aplikasi digital, nasabah bisa melakukan transaksi cukup dengan menggunakan handphone dari manapun. Misalnya melalui SMS Banking, bisa melakukan cek saldo, transfer antar rekening Bank Kalsel, cek riwayat data transaksi dan lainnya. Jadi pandemi Covid-19, justru memacu Bank Kalsel untuk meningkatkan pelayanan dan kinerja, salah satunya melalui strategi digital baning ini,” ungkap Ahmad Fetrya Putra.
Saat itu, Ahmad Fetrya didampingi Fachrudin, Head of Business Group, Muhammad Dzulkarnain, Kepala Divisi Perencanaan & Kinerja, Teguh Sutriono, Kepala Divisi Manajemen Risiko & Kepatuhan, serta Noviar Ridhoni, Kepala Divisi Human Capital.
Melalui berbagai strategi tersebut dan sejalan dengan diberlakukan tatanan kenormalan baru (new normal), serta menggeliatnya perekonomian di Kalsel, hal ini juga berdampak pada aktivitas usaha Bank Kalsel yang tetap bisa bertumbuh stabil, mempertahankan kinerja. Hal ini bisa dilihat dari catatan performa Bank Kalsel yang tetap meningkat, seperti pertumbuhan Aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), layanan dan laba usaha menampilkan hasil yang positif hingga saat ini.
Bank Kalsel mencatat pertumbuhan aset yang positif selama 2018–2020, dengan nilai Aset 2020 mencapai Rp14,84 triliun. Secara Year on Year, Aset Bank Kalsel (Konsolidasi) tahun 2020 tumbuh sebesar 6,39% (Rp892 miliar). Laba dari tahun 2018 terus meningkat. Bank Kalsel mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp295,6 miliar di 2020 atau tumbuh 33,43% dari tahun 2019. Sedangkan laba bersih Bank Kalsel 2020 tercatat sebesar Rp215,8 miliar atau tumbuh 35,15% (yoy).
Demikian pula DPK Bank Kalsel mengalami peningkatan, dengan DPK 2020 mencapai Rp12,02 triliun. Untuk Year on Year, DPK Bank (Konsolidasi) tumbuh 9,57% (Rp1,05 triliun). Dari total DPK sebesar Rp12,02 triliun, komposisi Giro 34,89%, Tabungan 30,28% dan Deposito 34,83%.
Terkait fungsi intermediasi perbankan, terutama untuk mendukung ekonomi masyarakat melalui pembiayaan, ekspansi Kredit dan Pembiayaan konsisten tumbuh selama beberapa tahun terakhir. Tahun 2020 kredit & pembiayaan mencapai Rp11,19 triliun atau tumbuh 7,13% (Rp745 miliar) dari tahun sebelumnya meski di tengah pandemi COVID-19. “Dari total kredit dan Pembiayaan Tahun 2020 sebesar Rp11,19 triliun komposisi Kredit Modal Kerja sebesar 12,26%, Kredit Investasi 33,96%, dan Kredit Konsumtif 53,78%,” ujarnya.
Berkat kinerja yang tetap terjaga dan berbagai inovasi dan terobosan yang dilakukan ini, Bank Kalsel tahun ini menjadi salah satu finalias dan masuk nominasi 200 BUMD Terbaik, dari sekitar 1.150 BUMD di Indonesia di ajang penilaian atau corporate rating “TOP BUMD AWARDS 2021.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh majalah Top Business, bekerjasama dengan Institut Otonomi Daerah (i-OTDA) serta beberapa lembaga Tim Penilai seperti Lembaga Kajian NawaCita (LKN), SGL Management, PPM Manajemen, PT Sinergi Daya Prima, Dwika Consulting, Melani K Harriman & Associate, Solusi Kinerja Bisnis (SKB) serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Padjajaran Bandung, serta beberapa Lembaga lainnya.
Penulis: Ahmad Chury
