TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Lancarkan Pasokan Pangan, Pasar Jaya Turut Sukseskan Pengendalian Inflasi DKI

Busthomi
26 March 2023 | 14:22
rubrik: BUMD, Event
Lancarkan Pasokan Pangan, Pasar Jaya Turut Sukseskan Pengendalian Inflasi DKI

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki peran penting di Ibu Kota ini. Salah satunya adalah turut mengendalikan laju inflasi di DKI. Sebab tugas utamanya adalah, antar lain, menjaga stabilitas pasokan.

Seperti disebutkan Anugrah Esa, Direktur Perkulakan dan Retail Pasar Jaya, Perusahaan Umum Daerah Pasar Jaya, menurut Perda 3 tahun 2018 tentang Perumda Pasar Jaya, perusahaan ini merupakan salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

“Di aturan itu disebutkan, mempunyai tujuan antara lain: ‘Berperan aktif dalam membantu tersedianya pasokan, stabilitas dan keterjangkauan harga barang kebutuhan pokok di Daerah’,” tutur Esa dalam proses penjurian TOP BUMD Awards yang digelar Majalah Top Business, di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Dalam penjurian ini, Esa didampingi oleh Imam Kurniawan selaku Kepala Divisi Marketing dan Support, serta Agus Lamun Manager Humas Pasar Jaya.

Menurut Esa, sejak 2015, peran Pasar Jaya sudah mulai penambahan tgas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya termasuk pengendalian inflasi. Makanya, Pasar Jaya ini konsisten menjaga ketahanan pangan. Apalagi, laju inflasi di DKI memang turut berpengaruh besar terhadap inflasi nasional. Makanya bobot inflasi Jakarta terhadap nasional juga sangat besar mencapai 27,33%.

Namun masalahnya, selama ini banyak permasalahan pangan dan distribusi pangan di DKI yang menyokg laju inflasi kian tinggi. Permasalahan tersebut, seperti, pertama, belum efektifnya rantai pasokan pangan dari hulu ke hilir.

Kedua, sebanyak 98% pasokan pangan di DKI Jakarta tergantung dari daerah produsen. Ketiga, keterbatasan daya dukung lahan pertanian, peternakan dan lingkungan dalam menyuplai kebutuhan pokok penduduk DKI Jakarta.

“Dan keempat, masalah eningkatan jumlah penduduk akan mendorong peningkatan kebutuhan pangan. Makanya, anggaran pangan itu tinggi di DKI kurang lebih Rp1,3 triliun. Karena DKI itu ingin memastikan pangan ini secara luas. Makanya Pasar Jaya hadir di dalamnya. Dan sejauh ini berhasil. Sebab kita ini bukan penghasil pangan, tapi laju inflasinya masih di bawah daerah lain,” terang dia.

BACA JUGA:   Performa Bisnis Melambung, BPR Pekanbaru Madani Siap Terbang Tinggi

Peran Pasar Jaya

Dalam perannya untuk mengendalikan laju inflasi, kontribusi Pasar Jaya memang sangat besar. Maka dari itu, dengan turut mengendalikan harga dan pasokan pangan yang ada tersebut, PD Pasar Jaya ini kerap kali berkolaborasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta.

Selain itu, PD Pasar Jaya juga konsisten dalam menjaga pasokan pangan yang merupakan kebutuhan pangan di DKI Jakarta. Tercatat, dari 12 item pangan yang merupakan kebutuhan pangan di DKI Jakarta, ada beberapa pangan yang lokasi stoknya itu ada di PD Pasar Jaya. Dan pangan itu sangat berkontribusi terhadap laju inflasi.

“Seperti sayur mayur untuk kebutuhan per harinya sebanya 1.177 ton, lokasi stokny di kami dan tingkat ketergantungannya 98%. Dan juga untuk komoditas cabai dan bawang merah itu kebutuhan per harinya masing-masing mencapai 120 ton. Dua-duanya stonya di Pasar Jaya dan tingkat ketergantungannya mencapai 100%,” jelas Esa.

Sejauh ini dalam menjaga dan mengendalikan laju inflasi DKI itu, kata dia, pihaknya sudah mengandalkan sitem informasi teknologi (IT) dalam satu aplikasi yang disebut Informasi Pangan Jakarta (IPJ), juga ada Sistem Infomasi Ketahanan Pangan (SIKP), serta JAKI.

“Aplikasi IPJ ini ada sejak 2015 dan kemudian sejak 2017 pengelolaannya pindah ke Pasar Jaya, yang semula ada di Balaikota. Jadi kami ini di aplikasi itu memantau sebanyak 37 komoditi dengan 48 pasar yang menjadi titik pantau. Sehingga ketika ada kenaikan harga yang tak wajar, kami bisa memantau dan mengendalikannya,” terang dia lagi.

Beberapa harga komoditi yang mengalami fluktuasi harga pangan, termasuk juga pasokan pangan, yang semuanya terpantau dalam aplikasi tersebut. Antara lain, cabai merah keriting, cabai merah besar, cabai rawit merah, cabai rawit hijau, bawang merah, bawang putih, minyak goring (curah/kuning), daging sapi has (paha belakang), ayam broiler, gula pasir, telur ayam ras, tepung terigu, dan komoditi lainnya.

BACA JUGA:   FOTO - TSG Global dan 10 Perusahaan Indonesia

Selain itu, dia melanjutkan, Pasar Jaya berperan aktif dalam menggelar subsidi pangan murah. Komoditi ini disosialisaikan melalui DKPKP, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanaman, Dinas Kebersihan, DInas PU, Disnaker, DPPAPP, Dinas Sosial, dan DPRKP. Dan yang boleh mengambil ini adalah, peserta KJP, PHL/PPSU, penghuni Rusun, guru honorer, kader PKK, lansia, disabilitas, kartu pekerja,

“Beberapa komoditi pangan tersebut adalah, beras dengan kualitas premium seharga Rp30 ribu per sak 5 kg 1 sak/bulan, daging sapi Rp35.000 1 kg/bulan, daging ayam Rp8.000 1 kg/bulan, ikan kembung Rp13.000 1 kg isi 6-7 ekor 1 kg/bulan, telur ayam Rp10.000 per tray (isi 15 butir) 1 tray/bulan, susu UHT (200 ML) Rp30.000 per karton isi 24 pak, 1 karton/bulan. Jadi ada sebanyak 1,2 juta pengguna untuk mengambil pangan murah ini,” jelasnya.

Selanjutnya, ada juga Jakgrosir, konsep ini dipergunakan sebagai “kapal induk” dari konsep yang lainnya, sekaligus melayani pedagang pasar. Ada juga Jakmart, yakni konsep toko modern dengan menyediakan produk kebutuhan sehari-hari.

Juga ada Mini DC Pasar Jaya, yaitu berupa konsep grosir kecil penyedia barang kebutuhan pedagang di pasar tematik.

“Kami juga punya Controlled Atmosphere Storage (CAS) adalah kombinasi antara teknologi pendingin (Refrigerator) dengan teknologi pengkondisian udara yang mengontrol kadar kelembaban, gas, O2, CO2, N2, dan Ethylene (C2H4). Jadi CAS ini menahan laju pematangan/pembusukan untuk membuat produk yang disimpan dalam keadaan ‘Mati Suri’,” jelasnya.

“Dan CAS ini secara teknis dapat digunakan untuk menyimpan berbagai jenis produk holtikultura dengan pengaturan yang berbeda-beda, tetapi saat ini masih difokuskan pada Bawang Merah,” beber dia. “Selain CAS, kami juga ada Cold Storage berupa penyimpanan produk fresh: seperti daging sapi, daging ayam dan komoditas lainnya. Suhu yang berkisar antara -15 ℃ – 20 ℃ sampai (Frozen) dan 2 ℃ – 4℃ untuk Chilled. Dengan kapasitas penampungan sebanyak 8 sampai 20 ton/lokasi.”

BACA JUGA:   Catatkan Kinerja Positif, Perumda BPR Khatulistiwa Konsisten Setor PAD ke Pemda

“Jadi, distribusi pangan yang dilakukan secara sistemik ini berdampak kepada penurunan angka inflasi di DKI Jakarta. Plus, juga perlu lebih banyak infrastruktur penyimpanan pangan (CAS dan Cold Storage) untuk ketahanan pangan di DKI Jakarta. Makanya, kami terus melakukan Kerja sama Antar Daerah (KAD) dan ini diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan di DKI Jakarta,” pungkas dia.

Tags: perumda pasar jayaTOP BUMD Awards 2023
Previous Post

Filtrasi Air Gambut, Program CSR Unggulan KPI RU II Sungai Pakning

Next Post

Supermicro Pasang Target Jadi Pembuat Server Senilai US$ 10 Miliar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR