Jakarta, TopBusiness – Pandemi covid-19 menjadi pukulan berat bagi sebagian besar pelaku usaha Bali, tak terkecuali dialami Perumda Air Minum Tirta Sanjiwani Kabupaten Gianyar. Apalagi sebagian besar pelanggan industri dan pelaku pariwisata yang jadi salah satu andalan pendapatan perusahaan, juga mengalami tekanan berat, bahkan tak sedikit yang gulung tikar.
“Sejak pandemi Covid-19, sektor wisata yang selama ini jadi andalan bagi roda ekonomi masyarakat di Bali, mengalami penuruan tajam, bahkan banyak yang tidak bisa bertahan. Keleseuan pariwista wisata ini, juga berdampak luas bagi semua pelaku usaha yang ada. Hal ini pun juga kami alami, sehingga harus kerja keras untuk menyiasati situasi sulit ini agar usaha tetap bisa bertahan dan bisa meningkatkan eksistensinya,” ungkap Direktur Utama Perumda Tirta Sanjiwani, Made Sastra Kencana saat presentasi dan wawancara Penjurian TOP BUMD Awards 2022 secara virtual pada (28/03/2022) yang diselenggarakan oleh Majalah Top Business bekerja sama dengan Institut Otonomi Daerah (i-OTDA).
Perumda Air Minum Tirta Sanjiwani Kabupaten Gianyar (Perumda Air Minum Tirta Sanjiwani (PAM-TS atau PDAM Gianyar), tahun ini kembali masuk sebagai salah satu finalis ajang penilaian untuk penghargaan “TOP BUMD Awards 2022”, di Jakarta terutama dari aspek keberhasilan dalam melakukan strategi dalam menyikapi situasi sulit akibat pandemi Covid-19, sehingga tetap bisa eksis, tanpa ada PHK, dan terus bisa menjaga kualitas pelayanan bagi para pelanggan. Bahkan perusahan juga tetap bisa menyisihkan laba untuk setoran ke Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dalam paparannya disebutkan, meski tak luput dari dampak pandemi covid-19, namun secara umum PERUMDA Air Minum Tirta Sanjiwani masih tetap bisa mempertahan eksistensi dan kinerja usaha. Berdasarkan penilaian kinerja berdasarkan Kepmendagri Nomor 47 Tahun 1999 terhadap kinerja PERUMDA Air Minum Tirta Sanjiwani, meraih nilai kategori “Baik”.
Penilaian dilakukan dengan berdasarkan 3 aspek kinerja, yaitu indikator Keuangan, Operasional, dan Administrasi, menunjukkan bahwa capaian nilai kinerja Tahun 2021 sebesar 71,51 (BAIK).
“Hasil kinerja mengalami kenaikan sebesar 2,96 dibandingkan capaian kinerja tahun 2020 sebesar 68,55 dengan mempertahankan aspek keuangan dan meningkatkan kinerja aspek operasional serta aspek Administrasi,” ujarnya.
Sedangkan penilaian berdasarkan Indikator Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Hasil Penilaian Tingkat Kesehatan PAMTS dengan meraih kategori “Sehat” berdasarkan 4 Aspek (Keuangan, Operasional, Pelayanan, dan Sumber Daya Manusia).
“Hasil penilaian menunjukkan bahwa capaian nilai kinerja Tahun 2021 sebesar 3,520 atau ada kenaikan sebesar 0,01 dibandingkan capaian kinerja Tahun 2020 sebesar 3,495,” ujarnya di depan tim Dewan Juri (Eri Sumiarso- CeoSinergi Daya Prima-SDP, Sri Nitiswati- Lembaga Kajian Nawacita-LKN, serta Lim Kurniawan Ceo dan Founder Awasome Business Consluling).
Pencapaian ini, lanjutnya, tidak tidak terlepas dari berbagai strategi, terobosan serta kerja keras seluruh jajaran di PERUMDA Air Minum Tirta Sanjiwani. Dalam hal ini, manajmen di antaranya melakukan efisiensi di semua lini, termasuk pengguna listrik, optimaliasi potensi usaha, dan lainya dengan tetap mengedepankan kualitas pelayanan pelanggan.
Andalkan TI
Untuk memudahkan layanan, sejak pandemi Covid-19, perusahaan mengembangkan layanan berbasis online system. Melalui sistem online, pelanggan di antaranya dapat melaksanakan pembayaran di bank, Kantor Pos, Indomaret dan lainnya tanpa harus datang ke loket pembayaran PDAM.
Saat ini, PDAM sedikitnya memiliki 12 modul sistem keuangan online yang semuanya saling terintegrasi. Melalui medsos (FB, IG, Website, WhatsApp) pelanggan juga bisa melakukan pengaduan dan penyampaian informasi ke perusahaan, sehingga jika ada gangguan di pelanggan, bisa dilakukan penanganan lebih cepat di lapangan.
Melalui dukungan TI, perusahaan melakukan upaya penurunkan Air Tanpa Rekening pada 20 zona pilihan/prioritas dengan keberlanjutan Active Leakage Detection (ALD) untuk fisik berbasis TI. Melakukan pemantauan real time dan non fisik (sweeping illegal tapping) serta efisiensi energi berbasis TI.
Di samping melakukan efisiensi, PDAM Tirta Sanjiwani mengembangkan air minum dalam kemasan. Jadi, PDAM Tirta Sanjiwani melayani air minum dalam saluran pipa maupun kemasan untuk masyarakat Kabupaten Gianyar.
Dalam rangka menjaga cash flow, perusahaan juga melakukan efektifitas penagihan secara inklusif menggunakan Metode Home Visit / Jemput Bola, Metode PPOB bertahap dengan menggantikan loket pembayaran di kantor wilayah pelayanan PAMTS.
“Sejak pandemi Covid-19, kami banyak mengembangkan sistem aplikasi Teknologi Informasi (TI). Termasuk layanan permohonan sambungan bagi pelanggan baru, layanan keluhan atau laporan gangguan dari pelanggan, dan juga kemudahan untuk pembayaran rekening air. Kami kembangkan sistem pembayaran rekening air secara online melalui bank (m-banking, ATM, Virtual Account), dan Kantor Pos Indonesia (Pos Pay, agen-agen Pos).”
“Salain itu, menyiasati pelanggan enggan bayar tunggakan, kami juga melakukan kerja sama dengan Kejaksaan Negeri Gianyar di bidang Perdata, Tata Usaha Negara, terutama untuk penagihan piutang rekening tak tertagih,” terangnya.
Meski demikian, pandemi covid-19 diakui memang menjadi tekanan yang cukup berat bagi perusahaannya. Betapa tidak, akibat krisis pandemi ini, Perusda Air Minum Tirta Sanjiwani Gianyar, kehilangan pendapatan sekitar Rp1 miliar per bulan. Hal ini disebabkan karena banyak pelanggan yang berhenti berlangganan karena tidak mampu membayar.
Selain itu, ada juga pelanggan yang mengubah golongan, dari yang awalnya golongan niaga, beralih ke golongan rumah tangga, guna menekan biaya, sehingga berpengarh terhadap penurunan pendapatan perusahaan.
Salah satu zona yang mengalami hal ini yang juga menyebabkan pendapatan Perusda Tirta Sanjiwani berkurang adalah daerah Ubud. Pendapatan di Ubud, dari sebelumnya krisis akibat pandemi Rp1,5 miliar per bulan, menjadi sekitar Rp 1 miliar. Itu karena mereka banyak yang turun golongan, dari niaga ke rumah tangga.
Menyadari kondisi sulit yang ada, perusahaan juga memberikan kelonggaran dan kemudahan bagi pelanggan. Misalnya untuk mengurangi beban masyarakat di tengah pandemi, PDAM melaksanakan terminasi, artinya tidak melakukan pemutusan jika ada pelanggan terlambat membayar kewajibannya.
“Jika pelanggan menunggak, kami berikan kebijakan relaksasi pembayaran misalnya dengan membayar dicicil. Begitu pula terkait sambungan baru, pelanggan cukup mengajukan permintaan dan membayar deposit, sisanya dapat diangsur,” ungkapnya.
Di tengah kondisi ini sulit ini, perusahaan juga tetap bisa memberikan kontribusi ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gianyar meski jumlah nominalnya sejak pandemi ini juga turun. “Waktu belum pandemi kami dapatkan laba Rp 7 miliar dan kita waktu itu bisa menyetor ke PAD sebesar Rp4,2 miliar.Tahun 2020, laba kita turun, sehingga tahun lalu kita hanya bisa nyetor PAD sekitar Rp825 juta,” ujarnya.
Penulis: Ahmad Chury
