TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Hingga Akhir September, Kinerja Ekspor Tumbuh 29,16%

Busthomi
5 November 2021 | 16:01
rubrik: Ekonomi
Tarif Impor 1.147 Produk Dinaikkan Hingga 10 Persen

aktivitas ekspor dan impor barang di pelabuhan/foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Di tengah tertahannya permintaan domestik, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menyebut, perdagangan internasional melanjutkan pertumbuhan yang tinggi. Kinerja ekspor mampu berkontribusi signifikan terhadap keseluruhan ekonomi di periode kuartal III-2021 ini dengan terus tumbuh positif sebesar 29,16% (yoy).

“Momentum pemulihan permintaan ekonomi global yang diikuti dengan kenaikan harga komoditas menjadi faktor utama yang mendorong kinerja ekspor tetap tangguh di tengah dinamika penyebaran Varian Delta dan penerapan PPKM di dalam negeri,” urai dia, di Jakarta, Jumat (5/11/2021).

Di sisi lain, kinerja impor juga tumbuh tinggi mencapai 30,11% (yoy). Penguatan aktivitas impor juga tercermin dari indikator penerimaan bea masuk yang hingga 30 September 2021 tumbuh 13,7% (yoy). Dengan impor yang didominasi oleh barang modal dan bahan input, impor yang tumbuh kuat mengindikasikan aktivitas produksi pada periode berikutnya yang juga akan menguat.

Dari sisi produksi, sejalan dengan tingginya aktivitas ekspor, sektor Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Pertambangan, produksi mampu tumbuh cukup kuat masing-masing sebesar 3,68%, 5,16%, dan 7,78% (yoy).

Sementara itu, seiring dengan keberlanjutan proyek-proyek strategis nasional, sektor konstruksi tumbuh 3,84% yoy. Geliat sektor strategis ini juga memberikan implikasi positif pada penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut. Sektor industri pengolahan menjadi sektor dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terbesar atau 1,22 juta pekerja hingga Agustus 2021.

Adapun sektor perdagangan mampu menyerap 1,04 juta tenaga kerja pada periode yang sama. Namun demikian, terdapat beberapa sektor yang terdampak langsung oleh eskalasi kasus Varian Delta COVID-19, khususnya sektor yang menunjang aktivitas pariwisata seperti pertumbuhan Transportasi dan Pergudangan serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang sedikit terkontraksi, masing-masing tumbuh sebesar -0,72% dan -0,13% (yoy).

BACA JUGA:   Pasar Modal Siap Berkontribusi ke Pertumbuhan Ekonomi di 2023

Varian Delta

Dari sisi global, penyebaran Varian Delta juga menahan kinerja ekonomi di hampir seluruh negara. Hal ini termasuk kinerja ekonomi mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa masing-masing tumbuh 4,9%, 4,9%, dan 3,9% pada Triwulan III-21 atau jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Triwulan II-21 yang masing-masing tumbuh 12,2%, 7,9%, dan 13,7%.

Selain faktor Varian Delta Covid-19, disrupsi global sisi produksi juga menyebabkan tertahannya kinerja pemulihan ekonomi dunia, tercermin dari naiknya indeks harga produksi dunia akibat kenaikan harga energi, biaya pengiriman, dan kelangkaan komponen pada sektor manufaktur.

Ke depan, pemulihan ekonomi diharapkan terus menguat hingga akhir 2021 seiring kondisi pandemi yang relatif terjaga dan percepatan pelaksanaan vaksinasi. Optimisme ini juga didasarkan pada tren pergerakan berbagai indikator, seperti indeks mobilitas masyarakat dan indeks belanja masyarakat yang sudah kembali di atas level pre-pandemi sejak akhir September 2021, serta indeks PMI Manufaktur Indonesia yang mampu kembali mencatatkan rekor tertinggi pada level 57,2 di bulan Oktober.

“Implementasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga akan semakin diperkuat untuk mengakselerasi pemulihan khususnya dalam rangka mendorong penciptaan tenaga kerja dan menstimulasi aktivitas dunia usaha yang terdampak,” terang Febrio.

Tentu saja, kemajuan percepatan vaksinasi akan menjadi faktor penting untuk mendorong kepercayaan pelaku ekonomi. Per tanggal 4 November, total vaksinasi tercatat telah melampaui 200,7 juta dosis (termasuk vaksin booster) dan menjangkau sekitar 37% total penduduk Indonesia.

Capaian kinerja ekonomi triwulan III 2021 menunjukkan bahwa dampak ketidakpastian yang ditimbulkan pandemi masih cukup tinggi dengan kemungkinan terjadinya mutasi baru virus Covid-19. Oleh karena itu, aspek penanganan kesehatan akan selalu menjadi prioritas.

BACA JUGA:   Investor Tetap Optimis ke Pemulihan Ekonomi RI

“Meski kondisi pandemi saat ini relatif terkendali, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat masih terdapat potensi penyebaran dari varian virus baru yang dapat menyebar setiap saat”, tutup Febrio.

Peran serta masyarakat dalam penerapan disiplin protokol kesehatan dan partisipasi dalam program vaksinasi sangat krusial agar Indonesia segera terbebas dari pandemi serta laju pemulihan ekonomi semakin kuat dan berkelanjutan.

FOTO: Istimewa

Tags: BKFkinerja eksporpertumbuhan ekonomi
Previous Post

WIKA Serahkan Bantuan Saluran Irigasi Tirta Wanagama Abadi

Next Post

Akhir Pekan, IHSG Terealisasikan Ambil Untung

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR