Jakarta, TopBusiness – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, ada tiga cara yang bisa dilakukan pemerintah pada sisa kuartal IV ini guna mencapai pertumbuhan di atas 5 persen tahun 2022.
Pertama, mempercepat belanja modal dan belanja barang, dimana hingga Oktober 2022 realisasi belanja modal baru mencapai sekitar 66,83 persen dan belanja barang 66,44 persen.
“Saya kira perlu ada terobosan yang cukup strategis agar memang dengan waktu yang sangat terbatas, yakni dua bulan, semua belanja itu bisa diselesaikan,” ujar Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad dalam sebuah diskusi di Jakarta, seperti dikutip, Rabu (9/11/2022).
Jika tidak dilakukan terobosan, menurut Tauhid, sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) yang saat ini cukup besar tidak akan berarti apa-apa, padahal banyak masyarakat yang membutuhkan.
Cara kedua, lanjut Tauhid adalah penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia secara moderat. Menurutnya, selama ini memang sudah ada penyesuaian namun masih lambat dalam merespon kondisi yang terjadi.
Ketiga, kata dia, yaitu merespon perlambatan ekonomi pada kuartal akhir lewat penguatan pasar domestik. “Khususnya bagi produk-produk dalam negeri yang berdaya saing di pasar global dan mempercepat industri subtitusi impor,” jelas Tauhid.
Indef sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada keseluruhan 2022 sebesar 5,1 persen year on year (yoy). Angka itu lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5 persen yoy.
“Kami mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi kami menjadi sedikit lebih optimis. Meski masih di bawah pemerintah yang ada di level 5,2 persen yoy,” ucap dia.
Walau pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2022 lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,45 persen yoy, Tauhid menyatakan, terdapat potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2022 menjadi 5,3 persen yoy. Perlambatan itu disebabkan oleh peningkatan inflasi yang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya.
