Jakarta, TopBusiness – Kinerja keuangan PT Kimia Farma Tbk di sepanjang semester I-2022 sempat mengalami perfroma negative. Namun begitu, di awal semester kedua tahun ini, tren perbaikan sudah mulai terasa. Dengan beberapa strategi, pihak manajemen pun yakin hingga akhir tahun bisa berbalik membaik.
Menurut Direktur Utama David Utama, Kimia Farma adalah perusahaan Healthcare terintegrasi terbesar di Indonesia. Kehadirannya itu secara end-to-end memungkinkan Kimia Farma untuk menangkap peluang melalui seluruh value chain-nya dan menyediakan best in-class customer experience.
Untuk itu, pihaknya akan mengusung strategi operational excellence untuk menggenjot kinerja keuangan. “Jadi posisi Kimia Farma itu adalah sebagai pemain besar di industri farmasi, sehingga kami harus berfokus pada aspek operational excellence. Ketika itu bisa dilakukan, kinerja kami pasti bakal tumbuh,” tegas David di acara Media Gathering dan kunjungan pabrik di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (3/10/2022).
Apalagi memang tren di awal semester kedua ini sudah membaik, secara month to month (mtm) atau bulan ke bulan juga sudah positif. “Kinerja per month dari Juli itu sudah membaik dengan operasional yang berbeda. Makanya kami tak kahwatir, karena dari bulan Juli ke Agustus, Agustus ke September, cashflow kami sudah positif nilainya,” sambung David.
Untuk diketahui, hingga akhir Juni 2022, pendapatan KAEF anjlok 20,4% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 4,4 triliun pada semester I-2022. Hal itu membuat anggota dari Holding BUMN Farmasi di Indonesia itu menderita kerugian bersih sebesar Rp205,12 miliar, berbanding terbalik dengan realisasi semester I-2021 di mana perusahaan masih mampu meraih laba bersih Rp 57,6 miliar.
Disebutkan David, kondisi pasar farmasi cukup berbeda antara tahun 2022 dan 2021. Tahun lalu, permintaan produk farmasi KAEF sangat dipengaruhi oleh pandemi Covid-19. Perseroan juga banyak terlibat dalam program-program pemerintah terkait penanganan pandemi.

“Untuk kinerja tahun ini fokus kami adalah opesional. Dan kinerja keuangan yang masih rugi itu, nomor satu dari sisi market karena adanya Covid. Maka kami fokus ke operasional excellent,” jelasnya.
“Dengan kondisi itu, bagi kami, penurunan yang terjadi di semester satu kemarin hanya bersifat sementara,” imbuh dia lagi.
Sehingga menurutnya, sebagai pemain besar di farmasi tersebut, isu utama bagi Kimia Farma saat ini bukanlah terkait kinerja, melainkan bagaimana perusahaan ini memiliki keunggulan operasional yang mumpuni dan sesuai standar yang ditetapkan.
Sebagai informasi, KAEF mengelola bisnis farmasi yang terintegrasi dari hulu sampai hilir dengan jaringan yang menjangkau seluruh pelosok Indonesia. Saat ini, KAEF memiliki 10 pabrik manufaktur pembuatan obat, 48 unit pusat distribusi, 1.187 unit apotek, 410 unit klinik farmasi, dan 72 laboratorium diagnostik.
Pacu Ekspor
Dalam rangka menggenjot kinerja, Kimia Farma juga terus melakukan strategi ekspor, salah satunya ke Korea Selatan melalui anak usahanya, PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP). KFSP ini merupakan perusahaan patungan dengan investor Korsel. Dan mereka mengemban amanah dari pemerintah untuk memproduksi bahan baku obat (BBO).
KFSP sendiri sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi BBO. Direktur Utama KFSP, Pamian Siregar menyebut, pabriknya yang di kawasan Cikarang ini ada dua tempat produksi, yaitu pabrik produksi khusus iodine dan multipurpose.
“Untuk produksi iodine per tahunnya bisa mencapai 150 ton. Kalau yang multi purpose ini, ada di kisaran 70-100 ton per tahunnya,” jelas dia, di lokasi yang sama.
Untuk produksi iodine sebanyak 150 ton per tahun, dengan 100 tonnya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, sedangkan sisanya diekspor ke pasar Negeri Gingseng itu.
Sementara itu, jumlah industri obat di Indonesia yang membutuhkan BBO berjumlah 240 industri. Oleh sebab itu, angka impor BBO masih tinggi mengingat perusahaan lokal yang memproduksi BBO hanya KFSP.
Dan untuk menggenjot kinerja ke depan, tahun ini pihaknya bakal berinvestasi sebesar Rp600 miliar. Kondisi ini diharapkan mampu membantu perkembangan industri BBO dalam negeri ke depannya.
Diimbuhkan David, pihaknya juga memiliki Iodium Crude Mining yang telah mendukung sebagian kebutuhan produksi BBO dalam negeri. “Kimia Farma memiliki Iodium Crude Mining, satu-satunya di Indonesia. Yang mana sebagian kita masih impor kdari China dan India, sebagian lagi sudah (diproduksi) dari KFSP,” beber David.
FOTO: Istimewa
