Jakarta, TopBusiness – Terhitung sejang Juli 2022 lalu PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu (Bank Bengkulu) dipimpin oleh seorang direktur utama baru. Adalah Ahmad Irfan, seorang yang tidak asing lagi di industri perbankan yang juga mantan Direktur Utama Bank BJB, yang merupakan salah satu bank pembangunan daerah besar di Tanah Air.
Mendapat kepercayaan untuk menjadi orang nomor satu di Bank Bengkulu, Ahmad Irfan langsung tancap gas. Pasalnya, Ahmad Irfan diberi kepercayaan penuh untuk mengubah Bank Bengkulu, layaknya seperti Bank BJB yang menjadi besar.
“Permasalahan pertama di sini kan modal. Ya udah kalau ini saya akan bawa (Bank Bengkulu) ke arah digital banking. Jadi, kita bangun bank ini dengan teman-teman yang berbasis target. Jadi, polanya yang kita ubah,” ujarnya pada sesi Penjurian TOP BUMD Awards 2023 yang digelar Majalah TopBusiness, di Jakarta, Senin (20/2/2023) lalu.
Irfan tak menampik bahwasanya dalam waktu yang masih relatif baru, dirinya tentu belum berani untuk mengubah hal yang terlalu strategis. Jadi, untuk visi dan misi perusahaan masih sama seperti sebelumnya.
Sebagaimana diketahui, Bank Bengkulu memiliki visi menjadikan Bank yang berkinerja tinggi dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Adapun misi yang dicanangkan antara lain:
- Mengelola dan mengembangkan Bank secara professional, sehat, dinamis dan kompetitif sehingga memberi konstribusi kepada Pemegang Saham, Pengelola dan Masyarakat.
- Penggerak pembangunan dan sebagai tuan rumah di daerah sendiri dengan senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik, simpatik, ramah serta memuaskan kepada masyarakat.
”Jadi, kalau saya lihat visi dan misinya masih okelah. Tapi yang saya ubah mindset. Mindset pertama yang saya tularkan ke teman-teman, kalau saya ucapkan selamat pagi, powernya harus pagi, walaupun di sore hari saya ucapkan selamat pagi. Saya pengen power teman-teman itu pagi, pagi, pagi. Semangatnya pagi hari. Kalau semangatnya pagi hari kan gongnya kencang,” tandasnya.
Selanjutnya doktrin yang kedua yang ditularkan Irfan di Bank Bengkulu adalah laba. Tidak main-main, di bawah kepemimpinannya, Bank Bengkulu menargetkan laba tinggi.
“Yang kedua, saya tularkan juga (apabila disapa) apa kabar? Jawabannya sukses luar biasa, 130%! 130 persen, itu saya minta labanya. Doktrin saya itu saja, labanya 130%,” ucapnya.
Tidak berhenti sampai di situ, ada empat kata yang juga didorong Irfan di Bank Bengkulu, yakni Enjoy, Untung, Aman, dan Selamat. ”Jangan dipisahkan Si Enjoy, Si Untung, Si Aman, dan Selamat tadi. Itu bahasanya nyeleneh tapi gampang dimengerti. Maksud saya itu, Enjoy, Untung, Aman dan Selamat itu kualitas. Jadi, capai target 130% dengan kualitas yang bagus,” ujar Irfan.
“Enjoy, teman-teman harus kerja enjoy. Berarti dia harus menguasai ilmunya. Kalau dia di bagian kredit kan ilmu perkreditan, filosofi kredit dia harus paham. Terus kemudian Untung, orientasi kita ini untung. Jadi, yang support pun mensupport yang untung. Jadi, orientasi kita laba 130% tadi. Aman, kita pakai SOP. Jadi dia bekerja aman untuk diri dia, aman juga sampai ke direksi. Baru selamat, tidak dipanggil polisi, jaksa dan KPK, di akhirat. Itulah (yang) kita ubah,” jelasnya.
Menuju Digital dengan Kolaborasi
Ada tiga hal yang menjadi concern Bank Bengkulu saat ini, yakni perbaikan fondasi, peningkatan daya saing, dan digital. Itu seperti dikatakan Irfan dalam paparannya. Bicara mengenai perbankan digital saat ini sepertinya memang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal itu diamini oleh Irfan yang juga diketahui telah mengeluarkan buku berjudul ‘The Irfan Model’ itu.
“Keunikan digital ini, enggak mungkin lagi (diabaikan), di sana memang masih banyak yang konvesional, tetapi yang milenial juga lebih banyak. Jadi, Gen X ini sudah mulai berkurang. Sehingga mau tak mau kita lari ke arah digital banking pelayanannya,” kata Irfan.
Sebagai langkah awal menuju digital yang dinilai membutuhkan modal yang cukup besar, Bank Bengkulu sudah melakukan sejumlah gebrakan, di antaranya dengan melakukan kolaborasi dengan bank lain. “Sehingga untuk meningkatkan gerakan kita ke depan, ya kita harus berkolaborasi. Kita sudah lakukan (gercep), bersinergi dengan BJB. Jadi, kita langsung melakukan MoU, terus kemudian kita bersinergi. Yang BJB punya, layanan digitalnya, electronic banking-nya kita pakai, bersinergi saja,” tandasnya.
Selain dengan BJB, Bank Bengkulu juga menjalin kolaborasi dengan Bank BNI dalam hal penerbitan kartu kredit, lantaran banyaknya permintaan akan hal tersebut.
“Sekarang kan permintaan paling banyak itu di Pemrov dan Pemkab itu KKPD (Kartu Kredit Pemerintah Daerah), sehingga untuk mempercepat akses layanan mereka ya kita enggak mau ketinggalan, saya bersinergi dan kolaborasi dengan BNI,” ujarnya.
Sedikit menyinggung soal ‘The Irfan Model’ yang disebut sebagai konsep bisnis Bank Pembangunan Seluruh Indonesia yang juga dianalogikan seperti konsep pesawat terbang.
“Pesawat terbang itu kan kalau mau terbang itu semua performanya mesti kualitas tinggi, harus terpenuhi semua SOP-nya, termasuk baut-bautnya tidak boleh kendur, dan hal kecil lainnya. Jadi, di situ konsepnya,” ujar Irfan.
Selain itu, kenapa konsepnya diibaratkan pesawat terbang bukan yang lain, seperti kereta api, hal ini juga dilihat dari sisi kecepatannya untuk sampai ke tempat tujuan.
“(Jadi) kenapa bukan kereta api. Karena pesawat terbang kan cepat daya jangkaunya. Jadi visi dan misi itu, bisa cepat bergerak, kalau sudah kondisinya sudah ideal terbang, tinggal ngegas saja, sampai ke tujuan, ini kan bisa lebih cepat daripada kereta api atau kapal laut. Jadi, itu yang saya tekankan,” pungkas Irfan.
Penulis: Fauzi
