Jakarta, TopBusiness – Di awal-awal pandemi Covid-19 lalu, hampir semua perusahaan dari berbagai sektor merasakan dampak negatifnya. Apalagi seiring dengan adanya pembatasan mobilitas masyarakat, beberapa perusahaan di sector makanan-minuman dan transportasi yang paling berat merasakan dampaknya.
Namun kini, usai dua tahun berlalu banyak perusahaan yang ternyata bisa survive hingga kini. Dan bahkan mampu mencatatkan kinerja yang lebih baik berkali-kali lipat dibanding periode sebelumnya. Tiga di antaranya adalah PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Blue Bird Tbk (BIRD).
Keberhasilan mereka mengarungi badai pandemi tersebut terungkap dalam diskusi Emiten Talk Seri 2: “Pandemi Beranjak, Mobilitas Menanjak, dan Emiten-Emiten Kian Melonjak,” di Monsieur Spoon Pacific Place SCBD, Jakarta, Kamis (11/8/2022).
Menurut Hendrik Alexander Mboi, COO ENAK, di awal pandemi, perusahaan merasakan dampak yang sangat besar mengingat sebanyak 90 persen dari outlet yang mereka miliki berada di mal atau pusat perbelanjaan. Namun dengan efisiensi dan kesolidan manajemen dan karyawan, pihaknya bisa menyiasati pandemi dan berhasil dengan baik.
“Kami lumayan terkena dampak. Karena 90 persen outlet tersebar di mal-mal. Tapi kami cukup beruntung, beberapa tahun terakhir, kantor dan jumlah karyawan tetap solid menghadapi pandemi ini,” cerita Alex.
Bagi dia, ada dua kunci utama yang membuat perseroan yang menaungi merk resto “Gokana” dan “Croco” ini berhasil melewati pandemi dengan berkinerja menjadi lebih baik. Pertama, soliditas tingkat manajemen top sampai karyawan yang tersebar di lapangan. Yaitu, bagaimana mengkomunikasikan keputusan level atas terhadap 6.000 karyawan yang tersebar di 300 kantor seluruh negeri.
“Kami beruntung karena kesadaran tim di lapangan sangat solid. Masalah ini dihadapi secara kolektif. Jujur, sales kami pada April (2021) hanya 3 persen dari average (rata-rata). Tapi syukurnya tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tidak ada pemotongan kontrak,” jelas dia.
Faktor kedua, sebut Alexander, hubungan baik dengan pihak eksternal terjalin dengan positif. Baik itu supplier, pemasok, lembaga perbankan, dan lain-lain. ”Tidak disangkal relasi baik dengan pihak eksternal benar-benar sangat membantu. Kami awal-awal pandemi, ka;au dihadai sendiri benar-benar saat itu tidak sanggup. Dan, saat ini tingkat efisiensi sudah 30-40 persen dari sebelum pandemi,” tambahnya.
Di tempat yang sama, CFO CMRY, Bharat Joshi juga mengutarakan hal yang tajjauh beda dengan ENAK. Kata dia, salah satu kunci daya tahan perusahaan familiar dengan Cimory ini adalah berkat hubungan yang baik dengan para suplier, kendati saat ini situasinya juga belum pulih seperti yang ia harapkan.
Bahkan, cerita dia, di tengah pandemic yang berkecambuk itu membuat harga banyak bahan baku melonjak tinggi. Termasuk bahan baku produk Cimory. Hingga saat itu sempat terlintas ingin menaikkan harga produknya. Namun akhirnya, jajaran direksi tetap bertekad untuk tidak akan menaikan harga produk.
“Kami para direksi berpikir jangka panjang. Kalau menaikkan harga produk ini kan solusi jangka pendek saja. Apalagi memang cashflow perusahaan juga masih kuat,” cerita Bharat.
Untuk itu, ke depan perseroan mengaku optimistis terhadap prospek bisnis Cimory, mengingat angka konsumsi susu masyarakat Indonesia yang masih jauh di bawah Malaysia dan Singapura.
Berdasarkan data BPS, untuk tahun 2020, jumlah konsumsi susu di masyarakat masih di angka 16,27 kg per kapita per tahun. Sementara Malaysia sebesar 36,20 kg per kapita per tahun dan Singapura 50 kg per kapita per tahun.
Optimisme dia juga dipicu oleh kondisi SDM di perusahaannya yang tak kalah dari SDM perusahaan multinasional. “Dulu mungkin SDM kita kalah jauh dengan multinasional. Tapi saat ini kami lihat mereka sudah jauh lebih mempunyai skill yang memadai dan mampu berpikir strategis dengan cepat,” ungkap dia.
“Ini kami buktikan, kami mampu bertahan di tengah situasi sulit, tapi ternyata mampu dengan cepat mengambil keputusan di saat perusahaan multi nasional masih berpikir ulang,” imbuhnya.
Selanjutnya, menurut Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Sigit Priawan Djoko Soetono, salah satu strategi perseroan dalam menjawab tantangan masa pandemi adalah efisiensi serta dengan strategi melibatkan banyak karyawan yang terlibat langsung dalam hal think tank. Dengan begitu banyak banyak muncul ide-ide kreatif untuk membuat perusahaan tetap agile.
Padahal di tengah pandemi itu, sector transportasi seperti Blue Bird sangat terdampak. Hal itu pun diakuinya. Namun di tengah kesulitan itu, pihaknya tidak melakukan pengurangan karyawan. “Saat itu kami mengalami kesulitan, untungnya renegosiasi kami juga bisa diterima. Sehingga kendati triwulan I (2022) sempet bingung, mesti dilakukan cutting cost, tapi kita nggak ada pengurangan (karyawan,” jelas Sigit dengan mengimbuhkan, hubungan dengan suplier juga tetap tidak bisa diremehkan.
Lebih jauh dia menegaskan, selama pandemi itu, perseroan mengakui muncul ide-ide baru sehingga perusahaannya bisa melihat peluang-peluang baru pula. Misal bisnis B to B menjadi peluang baru karena ternyata banyak perusahaan yang tidak bersedia memelihara aset kendaraan dan memilih sewa, serta inovasi pengembangan bisnis ke sector logistic.
Terkait soal kebijakan green economy, Blue Bird sudah berkomitmen terhadap kebijakan pengurangan carbon. Yakni selain akan memperbanyak penggunaan bahan bakar CNG juga ke depan bakal memperbanyak armada kendaraan listrik. Meskipun, diakuinya, untuk beralik ke kendaraan listrik ini mesti dipikirkan ekosistem dan sarana penunjang lain. Seperti depresiasi kendaraan dan prasarana lainnya.
“Tapi memang kendaraan listrik ini bisa menghemat konsumsi energi 70-80% dan sparepart juga hingga 50%. Cuma memang EV (Electric Vehicle -kendaraan listrik) harga kendaraan masih tergolong mahal,” pungkas dia.
Untuk diketahui, kinerja keuangan ketiga emiten tersebut hingga paruh pertama 2022 ini sangat positif. Emiten yang mengelola kafe Monsieur Spoon ini berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp42,9 miliar atau meroket naik dibandingkan dengan semester-I 2021 yang masih minus Rp4,6 miliar. Naiknya laba bersih didorong pertumbuhan pendapatan ENAK sebesar 56% menjadi Rp625 miliar pada semester I-2022 dibandingkan priode yang sama tahun lalu sebesar Rp400,3 miliar.
Adapun kinerja CMRY kian menterang. Per akhir Juni 2022 lalu, Cimory berhasil mengantongi penjualan bersih senilai Rp3,13 triliun atau melejit 98,1% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp1,58 triliun. Dengan laba bersih di semester I-2022 mencapai Rp581,1 miliar, melonjak 58,1% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 367,5 miliar.
Blue Bird berhasil membukukan pendapatan bersih mencapai Rp 1,54 triliun. Pendapatan ini melonjak 48 persen dari Rp 1,04 triliun di semester 1 2021. Begitu juga dengan laba bersih BIRD tercatat Rp 146,18 miliar di semester I 2022. Capaian ini berbanding terbalik dengan catatan semester I 2021 yang membukukan rugi bersih sebesar Rp 30,13 miliar.
FOTO: Istimewa
