TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Transformasi Radikal, Kunci Membereskan PT Inti

Nurdian Akhmad
22 June 2022 | 08:03
rubrik: BUMN, Business Info, Ekonomi
Transformasi Radikal, Kunci Membereskan PT Inti

Wawancara redaksi TopBusiness dengan Dirut PT Inti (Persero) Otong Iip di Kantornya, Jl Moh Toha, Bandung.

 (bagian dua dari tiga tulisan)

Membereskan masalah kronis yang sudah terakumulasi di PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) alias PT Inti tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Perlu langkah-langkah terobosan yang luar biasa. Transformasi yang dilakukan pun tidak bisa parsial, tapi harus dengan transformasi radikal.

Hal ini disadari betul oleh Otong Iip alias Oip saat ditunjuk menjadi direktur utama PT Inti pada Oktober 2019. Oip yang berkarier sekitar 30 tahun di PT Telkom Indonesia Tbk ini mengaku sering ditempatkan di unit-unit yang juga melakukan transformasi. Tapi transformasi yang dilakukan di PT Telkom hanya sepenggal-sepenggal, misalnya terkait bisnis saja, sumber daya manusia (SDM), operasional, atau keuangan saja. “Kalau di PT Inti semuanya. Transformasinya radikal,” ucap Oip dalam perbincangan dengan TopBusiness di kantornya di Bandung, Kamis (16/6/2021).

Terkait transformasi bisnis, Oip membongkar habis portofolio bisnis PT Inti yang sebelumnya sistem palugada. Semua tender diikuti sehingga PT Inti tidak memiliki  core business.

(Palugada adalah sebuah istilah populer dalam dunia bisnis di Indonesia untuk menyebut model usaha yang tidak membatasi penawaran pada satu jenis barang atau jasa. Model bisnis ini melihat apa saja permintaan pasar dan mengambil bermacam kesempatan bisnis dari permintaan tersebut).

Portofilo bisnis PT Inti dirombak menjadi MSDM. M pertama adalah manufaktur diaktifkan lagi, karena perusahaan punya kompetensi dan pengalaman panjang di sektor tersebut. “Walaupun manufaktur marginnya tidak besar, tapi ini bisa menjadi anchor atau trigger untk mendapat portofolio yang baik,” ucapnya.

Kedua adalah S atau System Integrator yang tetap dijalankan tapi selektif di area-area yang marginnya bagus dan punya core competencies, serta ada relasi dengan manufaktur. Sedangkan D adalah digital servis. “Ini dilakukan karena produk-produk yang kita buat itu produk-produk IT yang selalu butuh tumpangan aplikasi,” kata Oip.

BACA JUGA:   35 Negara Pelajari CIVD, Terobosan Transformasi Digital Industri Hulumigas

Keempat adalah Maintenance service. PT Inti tidak hanya mampu membuat produk dan memasang serta ada unsur aplikasinya, tapi juga bisa memelihara. “Itu semua kita sebut integrated value chain, semua terintegrasi.  Kompetensi itu yang tidak dimiliki perusahaan lain,” tuturnya.

PT Inti juga membagi empat segmen konsumen yaitu Telco (telekomunikasi), Enterprise (perusahaan-perusahaan terseleksi kelas A), Government (Kementerian/Lembaga), Defence (pertahanan dan keamanan). Dari segmen tersebut baru kemudian dibuat struktur organisasi perusahaan yang mendukung. “Untuk di bisnis kita customer centric, sedangkan di operasi itu product centric,” kata Oip.

Manajemen juga menetapkan struktur organisasi perusahaan berdasarkan peranan dan fungsinya. Layer atas ditempati bagian bisnis, layer tengah bagian operasional, dan layer bawahnya bagian IT, SDM, procurement, dan keuangan. Dengan struktur ini, masing-masing layer punya peranan dan fungsi untuk mendukungkinerja perusahaan dan ada saling check and balance.

“Ini mengubah struktur organisasi sebelumnya yang SBU-SBU (strategic business unit)  sehingga membuat loss control. Even direksi pun sulit mengontrol karena semua berada SBU, memutuskan A sampai Z di sana. Kayak negara federasi lah. Itu semua kita bongkar ogranisasinya,” papar Oip.

Baca juga Sukses Lewati Masa Krisis, PT Inti Siap ‘Gas Pol’

Transformasi juga dilakukan di bagian SDM. Ini tidak mudah karena sebelumnya karyawan berada di SBU-SBU. Dengan organisasi baru, manajemen memilah-milah SDM berdasarkan kompetensinya mengikuti MSDM.

“Mana yang kompetensinya di manufaktur dan assembling, mana yang masuk sistem integrator, dan mana yang digital servis. Dari profiling SDM ini, ada dua atau tiga solusinya. Kekurangan dari kebutuhan ini kita rekrut, kita upgrade SDM, atau dilakukan mutasi,” kata dia.

Terkait transformasi bisnis, manajemen PT Inti membuat smart partnership yang merupakan bagian dari kolaborasi bisnis. Untuk customer, pihaknya membuat agar kerja sama dengan customer bisa jangka panjang.

BACA JUGA:   Mandiri Sekuritas Rekomendasi Buy Saham JSMR, Cermati UNVR

“Bagaimana memenuhi kebutuhan customer dan memberikan value kepada customer. Efisiensinya bagaimana, juga kualitas produknya. Alhamdulillah tahun lalu saja PT Inti memberikan kontribusi berupa penghematan kurang lebih Rp 300 miliar ke PT Telkom,” ungkap Oip.  

Penghematan itu berasal dari refurbis perangkat Indihome. Sebelumnya, set top box pelanggan lama  biasanya tidak diambil ketika sudah tidak menjadi pelanggan. “Barang tersebut kita ambil, kita refurbis seperti baru lagi. Telkom cukup bayar seperempat dari harga baru,” ucapnya.  

Untuk memperluas pelanggan, PT Inti membuat reseller. Sebelumnya, perusahaan hanya punya satu account manager yang menangani secara nasional. Hal tersebut jelas tidak bisa maksimal menjangkau pelanggan. Telkom Group saja punya sekitar 1.000 account manager, sehingga bisa menjangkau pelanggan seluruh daerah di Indonesia. 

“Akhirnya kita buat reseller, ada distributor dan agen, jadi mereka yang gencar jualan. Terbukti dengan begitu mulai ada banyak peluang-peluang bisnis yang masuk,” kata Oip.

Inovasi juga dilakukan terkait procurement dalam sebuah proyek. Diakui, akibat krisis, PT Inti tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai sebuah proyek. Tapi perseroan bisa sukses menuntaskan proyek, misalnya proyek Telkom senilai ratusan miliar rupiah karena menerapkan sistem procurement.

Baca jugaTerapkan GRC, Performa Bisnis PT Inti pun Melesat

“Dalam sebuah proses kerja, saya pilah mana yang strategik, itu kita pegang. Seperti survei design, project manager, control atau pengawasan, reporting itu semua dipegang oleh PT Inti. Tapi untuk pengadaan seperti materialnya kita serahkan ke partner, jadi kebutuhan seperti biaya orang mereka yang nanggung. Itu sangat membantu sekali. Proyek senilai Rp 110 miliar di Sumatera dalam waktu setahun Alhamdulillah bulan ini sudah selesai semua dan dinilai dengan baik oleh PT Telkom, padahal kita tidak punya uang sepeser pun,” paparnya.

BACA JUGA:   Kinerja ESG Terbaik di Indonesia, ITM Andalkan Program CSR Pendidikan, Lingkungan, dan Pemberdayaan

Tapi, kata Oip, pihaknya tidak sembarang dalam procurement ini. PT Inti mengecek betul kemampuan teknis dan kemampuan keuangan dari partner.

Sebagai perusahaan informasi dan teknologi (IT), PT Inti tidak bisa berhenti berinovasi dan melakukan pengembangan.  Sebab itu, PT Inti menggandeng BPPT, Lapan, dan kampus ITB. “Mereka punya dana riset, sehingga kita bisa melakukan riset gratis dengan menggandeng institusi tersebut. Itulah lima pilar yang saya sebut smart business partnership,” ujarnya.

Tags: PT IntiPT Inti (Persero)
Previous Post

Cluster Baru Diluncurkan di Jakarta Garden City

Next Post

Saham XL, Pilihan Hari Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR