(bagian pertama dari tiga tulisan)
Semester II tahun 2022 bakal menjadi tonggak penting dalam perjalanan bisnis PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT Inti. Setelah bergulat selama hampir tiga tahun untuk keluar dari krisis, performa bisnis BUMN sektor telekomunikasi ini digadang-gadang bakal tumbuh cepat mulai paruh kedua tahun ini.
Mulai menakhodai PT Inti pada Oktober 2019, Otong Iip selaku direktur utama perseroan tidak saja diwarisi kondisi perusahaan yang nyaris bangkrut akibat amburadulnya manajemen sebelumnya, tapi juga menghadapi dampak pandemi covid-19.
“Bulan madu saya di sini hanya sekitar lima bulan, Oktober 2019 masuk, lalu bulan Maret 2020 sudah covid. Dan kita saat itu tidak punya uang sepeserpun. Tapi Alhamdulillah dengan berbagai upaya dan strategi, melibatkan semua karyawan dengan perannya masing-masing akhirnya menghasilkan performa bisnis yang terus bertumbuh, walaupun masih negatif,” kata Oip ketika ditemui redaksi TopBusiness di kantornya di bilangan, Kota Bandung, Kamis (17/6/2022).
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada PT Inti sebelum Oip masuk? Secara panjang lebar dia bercerita dari kejayaan PT Inti sekitar tahun 2010 hingga nyaris bangkrut karena menanggung utang hingga Rp 1,6 triliun dan kinerja perusahaan yang terus merugi.
Awal dekade 2010, menurut Oip, PT Inti menjadi BUMN dengan performa yang sangat sehat. Di antara perusahaan ‘pelat merah’ di bawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), PT Inti menjadi BUMN paling kaya mengalahkan PT Pindad dan PT Len. “Cashflow kami paling banyak uangnya di antara BUMN yang masuk BPIS,” tuturnya.
Baca juga Transformasi Radikal, Kunci Membereskan PT Inti
Terpukul Liberalisasi
PT Inti saat itu juga banyak dipercaya customer. Salah satu yang cukup besar menyumbang revenue ke perusahaan adalah kontrak dari PT Telkom untuk membangun Sentra Teknologi Digital Indonesia (STDI) di seluruh wilayah Indonesia. PT Inti menangani dari mulai pengadaan manufakturnya, menginstal, serta memelihara fasilitas jaringan telekomunikasi di proyek STDI.
“Setelah masa 10 tahun selesai, keluar PP No 39 tentang liberalisasi telekomunikasi. Itulah cikal bakalnya produk telekomunikasi dalam negeri kalah saing dengan produk China,” tutur dia.
Serbuan produk-produk telekomunikasi China ke Indonesia makin massif setelah 2020. Ditambah lagi, adanya kerja sama perdagangan Asean-China yang membuat produk Negeri Tirai Bambu yang masuk ke negara-negara Asean dikenai bea 0 persen. “Udah liberal, tambah bebas lagi,” ucapnya.
Selama ini, kata Oip, pihaknya melakukan kerja sama manufaktur produk telekomunikasi dengan negara Eropa yang mementingkan kualitas produk. Sebab itu, produk pesawat telepon rumah buatan PT Inti kualitasnya sangat bagus, awet bertahun-tahun tidak rusak.
“Tiba-tiba datang produk China dengan tampilan yang bagus, banyak pilihan warna, fiturnya bermacam-macam dan harganya setengah dari produk dalam negeri, walaupun kualitasnya jelek, lima bulan sudah rusak. Ternyata masyarakat kita lebih senang produk yang murah dibandingkan produk dengan kualitas bagus,” ungkap Oip.

Tidak hanya di Indonesia, fenomena serbuan produk telekomunikasi China juga terjadi di Eropa. Celakanya lagi, PT Inti saat itu hanya punya satu model telepon rumah. Sebagai manufaktur produk telekomunikasi, Oip menilai PT Inti terlambat menyesuaikan dengan perubahan kondisi pasar. Pemerintah juga tidak memberikan proteksi, sehingga ada beberapa proyek yang miss diikuti oleh PT Inti.
“Kondisi ini terakumulasi, puncaknya tahun 2019, perusahaan dibebani utang Rp 1,6 triliun, cashflow negatif akibat kerugian. PT Inti juga banyak menghadapi masalah hukum, pekerjaan proyek banyak yang mangkrak, uang tidak ada, kemudian ditipu orang juga. Ada proyek Rp 200 miliar, tapi tidak bayar. Kontrol dari manajemen kurang karena mereka panik setelah masa keemasannya lewat setelah liberalisasi, banyak proyek-proyek yang rugi, manufaktur juga ditinggalkan,” papar Oip yang sebelumnya berkarir sekitar 30 tahun di PT Telkom.
Ketika ditunjuk oleh menteri BUMN menjadi dirut PT Inti, Oip memang sedikit banyak mengetahui adanya krisis di perusahaan ini, sehingga diminta membereskan masalah tersebut. Awal masuk PT Inti, Oip pun langsung melihat laporan keuangan perusahaan dan yang terjadi ternyata jauh lebih besar dari yang ia perkirakan.
Baca juga Terapkan GRC, Performa Bisnis PT Inti pun Melesat
“Jadi sekarang kita membereskan masalah-masalah yang terjadi di masa lalu, sekaligus me-recover untuk kita ke depan. Secara technically tahun 2019 perusahaan sudah bangkrut, karena ekuitas perusahaan negatif, modal kerja tidak ada, jadi kalau ada pekerjaan pun tidak bisa dikerjakan,” katanya.
Oip menilai bahwa krisis besar yang ia hadapi di PT Inti ada dua. Pertama krisis kepercayaan dari seluruh stakeholder dan kedua krisis motivasi dari karyawan. “Itu yang harus saya selesaikan lebih dulu, makanya saya pertama datang itu membereskan bagaimana seluruh stakeholder, terutama karyawan dan customer itu diberikan insight bahwa PT Inti akan melakukan transformasi. Setelah dua itu bergerak, yang lain relatif lebih mudah,” paparnya.
Tiga Fase
Dalam transformasi ini, menurut Oip, ada tiga fase atau tahapan yang dilalui PT Inti, yaitu fase bangkit, fase tumbuh, dan fase akselerasi. Fase bangkit itu dimulai ketika ia menjabat hingga akhir 2020, kemudian masuk fase tumbuh yang seharusya sampai akhir 2021. “Tapi karena covid berkepanjangan jadi fase tumbuh ini kita extend satu tahun hingga akhir 2022,” ucapnya.
Pada fase bangkit dan tumbuh ini, manajemen PT Inti berupaya memperkuat fundamental perusahaan. Setelah fundamentalnya kuat, PT Inti pada awal 2023 diharapkan sudah memasuki fase akselerasi bisnis. “Tapi saya mau curi start pada semester II 2022 ini sudah masuk masa akselerasi,” ungkap Oip.
Ada alasan tersendiri mengapa fase akselerasi baru dilakukan setelah hampir tiga tahun menakhodai PT Inti. “Kalau saya melakukan akselerasi dua tahun lalu, ibaratnya mobil bobrok digas kenceng sampai 200 Km per jam, bisa amburadul. Saya harus yakinkan dulu, saya reparasi dulu, overhaul dulu, turun mesin dulu, yakin semuanya beres baru kita geber,” tuturnya.
Setelah fase akselerasi berjalan sukses, Oip berencana menjadikan PT Inti sebagai perusahaan publik yang melantai di pasar modal pada tahun 2025. “Jika itu terwujud, kita sudah masuk tahap Inti Bangga, karena kita sudah bisa keluar dari krisis, bisa tumbuh dan bisa listed menjadi perusahaan publik,” kata lelaki berusia 57 tahun ini.
