TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Keandalan PT MRT Jakarta Layak Jadi Benchmark Perusahaan Lain

Busthomi
25 June 2021 | 15:46
rubrik: BUMD, Event
Keandalan PT MRT Jakarta Layak Jadi Benchmark Perusahaan Lain

Jakarta, TopBusiness – Performa PT MRT Jakarta (Perseroda) sejauh ini memang tak cuma menampakkan kinerja keuangan yang masih bertumbuh, tapi secara operasional budaya kerja yang diusung manajemen sudah mengundang decak kagum. Kedisiplinan tinggi ala perusahaan Jepang, sebagai krediturnya, seolah terlihat nyata dari pelayanan yang disuguhkan pengelola Ratangga ini.

Budaya kerja yang diterapkan oleh PT MRT ini memang telah membuahkan hasil. Pasalnya, di tengah pandemi Covid-19, perusahaan masih bisa melenggang mulus dari aspek kinerja keuangan. Kendati pendapatan dari sisi ticketing anjlok, tapi dengan ide-ide cemerlang manajemen, kinerja MRT Jakarta tetap bertumbuh dengan mengandalkan sumber pendapatan lain.

Tak aneh, jika keandalan mereka pun diapresiasi Dewan Juri TOP BUMD Awards 2021 saat proses penjurian TOP BUMD Awards 2021 secara online, baru-baru ini. Bahkan tak tanggung-tanggung, kiprah PT MRT juga sekaligus membawa nama baik bangsa. Makanya, disebut Dewan Juri, jika kehebatan kendaraan roda dua dan empat Indonesia kalah dari negara lain, keandalan di laut juga kalah, pun demikian dengan di udara, maka keandalan PT MRT ini bisa menjadi kebanggaan Indonesia. Bahkan bisa lebih baik dari negara lain.

Tak hanya itu, Dewa Juri juga berharap budaya kerja yang ada di PT MRT Jakarta ini bisa ditularkan ke perusahaan lain. Sehingga tak aneh jika BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini bisa menjadi benchmarking perusahaan lain, baik BUMD, BUMN, maupun perusahaan swasta lain.

Budaya kerja yang sudah diusung PT MRT ini memang tak lepas dari visi dan misi perusahaan dan nilai utama perusahaan yakni I CAN (Saya Bisa) yaitu kepanjangan dari Integraty, Customer Focus, Achievement Orientation, dan Nurturing Teamwork.

Visi MRT Jakarta sendiri adalah, ‘Untuk menjadi penyedia sarana transportasi publik terdepan, ang berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan mobilitas, pengurangan kemacetan, dan pengembangan sistem transit perkotaan.’

Dengan Misi-nya adalah, ‘Untuk mencapai keunggulan yang berkesinambungan di semua hal yang dilakukan melelui: –Pengembangan dan pengoperasian jaringan transportasi publik yang aman, terpercaya, dan nyaman;  –Menghidupkan kembali lingkungan perkotaan melalui pegembangan transit perkotaan ternama; dan –Membangun reputasi sebagai pilihan dengan melibatkan, menginspirasi, dan memotivasi seluruh karyawan.

BACA JUGA:   Bupati Cilacap Dianugerahi TOP Pembina BUMD 2020

Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, lima tata nilai yang menjadi core value perusahaan tersebut disebut I CAN. Yaitu, Integrity, berarti setiap insan perseroan secara konsisten menampilkan sikap jujur dan “satu kata dengan perbuatan” sesuai dengan pedoman perilaku dan tata kelola perusahaan.

Lalu, Customer Focus, setiap insan perseroan menampilkan sikap proaktif dalam memahami, membantu, & melayani kebutuhan pelanggan serta membangun relasi yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan.

Achievement Orientation, berupa setiap insan perseroan memiliki semangat untuk berprestasi dan berani menghadapi tantangan dengan cara kerja yang efektif dan efisien. “Dan untuk Nurturing Team Work, berupa setiap insan Perseroan menghargai perbedaan & kontribusi setiap individu serta membangun komitmen untuk bersinergi secara produktif,” terang William.

Nilai I CAN ini dapat terwujud dengan adanya praktik good corporate governance (GCG) yang nilainya terus meningkat dalam setiap tahun. Hasil assessor dari BPKP Provinsi DKI Jakarta, di tahun 2019, yang merupakan tahun pertama PT MRT beroperasi, skornya 87,33 dengan predikat Baik, lalu di 2020 meningkat menjadi 90,13 atau predikatnya Sangat Baik.

Adapun untuk skor evaluasi Sistem Pengendalian Internal (SPI) dari 77,10 di tahun 2019, lalu meningkat menjadi 81,81 di tahun 2020 dengan predikat Efektif. Hal ini juga dilakukan oleh BPKP Provinsi DKI sebagai assessor-nya.

Selain itu, dalam rangka menggenjot tata kelola ini, untuk pengadaan barang/jasa menggunakan online system yang mencakup layanan e-procurment, MRT Marketplace, dan e-auction; diawasi oleh LKPP; menera[an SMAP ISO37001 hingga pihak ketiga (due diligence, komitmen SMAP); dan menerbitkan pedoman khusus terkait pengadaan barang/jasa pada masa pandemic Covid-19.

Dan sebagai perusahaan yang dalam operasionalnya tak lepas dari banyak risiko, maka mekanisme kepatuhan dalam perusahaan mengacu kepada ISO Sistem Manajemen Terintegrasi. Untuk ISO Sistem Manajemen Terintegrasi ini yaitu ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu, ISO 14001:2015 Sistem Manajemen Lingkungan, ISO 45001:2018 Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, dan ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan.

BACA JUGA:   GRC Summit 2024 dan GRC Lifetime Achievement Award 2024 Digelar di Yogyakarta

Performa Keuangan

Di tahun kedua operasionalnya, PT MRT memang harus dihadapkan dengan pandemi Covid-19. Kondisi tentu berdampak terhadap kinerja perusahaan. Dan yang paling terasa adalah penurunan jumlah penumpang. Di awal 2020 atau sebelum pandemi, penumpang MRT sempat menyentuh 88.444 atau tertinggi pada Februari 2020 lalu. Namun kemudian anjlok drastis hingga ke level 4.059 pada April 2020 lalu. Dan setelah itu rata-rata penumpangnya tak jauh dari belasan ribu.

Masing-masing adalah Mei (1.405), Juni (11.351), Juli (18.050), Agustus (16.927), September (12.992), Oktober (11.105), November (16.670), dan Desember (15.984).

“Jadi, total penumpang sejak 1 Janurai 2020 hingga 31 Desember 2020 sebanyak 9.926.513 penumpang dengan rata-rata harian sebesar 27.122 penumpang per hari,” jelas William.

Kondisi itu memang membuat pendapatan dari ticketing selama 2020 lalu cukup menyusut. Dari semula Rp191,56 miliar di 2019 menjadi Rp82,03 miliar per akhir 2020 lalu. Namun untungnya, dengan terobosan dan inovasi-inovasi manajemen, pendapatan non tiket selama 2020 lalu mencapai Rp382,68 miliar atau melonjak drastis dari tahun sebelumnya di posisi Rp207,61 miliar. Dengan pendapatan subsidi juga naik tipis dari Rp534,07 miliar menjadi Rp620,81 miliar.

“Sehingga pendapatan kami meningkat di 2020 lalu yaitu dari Rp933,23 miliar menjadi Rp1,086 triliun. Dengan raihan aset sepanjang 2020 lalu juga meningkat 6,01% dari Rp17,3 triliun menjadi Rp18,3 triliun. Ekuitas juga naik 8,51% dari Rp15,9 triliun menjadi Rp17,3 triliun. Dan positifnya lagi untuk liabilitas juga menurun 25,70% dari Rp1,35 triliun menjadi Rp1,03 triliun,” tutur William.

Namun begitu memang, dari sisi laba masih terkoreksi. Untuk laba kotor tercatat menurun 37% dari Rp172,8 miliar menjadi Rp108,8 miliar. Dengan total laba (rugi) komperehensif yang masih terkoreksi dari Rp146,7 miliar menjadi rugi Rp70,8 miliar. Namun angka itu jauh lebih kecil dari proyeksi RUPS November 2020 lalu yang sebesar Rp145 miliar.

BACA JUGA:   FOTO - Peluncuran Qoala Plus

Kinerja Bisnis

Kinerja bisnis MRT yang masih positif itu karena memang manajemen konsisten untuk menerapkan ide-ide cemerlang. Salah satunya dengan menggali pendapatan dari non ticketing. Cara yang dilakukan adalah, selain naming rights yang merupakan skema bisnis inovatif dimana kemitraan dibentuk antara PT MRT Jakarta dengan perusahaan-perusahaan terpilih dalam hal perolehan hak atas nama stasiun stasiun MRT Jakarta terpilih sesuai ketentuan, juga banyak area di stasiun MRT saat ni disulap jadi co-working space.

“Makanya dengan adanya pandemic ini, kami terus melakukan inovasi-inovasi lain. Salah satunya dengan adanya coworking space yang banyak kita buka di stasiun-stasiun. Ini juga untuk memfasilitasi para start-up yang ada. Ide-ide ini menjadi penting mengingat SDM kami ini sebanyak 90% di bawah umur 40 tahun. Jadi ini perusahaan milenial sekali,” tutur William lagi.

Dengan SDM yang andal itu, maka operasional PT MRT pun tetap menjadi jempolan. Hal ini terlihat dari masalah ketepatan waktu tempuh kereta yang poinnya sampai 99,98%, lalu ketepatan waktu berhenti 99,98%, dan ketepatan waktu kedatangan 99,97%.

Selain itu, dibanding dengan kinerja beberapa industri lainnya berdasar analisis MarkPlus terkait Customer Satisfaction Index (CSI) 2020 juga sangat baik. Di mana MRT Jakarta dapat nilai 86,6 poin, unggul dari Multifinance (81,7), Transportasi penyebarangan (81,2), Transportasi penerbangan (84,7) dan hanya kalah dari Asuransi (95,5).

Maka dari itu, untuk pencapaian target kinerja selama 2020 lalu tersebut untuk skor KPI perspektif financial 36,22% dari target 34%, skor KPI perspektif custormer di posisi 27,59% (26%), skor KPI perspektif internal business process di angka 30,55% (30%), dan skor KPI perspektif learning and growth di posisi 10,64% dari target di 10%. “Dengan total pencapaian KPI korporasi di tahun 2020 itu di angka 105,00%,” pungkas dia.

FOTO: TopBusiness

Tags: PT MRT JakartaTOP BUMD Awards 2021
Previous Post

Kewajiban Neto RI Tercatat Menurun

Next Post

Technical Rebound Naungi IHSG

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR