Jakarta-Thebusinessnews. Kinerja Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai lamban dalam menanggapi perlambatan ekonomi saat ini. Karena terlalu bergantung akan kebijakan yang di keluarkan Bank Central Amerika Serikat The Federal Reserves.
Pandangan itu disampaikan,Anggota Komisi XI DPR RI,Airlangga Hartarto di depan diskusi panel Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia.”Agak disayangkan memang kedua otoritas keuangan kita (BI & OJK)kerjanya hanya menunggui hasil FOMC atau sidang dewan gubernur the Fed saja,”ujar dia,di Jakarta,Kamis, 5 Nopember 2015.
Ia menyanyangkan sikap itu, sebab kalau hanya itu yang bisa dilakukan oleh BI dan OJK mengapa tidak kontrak manajemen dengan The Federal Reserves (The Fed).” Sehingga kita tidak usah pusing pusing mikir,” ujar dia.
Lebih buruk lagi banyak pernyataan dari pemangku kebijakan kedua otoritas keuangan itu malah menyarankan segera menaikan suku bunga acuan The Fed sebab akan memberi kepastian kepada pasar. Pandangan itu dinilai keliru sebab bisa membuat kian anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).sebab akan ada aliran modal asing yang keluar dari “Bisa bubar pasar modal kita. Makanya mereka harus belajar ilmu ekonomi lagi” ujar ketua Dewan Pembina Asosiasi Emiten Indonesia itu.
Seperti diketahui IHSG pada bulan Maret 2015 sempat menyentuh level 5400, namum setelah itu merosot hingga ke level 4600 perdagangan pagi ini .
Sementara dalam kesempatan yang sama Ekonom CORE Hendri Saparini menyatakan sebaiknya Bank Indonesia mengambil kebijakan penurunan suku bunga acuannya. Sebab sinyal postive dari sektor riil dengan keluarnya lima paket kebijakan pemerintah.”Sektor riil harus diberi insentif penurunan suku bunga sebab masyarakat membeli kendaraan maupun tempat tinggal dengan cara kredit.”ujar dia. (Az)